Syamsul Arif, Ph.D. *

Konfrontasi Negeri Mullah Iran dan Negeri Paman Sam Amerika semakin memanas dan mencapai titik klimaks dalam beberapa waktu terakhir. Gong kulminasi perseteruan dimulai ketika Presiden Donald Trump secara sepihak menyatakan keluar dari kesepakatan nuklir yang telah ditandatangani bersama Iran dan empat negara Eropa. Setelah itu, embargo-embargo baru, yang disebut Donald Trump dengan nama Maximum Pressure Policy, pun diberlakukan.

Publik Iran secara luas memaknai peristiwa itu sebagai upaya Washington untuk memperoleh celah baru dalam memberlakukan sanksi dan embargo atas Iran. Ujung dari semua itu adalah bagian dari rencana besar Amerika dalam rangka menekan dan akhirnya melemahkan Iran. Rakyat Iran juga umumnya mempersepsi tindakan Trump itu justru sebagai bukti bahwa Amerika adalah negara arogan yang tak segan-segan menabrak norma yang berlaku dalam tatanan hubungan internasional, di saat berhadapan dengan Iran.

Trump mengaku enggan memasuki konflik militer langsung dengan Iran, karena resiko konflik ini lebih besar daripada keuntungannya. Tapi dengan Maximum Pressure Policy ini, ia masih berharap bisa memporak-porandakan stabilitas ekonomi Iran yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Trump agaknya berharap, akan muncul protes rakyat di sana sini. Hubungan rakyat dan otoritas berwenang retak, rezim kehilangan kepercayaan rakyat, dan Iran akan musnah, atau paling tidak, rezim yang berkuasa saat ini digantikan oleh orang yang sesuai dengan kemauan Amerika.

 Maximum Pressure Policy ini memang tampak lebih santun daripada konflik militer langsung. Masyarakat dunia tidak secara langsung menyaksikan korban berdarah seperti konflik Yaman. Lebih dari itu, kebijakan ini juga menghemat biaya untuk Washington, lebih irit dibandingkan dengan konflik militer langsung.

Lalu, apa yang terjadi di Iran? Sampai sejauh ini, apa yang menjadi target Amerika belum menunjukkan hasil apapun. Memang benar bahwa perekonomian menjadi melambat. Harga dolar meroket hingga tiga-empat kali lipat. Terjadi inflasi atas mata uang Riyal Iran. Akan tetapi, tak terlihat gejolak politik sedikitpun. Justru yang terjadi malah sebaliknya. Terjadi penguatan soliditas di antara berbagai faksi politik di tingkat elit. Rakyat di sana-sini memang mengeluhkan situasi ekonomi yang serba sulit. Akan tetapi, mereka umumnya melihat faktor utama kesulitan ekonomi itu pada masalah eksternal, yaitu adanya sanksi ekonomi bertubi-tubi secara sepihak oleh Barat.

Di tingkat pucuk pimpinan, Ayatullah Khamenei memberikan respons tegas dalam menghadapi Maximum Pressure Policy Washington ini, dengan mengatakan bahwa Iran tidak akan pernah berunding kembali. Khamenei menyatakan bahwa berunding dengan Amerika tidak akan pernah menguntungkan.

Di sisi lain, Khamenei juga memberikan jaminan kepada rakyat Iran bahwa perang tidak akan pernah meletus, meskipun Iran selalu dalam keadaan siap jika harus terlibat lagi dalam perang. Iran, kata Khamenei, siap untuk menghajar segala gelagat yang akan mengancam kedaulatan negara. Untuk keperluan itulah, pameran kekuatan rudal balistik lebih digencarkan. Iran malah telah membangun sebuah area yang diberi nama Missile City.1]

Dua belas pangkalan militer Amerika yang berada di kawasan Teluk bisa dijangkau dan diluluh-lantakkan dengan mudah oleh rudal-rudal jarak jauh Iran.2] Kemampuan Iran menjatuhkan pesawat tanpa awak tercanggih Amerika Global Hawk merupakan manuver terbaru Teheran untuk memamerkan kemampuan pertahanan militer ini.

Di samping bidang pertahanan militer, Iran juga sedang menggalakkan industri dan produksi dalam negeri supaya rakyat tidak bergantung kepada ekonomi asing. Kebergantungan pada produk asing hasil impor selama ini memang terbukti tidak menguntungkan. Di samping tidak efektif, budaya tergantung pada produk asing diyakini hanya meningkatkan konsumerisme dan mematikan denyut nadi produksi dalam negeri. Sebagai pemimpin tertinggi revolusi, Ayatullah Khamenei memberikan tema tahun ini sebagai tahun Rounaq-e Taolid-e Melli (Peningkatan Produksi Nasional). Dengan tema ini, segala aktivitas nasional difokuskan untuk meningkatkan kemampuan pelaku ekonomi dalam negeri.

Melihat cara Iran memberikan respon ini, banyak analis dan politikus dunia menilai pesimis kebijakan Donald Trump tersebut. Niels Annen, politikus Jerman, menegaskan Maximum Pressure Policy yang diberlakukan oleh Trump itu tidak akan menyeret Tehran ke meja perundingan.3] Ali Vaez, analis senior BBC di International Crisis Group, malah menilai pemerintahan Trump merupakan pemerintahan yang paling tidak normal dalam sejarah Amerika Serikat.4] Der Spiegel, majalah mingguan Jerman, juga menilai kebijakan Washington itu tidak efektif, dan malah akan lebih memperkuat Iran.5]

Sejatinya, Negeri Mullah yang selama 40 tahun selalu dikucilkan itu hanya menganggap Maximum Pressure Policy Washington tersebut—meminjam istilah Zuhairi Misrawi—hanya sebuah “gertakan sambal” belaka. Alih-alih melemahkan, tindakan Amerika ini malah sepertinya memberikan amunisi fundamental bagi kekuatan nasional Iran.

———

*Pengamat Sosial Politik Timur Tengah, alumni Jamiah Al-Mustafa, tinggal di Qom, Iran

1] http://akharinkhabar.ir/politics/4993053/

2] http://akharinkhabar.ir/politics/5262385/

3] https://www.mashreghnews.ir/news/972662/

4] https://www.mashreghnews.ir/news/972812

5] https://www.mashreghnews.ir/news/974456/).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*