husein alkafOleh: Husein Muhammad Alkaf*

Dihasilkannya kesepakatan dalam putaran perundingan nuklir Iran di Lausanne, Swiss (2/4/2015) telah menempatkan posisi Iran di atas angin. Di meja yang sama, para negosiator muslim dari Iran berunding dengan enam kekuatan besar dunia, mempertahankan hak mereka untuk memanfaatkan energi nuklir dengan tujuan damai. Iran, sebuah negara mayoritas muslim berpenduduk 70 juta jiwa, mampu membuat negara-negara superpower berunding alot selama 18 bulan. Iran mampu bertahan mengatakan “tidak” di hadapan tekanan besar mereka yang ingin menghentikan perkembangan sains dan teknologinya yang sedemikian pesat.

Tak heran bila Presiden Rouhani berpidato, “Hari ini adalah hari yang akan lestari dalam ingatan sejarah bangsa Iran, hari yang menurut saya adalah penghargaan dan apresiasi bagi bangsa Iran yang besar. Dengan solid dan resistensinya rakyat Iran telah menjejakkan satu lagi langkah di jalur peraihan cita-cita tinggi nasionalnya.”

Para petinggi Iran, termasuk Pemimpin spritualnya, Ayatullah Ali Khamenei, telah menegaskan berkali-kali bahwa program nuklirnya untuk tujuan-tujuan non-militer. Lebih dari itu, ditegaskan pula bahwa dalam pandangan agama Islam, hukum pengembangan dan pembuatan senjata nuklir itu haram, sehingga tidak mungkin Republik Islam Iran (RII) membuat senjata nuklir.

Sejak tahun 1979, tepatnya sejak berhasilnya revolusi Islam menggulingkan rezim Syah Pahlevi yang bersekutu erat dengan AS, Iran telah diembargo oleh Amerika sampai saat ini. Artinya embargo telah berlangsung selama tiga puluh enam tahun. Namun, apa yang terjadi? Harus diakui oleh dunia internasional bahwa RII menjadi negara yang kuat dari sisi militer non-nuklir dan maju dengan pesat dalam bidang sains dan teknologi.

Di antaranya, RII sejak tahun 2007 hingga kini berhasil menempati posisi tinggi di bidang teknologi nano di kawasan Timur Tengah. Ketua Dewan Pengembangan Nanoteknologi Iran, Saeed Sarkar mengungkapkan peningkatan ekspor RII di bidang teknologi nano ke luar negeri. Dia mengatakan, volume ekspor RII di bidang teknologi nano meningkat tajam, dan akan mencapai nilai miliaran dolar di masa mendatang.

Pada tahun 2005, RII menempati peringkat ke-35 di bidang produksi ilmu pengetahuan untuk kategori teknologi nano di dunia.Tapi kemudian posisi tersebut terus diperbaiki. Posisi RII di bidang teknologi nano terus melesat di peringkat 31 di tahun 2006. Kemudian, di tahun 2010, Iran bertengger di posisi ke-10, dan akhirnya kini menempati posisi 7.

Jurnal Newscientist edisi Kamis (18/2) memuat hasil penelitian Science-Metrix, sebuah perusahaan di Motreal, Kanada yang melakukan evaluasi atas perkembangan dan produk ilmu pengetahuan serta teknologi di berbagai negara. Dalam laporan hasil penelitiannya, Science-Metrix menyebutkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan di negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan negara-negara lainnya di dunia.

Laporan yang ditulis Eric Archambault itu menyebutkan, “Iran menunjukkan pertumbuhan yang paling cepat di dunia dalam bidang ilmu pengetahuan. Asia terus mengejar, bahkan lebih cepat dari yang kami pekirakan sebelumnya. Eropa mempertahankan posisinya lebih dari yang diharapkan, dan Timur Tengah adalah kawasan yang patut diperhatikan.”

Eric juga mengatakan, publikasi karya-karya ilmiah dari Iran kebanyakan tentang kimia nuklir dan tentang fisika partikel.

“Iran juga mengalami kemajuan pesat di bidang ilmu kedokteran dan pengembangan pertanian,” tulisnya.

Sebelum itu, RII juga menjadi negara pertama di Timur Tengah yang mampu mengembangbiakkan hewan ternak transgenik, seperti domba dan kambing. RII juga tercatat sebagai salah satu negara dari sedikit negara yang berhasil mengembangkan teknologi dan perangkat untuk mengkloning hewan ternak yang bisa digunakan untuk keperluan penelitian di bidang kedokteran dan untuk memproduksi zat antibodi manusia untuk menangkal penyakit. Anak domba bernama Royana dan dua sapi bernama Bonyana dan Tamina adalah hewa-hewan hasil kloning pertama di Iran.

Di bidang antariksa , RII berhasil meluncurkan satelit yang diberi nama Kavoshgar 3 ke ruang angkasa. Satelit itu membawa berbagai organisma hidup seperti tikus, dua ekor kura-kura dan cacing untuk keperluan penelitian.

Semua kemajuan yang diraih Iran inilah yang menjadi ganjalan besar dalam perundingan Iran vs Kelompok 5+1. Iran mendesakkan perjanjian bahwa pihaknya akan memberikan izin pengawasan langsung atas proyek nuklirnya, dengan imbalan, semua embargo atas Iran dicabut. Barat melihat, dalam kondisi diembargo saja, Iran sudah mampu mencapai kemajuan sains dan teknologi yang pesat. Apalagi jika embargo itu dicabut? Namun, bila Barat melanjutkan embargo, Iran tetap akan meneruskan pengembangan nuklirnya. Dengan kata lain, diembargo atau tidak diembargo, Iran akan terus maju dengan teknologi nuklir damainya.

Pada akhirnya, perundingan di Swiss menghasilkan keputusan bahwa Barat berjanji akan membatalkan seluruh embargo terhadap Iran, asal Iran juga ‘memperlambat’ proses pengayaan uraniumnya. Ini menunjukkan bahwa Barat sudah kehilangan akal, mencari cara untuk menekan Iran. Yang ditakutkan Barat adalah jika RII dibiarkan mengembangkan program nuklirnya, RII akan mandiri dalam pemenuhan kebutuhan energinya sehingga akan menjadi kekuatan baru di dunia dan sekaligus dapat mengubah peta kekuatan superpower dunia.

Lalu, bagaimana bila Barat ingkar janji? Tak masalah. Mau diembargo atau tidak, Iran akan jalan terus meraih berbagai kemajuan. Inilah untungnya jadi negara mandiri.

*penulis adalah alumnus Hauzah Ilmiyah Qom dan magister UIN Sunan Gunung Jati Bandung

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL