mike whitneyBerikut ini bagian kedua dari analisis Mike Whitney. (Baca bagian pertama)

Kini, bacalah apa yang diungkapkan Friedman, yang memperjelas apa yang sesungguhnya sedang terjadi di Irak.

“Mungkin Iran, dan komandan Pasukan Garda Revolusi Quds yang cerdik, Jenderal Qassem Suleimani, tidak benar-benar cerdas. Iran mempersenjatai Syiah Irak dengan bom khusus yang melukai dan menewaskan banyak Tentara Amerika. Iran menginginkan kita keluar [dari Irak]. Iran yang menekan Maliki untuk tidak menandatangani perjanjian dengan AS yang mengizinkan Tentara AS untuk tetap berada di Irak. Iran ingin menghegemoni kawasan regional. Nah Sulaeman, ‘benih ini untuk Anda’. Pasukan Anda telah keterlaluan di Suriah, Lebanon, dan Irak, dan kami akan pulang kembali ke rumah. Semoga harimu menyenangkan.” [(Five Principles for Iraq, Tom Freidman, New York Times)

Menarik ya? Terlepas dari benar-salah tuduhan itu, Friedman jelas mengakui bahwa Iran-lah yang keluar menjadi pemenang dalam konflik ini. Tentu saja, ini bukan akhir yang dikehendaki oleh Washington, Riyadh, dan Tel Aviv. Sehingga mereka berupaya untuk menyingkirkan al-Maliki, atau paling tidak – melemahkan kekuasaannya. Bukankah itu yang tengah terjadi? Obama sedang menodongkan pistol ke kepala Maliki dan memerintahkan bahwa ia harus menyingkir jika ingin mendapatkan bantuan dari AS. Sesungguhnya Obama, berusaha untuk memperlemah pengaruh Iran di Baghdad.

Friedman juga mencatat status perjanjian pasukan yang akan memungkinkan pasukan AS tetap berada di Irak. Al-Maliki marah dan menolak kesepakatan itu. Dan Obama, berniat untuk membalikkan keputusan Maliki dengan cara apapun. Memutar lengan, melanggar kaki, dan semua orang tahu itu.

Untuk memahami apa yang terjadi hari ini di Irak, kita wajib memahami sejarah. Pada tahun 2002, Pemerintahan Bush menugaskan Rand Corporation “untuk mengembangkan shaping strategy yang bertujuan untuk menenangkan populasi Muslim di wilayah dimana AS memiliki kepentingan komersial atau strategis. Rencana ini disebut “Strategi AS di Dunia Muslim setelah 9-11.” Rencana ini adalah: menyamakan persepsi antara kebijakan AS dengan kebijakan yang diambil oleh kelompok-kelompok Syiah yang bercokol di dalam pemerintahan. Jika strategi ini berhasil, maka AS menganggap bahwa pihaknya telah memiliki tameng dalam menghadang gerakan Islam radikal dan menjamin kestabilan posisi AS di Timur Tengah.

Tapi rencana ini merupakan kesalahan yang fatal. Dengan menempatkan diri di belakang kelompok Syiah, AS telah memicu pemberontakan dari kelompok Sunni. Terbukti dengan adanya serangan hingga 100 kali pada AS per hari. Akhirnya, AS harus membalas serangan tersebut yang lantas menewaskan puluhan ribu Muslim Sunni dan insfatruktur negara pun ambruk akibat bentrokan.

Dan kini, kebijakan AS sudah jauh berubah. Dengan kamuflase “lepas tangan terhadap ISIS”, merupakan isyarat bahwa Obama telah melupakan strategi di atas. Kini, mereka berbalik membantu kelompok-kelompok pemberontak dari aliran Islam radikal guna menumbangkan kekuasaan Assad di Suriah, melemahkan Hizbullah, dan mereduksi kekuatan Iran di kawasan tersebut.

Apa yang terjadi di Irak saat ini telah diprediksi pada tahun 2007, oleh Seymour Hersh dalam artikel yang berjudul “The Redirection.” Ia merujuk pada seorang penulis yaitu Tony Cartalucci, dan mengutipnya.

Dokumen “The Redirection” berisi tentang niat AS, Saudi, dan Israel untuk membuat dan menyebarkan “ekstrimis sektarian” di kawasan untuk menghadapi Iran, Suriah, dan Hizbullah di Lebanon. Hersh mencatat, “ekstrimis sekterian” ini terkait dengan Al-Qaeda, atau bisa juga merupakan Al-Qaeda itu sendiri. Saat ISIS bergerak menuju Baghdad adalah puncak dari konspirasi itu. Militan ini tetap mengancam keberadaan Pemerintah Suriah, mereka berusaha membersihkan pasukan pro-Iran di Irak, dan bahkan mengancam Iran sendiri. Al-Qaeda dari markasnya mulai membangun sebuah jembatan dengan keterlibatan NATO – yang membentang dari Turki, Irak bagian utara, dan sampai ke perbatasan Iran. Inilah de facto dari invasi Irak oleh Barat. Hanya saja, kali ini invasi Barat tanpa melibatkan pasukan Barat itu sendiri. [Invasi Terselubung AS ke Irak, Tony Cartalucci, Information Clearinghouse]

Jadi, sekarang kita sampai kepada pokok persoalan, bukan? Sekarang kita mampu mengidentifikasi kebijakan-kebijakan AS dalam krisis Irak, yang ternyata bertujuan untuk menghancurkan pengaruh Iran atas Irak. Dan bagaimana AS melakukannya?

Nah, mereka kembali menggunakan teman-teman lama mereka dari Partai Baath. Sepertinya rencana itu akan berhasil. Tapi mereka juga tetap menambahkan kelompok-kelompok jihadis agar skenarionya terlihat meyakinkan.

Lalu, apakah artinya Obama secara aktif mendukung ISIS?

Tidak, belum tentu. Tapi harap dicatat, ISIS sudah terhubung dengan intelejen lainnya, dan bahkan tidak butuh dukungan langsung dari AS. Banyak beredar informasi bahwa ISIS menerima dana dari Arab Saudi dan Qatar, dan keduanya pun adalah sekutu AS. Perhatikan berita berikut ini:

“Melalui sekutu seperti Arab Saudi dan Qatar, Barat telah mendukung kelompok militan – yang kini disebut ISIS”. (Daily Telegraph, 12 Juni 2014)

Yang penting bagi Obama adalah: tujuan ISIS dan kepentingan AS bersesuaian atau sejalan. Keduanya menggunakan klaim “Sunni” untuk mendapatkan kekuasaan politik yang lebih besar di Irak. Keduanya ingin mereduksi pengaruh Iran di Irak, dan yang terakhir, keduanya mendukung rencana memecah Irak menjadi beberapa negara, seperti yang digagas Dewan Hubungan Luar Negeri AS, Leslie H. Gelb.

Menurut Gelb, satu-satunya cara untuk memperbaiki kekacauan di Irak hanyalah dengan membagi negara itu menjadi tiga negara, yaitu negara Kurdi di utara, negara Sunni di bagian tengah, dan negara Syiah di bagian selatan.

Inilah sebab dari kebijakan Obama yang tetap tidak menyerang ISIS kendati militan ini berada dalam radius 50 km dari Baghdad. AS justru memanfaatkan keadaan ini.

Jadi kesimpulannya adalah:

Apakah pemerintah AS mendukung atau tidak mendukung teroris tergantung situasi kondisi?

Benar, AS mendukung atau tidak mendukung tergantung kepentingannya terhadap situasi di kawasan tersebut.

Apakah ada badan intelejen asing di Suriah untuk menyediakan kebutuhan senjata dan logistik dari teroris?

Ya, ada intelejen yang mensuplai alur senjata dan logistik untuk teroris.

Apakah ada CIA [di kawasan]?

Ya, ada.

Apakah pemerintahan Obama mengisyaratkan bahwa mereka ingin menyingkirkan Maliki atau melemahkan kekuasaannya?

Ya.

Apakah ISIS akan menyerang Baghdad?

Tidak, namun saya hanya menebak. Tapi saya harap kesepakatan telah terjadi antara pihak Obama dengan petinggi Partai Baath.

Akankah Suriah dan Irak hendak dipecah?

Ya.

Apakah ISIS diciptakan oleh CIA?

Tidak. Menurut Ziad Fadel, “ISIS adalah ciptaan Bandar bin Sultan.”

Apakah ISIS menerima perintah dari Washington atau CIA?

Sepertinya tidak, meskipun tindakan mereka bersesuaian dengan cita-cita AS.

Apakah keengganan untuk melancarkan serangan terhadap ISIS, menunjukkan bahwa Obama ingin mengurangi kekuatan Iran di Irak, lalu mengubah peta Timur Tengah, dan menciptakan daerah-daerah yang hanya dipimpin oleh panglima perang atau pemimpin suku?

Ya, ya dan ya, begitulah adanya.

*Mike Whitney adalah kolumnis yang aktif menentang kebijakan perang AS, tinggal di Washington. Artikel ini kami terjemahkan dari http://www.counterpunch.org/2014/06/18/the-isis-fiasco-its-really-an-attack-on-iran/

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL