Teror atas Jenderal Soleimani dan Sikap Indonesia

0
161

LiputanIslam –Aksi pembunuhan AS terhadap Jenderal Qassem Soleimani adalah peristiwa besar yang menyedot perhatian dunia. Itu tak lain karena dunia membayangkan akan terjadinya perang antara AS dan Iran. Pasca pembunuhan, para pemimpin Iran sudah melontarkan pernyataan keras dan bersumpah untuk melakukan pembalasan. Pemerintah Irak juga menunjukkan reaksi kemarahan atas apa yang disebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan negara. Sementara itu, Presiden Trump, alih-alih meredakan ketegangan atau meminta maaf, malah melancarkan provokasi dan menebar ancaman baru.

Sebagian memprediksi bahwa berbagai gestur politik para pihak yang bertikai itu menjadi pertanda kuat akan terjadinya Perang Dunia III. Iran adalah negera dengan pengaruh yang cukup besar di kawasan regional, bahkan di seluruh dunia. Iran punya hubungan erat dengan Irak dan Suriah. Selain itu, ada sejumlah milisi bersenjata yang sangat militan mendukung Iran, seperti Hezbollah Lebanon, HAMAS dan Jihad Islam di Palestina, Hashd Al-Shabi di Irak, serta kelompok Houthi di Yaman. Di sisi lain, kita tentu sudah mafhum kekuatan yang dimiliki AS, Israel, Barat, dan sekutunya yang sangat besar dengan persenjataan yang langkap.

Jika kekuatan-kekuatan itu saling bentrok, dunia pasti terguncang. Penguasaan Iran atas Selat Hormuz menjadi salah satu titik krusial. Selat sempit ini adalah tempat lalu lalangnya kapal-kapal tanker minyak yang menyuplai 70% kebutuhan minyak dunia. Jika Iran sampai diserang, mau tak mau selat itu harus ditutup demi mencegah serangan musuh dari arah laut. Maka, resesi ekonomi dunia sudah di ambang mata. Seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan terkena imbasnya, meskipun tidak ikut berperang.

Inilah tampaknya yang menjadi perhatian pemerintah Indonesia dalam menyikapi krisis di Timur Tengah itu. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah secara resmi bertemu dengan duta besar kedua negara di Kementerian Luar Negeri. Pertemuan dibuat secara terpisah. Akan tetapi, menurut Retno, pesan yang disampaikan sama, yaitu meminta kedua pihak menahan diri. Retno mengatakan bahwa jika terjadi perang, tak ada satupun pihak yang mendapatkan keuntungan; semua akan merugi.

Pemerintah Indonesia sejauh ini belum menunjukkan sikap atas aksi teror yang menjadi pemicu ketegangan. Barangkali, kalau mau dianalogikan, hal tersebut mirip dengan sikap saat berhadapan dengan bencana seperti kebakaran atau banjir. Yang penting adalah menangani dulu korban dan mencegah agar kerusakan tidak semakin meluas. Soal penyebab kebakaran atau bencana banjir urusan belakangan.

Sikap berbeda ditunjukkan oleh sejumlah ormas Islam. MUI dan PBNU menyampaikan suara yang sama, yaitu mengecam AS serta membela Iran. MUI menyatakan bahwa pembunuhan yang dilakukan secara terencana oleh pemerintah AS itu akan memantik ketegangan dan ancaman baru. Iran, menurut MUI,  adalah negara yang berdaulat yang tidak akan tinggal diam dan akan melakukan pembalasan terhadap kepentingan  AS. Sementara itu PBNU menyatakan bahwa tindakan AS itu bertentangan dengan kemanusiaan dan melanggar prinsip-prinsip  perdamaian dunia. PBNU juga mendorong PBB dan masyarakat internasional agar mengecam tindakan Amerika Serikat dan mendesaknya segera keluar dari Timur Tengah. AS selama ini sudah terlalu banyak membunuh rakyat di wilayah itu.

Sikap-sikap tersebut sangat mungkin akan berubah, seiring perkembangan yang terjadi di Timur Tengah. Perang bisa kapan saja terjadi, mengingat arogansi Trump yang selalu menunjukkan sikap menantang. Di sisi lain, bagi Iran (dan Irak), keteguhan sikap adalah sebuah harga mati karena marwah bangsa menjadi pertaruhannya. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: