edy-2Oleh: Edy Burmansyah*

Tahun 2015 adalah tahun dimana Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan diimplementasikan. MEA membawa tantangan besar yang perlu dipahami oleh bangsa ini. MEA merupakan salah satu bentuk integrasi ekonomi regional, yang dibangun melalui penciptaan pasar tunggal dan basis produksi. Tujuannya untuk mendorong ASEAN menjadi kawasan yang kompetitif bagi lalulintas barang, jasa, dan modal agar dapat terhubung penuh kedalam rantai pasokan global (global supply chain).

Rantai Pasokan

Rantai pasokan adalah model produk dan bisnis yang terintegrasi dari perusahaan-perusahaan multinasional. Perusahaan-perusahaan tersebut membentuk jaringan/rantai produksi dengan melibatkan banyak perusahaan yang tersebar di banyak negara untuk mencapai efisiensi dan keuntungan maksimal. Kegiatan produksi, seperti pembuatan bahan baku, pembuatan komponen, perakitan dan penyelesaian akhir produk, disebar ke pabrik-pabrik di berbagai lokasi di dunia yang dianggap paling menguntungkan, namun proses produksi tetap dikendalikan oleh pemegang merek dari satu tempat (kantor).

Sebagai gambaran bagaimana rantai pasokan global beroperasi, kita bisa ambil contoh produk Iphone produksi Apple. Casing-nya diproduksi oleh MGM Corp asal Jepang, baterainya dibuat oleh perusahaan di Thailand, komponen memori SDRAM dan NAND dibuat perusahan-perusahaan yang berada di Batam. Selanjutnya, dirakit oleh Foxconn di China, untuk kemudian dijual di pasar Asia. Sedangkan pendistribusiannya ditangani oleh sebuah perusahaan logistik yang berbasis di Singapura. Namun semua proses tersebut tetap dikoordinasikan atau dikendalikan oleh Apple dari kantornya pusat di California, Amerika Serikat.

Pola produksi manufaktur dunia dengan model rantai pasokan tersebut, telah mengeser paradigma perdagangan: dari perdagangan barang-barang (trade of goods) menjadi perdagangan tugas-tugas (trade of tasks). Dalam trade of task, berbagai negara berpesialisasi pada tugas-tugas tertentu dari proses produksi yang terintegrasi erat dalam koordinasi bisnis, sehingga membentuk rantai nilai. Misalnya, India fokus pada industry software, sementara Singapura berspesialisasi pada jasa dan logistik. Thiland fokus pada industri perakitan dan pembuatan komponen otomotif. Sayangnya, Indonesia masih terjebak sebagai pemasok bahan mentah dan mineral, sehingga posisinya berada paling lemah dari rantai pasokan global.

Trade of task merupakan globalisasi produksi, dimana sebuah produk mulai dari konsepsi hingga manufaktur dan komersialisasinya disebar ke banyak perusahaan (out sourcing) diberbagai belahan dunia, namun tetap dikendalikan dari suatu tempat tertentu.

Proses ini mengakibatkan berkembangnya perdagangan antar perusahaan (inter-firm) maupun dalam perusahaan (intra-firm), yang ditandai fragmentasi produksi dan meningkatnya perdagangan barang-barang setengah jadi (semi-finished goods) dan komponen.Misalnya, casing Iphone yang diproduksi oleh MGM Corp di Jepang dikirim ke Foxconn Corp yang berada di China untuk kemudian dirakit menjadi produk Iphone siap pakai.

Perusahaan-perusahaan internasional pemegang merk, berkonsentrasi pada research and development (R&D) sementara pekerjaan-pekerjaan lain, seperti produksi hingga pemasaran di subkontrakan kepada perusahaan-perusahaan lain yang tersebar luas di tingkat global yang mengambil bentuk lisensi, waralaba, maupun proyek turn-key.

Turn-Key adalah model kerjasama dalam jaringan/rantai pasokan, dimana perusahaan pemegang merek tetap memegang kendali atas definisi, design dan marketing produk, sementara perusahan mitra mengerjakan/memproduksi produk sesuai arahan, design dan standar kualitas produk yang tetap perusahaan pemegang merek. Misalnya, PT. Nikoma yang berada di Tanggerang, Indonesia mengerjakan/memproduksi sepatu merek Nike, setelah mendapat kontrak dari Nike.Inc.

Lahirnya kontrak international mengubah hakekat perdagangan ke arah terbentuknya ‘poros perdagangan-investasi-jasa’ (trade-investment-service nexus), sehingga pengertian perdagangan, jasa dan investasi, kini sulit untuk dikenali lagi. Operasi turn-key, misalnya, dapat termasuk penyerahan peralatan yang dicatat sebagai ekspor barang, tetapi juga dapat dikategorikan sebagai sektor jasa. Sejumlah ahli memberi istilah sebagai perdagangan rantai pasokan (supply chain trade).

Supply chain trade mendorong korporasi-korporasi yang berbasis di negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), atau negara-negara berpendapatan tinggi yang menerima dan menjalankan prinsip ekonomi pasar bebas, yang sebagian besar merupakan negara-negara Eropa—memindahkan produksinya ke tempat yang merupakan jaringan produksi dan sumber regionalnya (regional sourcing and production networks). Misalnya, Samsung Electronic memindahkan basis produksi untuk peralatan rumah tangga dari Korea ke Vietnam, tepatnya ke Saigon Hi-Tech Park yang berjarak sekitar 15 km dari kota Ho Chi Minh.

Pola perdagangan semacam ini menjelaskan mengapa globalisasi cenderung berkembang ke arah regionalisasi. Dengan alasan yang sama, juga dapat dimengerti mengapa pembentukan MEA merupakan usaha ASEAN mengintegrasikan dirinya secara penuh kedalam rantai pasokan gobal.

Posisi Indonesia

Namun bagi Indonesia, MEA justru membawa tantangan besar. Indonesia menghadapi masalah yang serius dalam mengintegrasikan dirinya kedalam sistem rantai pasokan global. Pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun belakangan digerakkan oleh lonjakan perdagangan komoditas dan sumber daya primermembuat Indonesia terjebak dalam “perangkap komoditas”. Dengan kata lain, Indonesia hanya sebagai penyedia bahan baku belaka, yang artinya, sedikit sekali memberikan kontribusi kepada pembangunan ekonomi dalam jangka panjang.

“Perangkap komoditas” berdampak pada lambatnya industrialisasi, pembangunan, dan kedewasaan Indonesia dalam mengambil manfaat dari perkembangan pasar global. Ini dibuktikan dengan penurunan kinerja sector manufaktur Indonesia sejak pasca krisis Asia (1997-1998). Hampir semua sub-kategori manufaktur Indonesia mengalami penurunan pertumbuhan output, khususnya subsektor berbasis ekspor seperti tekstil, pakaian dan alas kaki (TCF) serta produk-produk kayu. Kalaupun terdapat kenaikan pada ekspor manufaktur, itu terbatas pada industri-industri yang berbasis sumberdaya alam, yang nilai tambahnya masih pada tingkat komoditas mentah atau setengah jadi, bukan sebagai industri pengolah.

Dengan demikian, Indonesia hanya akan menjadi sub-bagian dari rantai pasokan global, dan berada pada mata rantai terlemah yaitu sebagai pemasok bahan-bahan mentah dan komoditas pertanian (di bagian hulu) untuk industri-industri di luar (negara lain), serta menjadi pasar bagi barang-barang jadi dari industri negara lain (hilir).

Guna keluar dari “perangkap komoditas”, maka pemerintahan Jokowi harus membuat kebijakan pengetatan ekspor bahan mentah, serta memberikan berbagai bentuk stimulus dan insentif kepada pelaku usaha dalam negeri untuk mengembangkan industri olahan yang ditujukan pada pasar domestic (tahap awal), dan saat bersamaan juga menarik secara besar-besaran industri-industri pengelohan besar dunia guna menempatkan pabriknya di Indonesia, untuk kemudian perlahan-lahan melakukan transfer pengetahuan dan teknologi.

Dengan cara ini, sekurang-kurang setelah habis masa jabatannya lima tahun kedepan, Jokowi dapat melihat Indonesia yang berbeda. Indonesia yang tidak lagi menjual sumber daya alam dan tenaga kerja murahnya, tapi Indonesia yang tegak berdiri dengan industri-industrinya.(LiputanIslam.com)

*Peneliti Martapura Institute, Penulis Buku Rezim Baru ASEAN; Memahami MEA dan Rantai Pasokan Global. (Baca: Wawancara dengan Edy Burmansyah tentang subsidi BBM)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*