Krisis Ukraina, Momentum Perlawanan terhadap Imperialisme

0
947

LiputanIslam.com –Perang, pada dasarnya, tak akan pernah bisa disebut sebagai kebaikan. Manusia adalah makhluk mulia yang diberi anugerah berupa akal dan hati nurani. Penyelesaian atas setiap konflik yang terjadi antara sesama manusia mestinya mengedepankan pendekatan akal dan hati, ketimbang kekerasan dan adu kekuatan. Jika kita masih mengedepankan pendekatan kekuatan, artinya kita masih berada di level binatang, di mana kemenangan dan kebenaran ditentukan oleh siapa yang paking kuat di antara kita. Jika demikian, kita artinya masih menggunakan apa yang selama ini dikenal dengan hukum rimba.

Sayangnya, fakta menunjukkan bahwa sampai sekarang pun, kekerasan dan perang sering dijadikan sebagai prioritas dalam menyelesaikan perselisihan dan persengketaan. Terkadang, pihak-pihak yang sebenarnya konsisten berada di jalan kebenaran pun sering menghadapi peperangan yang dipaksakan oleh pihak lain. Palestina, Suriah, dan Yaman adalah contoh-contoh paling mutakhir terkait dengan bagaimana rakyat dari negara-negara tersebut dipaksa untuk berjuang menghadapi peperangan yang dipaksakan oleh sejumlah pihak lain, dalam hal ini masing-masing adalah: Zionis Israel, koalisi teroris, dan koalisi militer pimpinan Arab Saudi. Akan tetapi, simpul dari berbagai pihak yang menciptakan krisis di tiga kawasan yang terletak di Timur Tengah itu adalah Amerika Serikat.

Di saat konflik di tiga kawasan di atas hingga kini masih terus berlangsung, dunia dikejutkan dengan munculnya konflik lain di kawasan Eropa timur, yaitu operasi militer yang dilakukan oleh Rusia terhadap Ukraina.

Tentu ada situasi yang sangat berbeda kalau kita membandingkan antara krisis di Ukraina dengan krisis di Palestina, Suriah, dan Yaman (kita sebut saja krisis di ketiga negara itu sebagai krisis Timur Tengah). Perbedaan pertama, pada krisis Timur Tengah, terjadi blaming of the victim, alias menyalahkan atau menyudutkan korban. Perhatikan, bagaimana para pejuang HAMAS, pemerintahan Bashar Assad, dan juga milisi Houthi, dicap sebagai teroris. Adapun Zionis Israel, jihadis teroris, dan koalisi militer pimpinan Saudi disebut sebagai pejuang dan pahlawan. Situasi  Ukraina berbeda. Kiev sebagai pihak yang menjadi objek operasi militer digambarkan sebagai korban kekerasan dari Rusia yang digambarkan sebagai agresor bengis.

Kemudian, perbedaan kedua adalah: pada krisis Timur Tengah, AS dan sekutunya berada di pihak yang menggelar operasi militer, sedangkan pada krisis Ukraina, kita bisa melihat menggelegaknya euforia dukungan kepada Ukraina yang digalang oleh AS dan negara-negara Barat (Uni Eropa). Negara-negara tersebut berlomba-lomba menyatakan dukungan kepada Ukraina dengan mengirimkan bantuan kemanusiaan, militer, hingga media. Di sisi lain, Rusia dikenai berbagai sanksi bertubi-tubi dan dihajar dengan pencitraan luar biasa negatif oleh jaringan media milik Barat.

Kedua perbedaan di atas memunculkan perbedaan situasi  yang ketiga, yaitu bahwa jika pada krisis Timur Tengah, AS dan Barat seakan begitu superior, maka dalam krisis Ukraina, AS dan Barat menghadapi ‘lawan’ yang sangat tangguh. Bagaimanapun juga, Rusia adalah pemilik kekuatan militer kedua terbesar di dunia setelah AS. Di sisi lain, kekuatan ekonomi Rusia juga sangat besar, jauh lebih superior dibandingkan dengan Palestina, Suriah, dan Yaman. Dan yang juga menjadi faktor perimbangan lainnya adalah adanya dukungan kepada Rusia dari China sebagai raksasa ekonomi dunia.

Dalam konteks perlawanan dan resistensi terhadap imperialisme dunia pimpinan AS, krisis Ukraina ini bisa menjadi  momentum baru perlawanan terhadap imperialisme AS dan sekutu-sekutunya. Krisis Ukraina pastilah sudah banyak menguras energi AS dan sekutu-sekutunya. Kerugian ekonomi sudah pasti berada di depan mata. Belum lagi ada potensi konflik langsung antara Rusia dan sekutunya melawan AS dan sekutu-sekutunya, yang dipastikan akan menguras energi kedua belah pihak.

Sekali lagi, perang di Ukraina tetaplah hal yang buruk. Akan tetapi, krisis Ukraina ini barangkali menyimpan blessing in disguiss bagi kubu resistensi sebagai momentum baru perlawanan terhadap imperialisme AS dan sekutunya.  (os/editorial/li)

DISKUSI: