Rasionalkah Dunia Islam Berharap kepada Biden-Harris?

0
68

LiputanIslam.com –Setelah Joe Biden dan Kamala Harris dinyatakan memenangi pilpres AS, banyak pihak yang mengutarakan harapan kepada mereka berdua, termasuk dari kalangan Islam. Keduanya diharapkan akan menjadi antitesis dari rival yang dikalahkannya, yaitu Donad Trump. Tapi, sepertinya, berbagai harapan itu tak akan lebih dari  sekedar euphoria tanpa dasar. Sejarah masa lalu para pemimpin politik AS menjadi pertimbangan bahwa publik dunia sebaiknya jangan terlalu melambungkan harapan kepada kedua pemimpin baru Negeri Paman Sam itu.

Sejarah mengajarkan bahwa dunia berkali-kali ‘kecele’ gara-gara ekspektasi yang berlebihan kepada presiden baru AS. Kita runut sejarah ke tiga dekade lalu, karena itu adalah masa-masa yang masih terhitung baru dan belum terhapus dari ingatan publik. Di tahun 1990, terjadi Perang Teluk Pertama, di mana koalisi internasional pimpinan AS menyerbu Irak. Yang menjadi presiden AS saat itu adalah George Bush Senior yang berasal dari Partai Republik. Kecaman pun dilontarkan kepada AS karena serangan terhadap Irak digelar berdasarkan kepada informasi palsu yang disebar oleh AS. Terkenal apa yang disebut dengan ‘Skandal Nayirah’ seorang yang mengaku perawat di RS Kuwait yang menyaksikan bayi-bayi merah di dalam refrigator dilemparkan oleh tentara Irak. Padahal, Nayirah tak lain adalah puteri dari Dubes Kuwait di AS. Dan tentu saja, kish bayi merah yang dilempar ke luar inkubator itu tak lebih dari bualan saja.

Ketika pemilu 1992 digelar, Bush sebagai petahana yang maju kembali, dikalahkan oleh calon dari Partai Demokrat, Bill Clinton. Harapan pun melambung, termasuk dari dunia Islam. Partai Demokrat disebut-sebut lebih ramah dan berpihak kepada ummat Islam. Faktanya, hanya beberapa bulan setelah dilantik sebagai presiden, Clinton mengeksekusi ide Perjanjian Oslo antara Palestina dan Israel. Hingga kini, Perjanjian Oslo diyakini oleh banyak pemimpin dunia sebagai salah satu kezaliman terbesar dalam sejarah rakyat Palestina. Perjanjian itu melegitimasi segala perilaku jahat Israel atas bangsa Palestina selama ini.

Lalu, di tahun 2000, Gedung Putih kembali dikuasai oleh Partai Republik. Kali ini, George W. Bush (putera dari Bush Senior) yang naik takhta. Di dua periode kepimpinannya (2000 – 2008), dunia Islam berdarah-darah akibat ulahnya. Ia menggelar serangan ke dua negeri Muslim, yaitu Afghanistan (2002) dan Irak (2003) atas nama program pemberantasan terorisme. Di kedua negara itu, sampai saat ini, tentara AS masih bercokol. AS di era Bush menjalani masa-masa suram sebagai negara yang dibenci di dunia Islam. Ke negeri Muslim manapun Bush berkunjung (termasuk ke Indonesia), ia disambut dengan demo penolakan dan kecaman.

Tahun 2008, Obama berhasil menjadi presiden AS. Sosoknya memberikan harapan luar biasa kepada dunia Islam. Ayahnya adalah seorang Muslim, dan nama tengahnya adalah Hussein, sebuah nama yang lekat dengan agama Islam. Akan tetapi, justru di masa pemerintahannyalah, dunia Islam makin berdarah-darah. Ia menginisiasi dan mendanai pembentukan ISIS. Ia juga membantu pengiriman para jihadis palsu yang menyerbu Suriah. ISIS yang sering disebut-sebut kelompok teroris paling mengerikan sepanjang sejarah lahir dari berbagai kebijakan luar negeri Obama.

Tak cukup dengan Suriah, Obama juga membantu habis-habisan Arab Saudi saat menyerang Yaman. Saat ini, Suriah dan Yaman adalah dua negeri Muslim (selain Pelstina, tentunya) yang paling porak-poranda di seluruh dunia.

Kini, pemimpin politik AS kembali berganti dari Trump yang berasal dari Partai Republik kepada Biden yang berasal dari Demokrat. Trump selama ini juga menciptakan banyak penderitaan terhadap dunia Islam. Dialah yang menandatangani keputusan pemindahan Kedutaan Besar AS dari Te Aviv ke Jerussalem. Ia juga yang memerintahkan teror terhadap Jenderal Qassem Soleimani, panglima Garda Revolusi Iran yang berhasil menumpas ISIS di Irak dan Suriah.

Ketika Trump dikalahkan oleh calon Partai Demokrat, cukup banyak kalangan Muslim di dunia yang berharap bahwa AS di bawah Biden-Harris akan bersikap lebih ramah kepada dunia Islam. Berharap tentu boleh-boleh saja. Akan tetapi, mengingat apa yang sudah terjadi selama ini, sepertinya kaum Muslimin dunia harus mempertimbangkan kembali ekpektasi mereka. Kaum Muslimin tak boleh menyandarkan harapannya kepada pihak lain, termasuk AS. Nasib kaum Muslimin, pada dasarnya ditentukan oleh kaum Muslimin sendiri; bukan oleh fenomena pergantian pemimpin di AS. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: