Krisis Irak, Biang Keroknya Memang Amerika

0
248

LiputanIslam.com –Krisis di Irak kian memanas. Meskipun secara umum terbelah, akan tetapi bisa dipastikan bahwa sebagian besar warga Irak mulai menyadari bahwa biang kerok dari semua krisis yang berkelanjutan di Irak pasca jatuhnya Saddam tahun 2003 lalu adalah Amerika Serikat. Karena itu, pasca redanya aksi demonstrasi di depan Konjen Iran di Karbala (yang menuding adanya intervensi Iran di Irak), kini muncul gelombang massa yang lebih besar dengan sasaran Kedubes AS di Baghdad.

Sudah menjadi pemahaman publik bahwa Amerika Serikat saat ini adalah negara yang paling suka mencampuri urusan dalam negeri berbagai negara di dunia. Kementerian Luar Negeri Amerika berkali-kali menyatakan bahwa Washington memiliki “kepentingan nasional” di kawasan dunia manapun. Narasi “membela kepentingan nasional” itu semakin kencang digaungkan manakala urusannya terhubung dengan Timur Tengah. Kenapa? Karena Timur Tengah adalah pusat energi dunia, di mana 70 % kebutuhan migas dunia disuplai dari kawasan ini. Selain itu, di Timur Tengah itu pula ada Zionis Israel yang merupakan sekutu utama AS, dan di Timur Tengah ada Iran (dengan sayap sekutunya, yaitu Suriah dan Hezbollah, Lebanon) yang merupakan musuh laten AS.

Fakta menunjukkan, ada sejumlah negara di Timur Tengah yang mencoba melakukan reformasi ataupun revolusi, dalam rangka membela kepentingan rakyat. Ada Mesir yang menumbangkan Hosni Mobarak; Afghanistan yang menumbangkan Sovyet dan rezim Taleban; Arab Spring di Tunisia; juga ada Irak yang mengakhiri kekuasaan Saddam Hossein. Tak satupun dari semua upaya itu yang berhasil mencapai tujuan. Kesemuanya memiliki ciri yang sama: AS bercokol di kawasan itu. Bahkan, di Afghanistan dan Irak, AS menempatkan pasukannya.

Sementara itu, jika kita menengok Iran, hal yang berbeda terjadi. Republik Islam Iran yang merupakan buah dari sebuah gerakan revolusi berhasil menjelma menjadi kekuatan besar di segala bidang, kendati negara ini disanksi dari segala sektor oleh AS dan sekutunya. Dan Iran, sejak awal revolusi, sudah “menendang” AS dari negerinya.

Terputusnya hubungan diplomatik AS dan Iran ditandai dengan pendudukan Kedubes AS di Teheran. Di saat itu, gerakan mahasiswa berhasil menemukan sejumlah dokumen penting di kantor Kedubes AS yang isinya menunjukkan bagaimana kantor perwakilan diplomatik itu sebenarnya adalah pusat komando spionase AS yang memiliki puluhan agenda penciptaan kekacauan dalam negeri, dengan target akhir keruntuhan revolusi Islam.

Agaknya, rakyat dan mahasiswa Irak yang sudah lama menyadari adanya bahaya dari keberadaan AS di negaranya ini mulai mampu memobilisasi diri. Mereka mulai fokus kepada agenda memotong tangan-tangan AS yang menjadi biang kerok berbagai masalah dalam negeri Irak.

Irak saat ini tengah berada pada titik yang sangat krusial. Berkaca dari apa yang terjadi di negara-negara lainnya di Timur Tengah, keberhasilan rakyat Irak untuk keluar dari keterpurukan ini akan sangat bergantung kepada kemampuan mereka untuk tetap konsisten dan fokus kepada upaya untuk menghentikan intervensi AS di negara mereka. Jika masih bisa dipecah-belah, apalagi sampai terprovokasi untuk menimpakan kesalahan kepada negara lain (Iran), agaknya, jalan bagi rakyat negara ini untuk keluar dari krisis masih sangat panjang dan penuh tanda tanya. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: