LiputanIslam.com –Perkembangan politik Timur Tengah makin dinamis. Jumat, 24 Januari 2020 menjadi titik penting dalam sejarah  bangsa Irak. Pada tanggal itu, demonstrasi terbesar berlangsung di Baghdad. Tercatat lebih dari 2,5 juta orang telah berpartisipasi dalam demonstrasi akbar tersebut. Para pengunjuk rasa membawa spanduk dan memekikkan slogan-slogan yang menyerukan pengusiran pasukan AS dari negara mereka. Sebagian dari pengunjuk rasa mengenakan pakaian kafan untuk memperlihatkan kesiapan rakyat Irak berkorban demi kedaulatan nasionalnya dan perlawanan terhadap intervensi AS.

Aksi demonstrasi ini merupakan bagian tak terpisahkan dari peristiwa teror yang dilakukan oleh AS terhadap Jenderal Iran Qassem Soleimani; sebuah tindakan yang ternyata memiliki efek acak yang tak diduga oleh banyak pihak, terutama oleh Gedung Putih sendiri. Maksud AS dengan membunuh Jenderal Qassem, seperti yang disampaikan sendiri oleh Presiden Trump, adalah dalam rangka memberikan keamanan kepada berbagai kepentingan AS.

Memang sudah menjadi pemahaman bersama bahwa berbagai langkah yang diambil oleh Jenderal Qassem selama masih hidup telah menggagalkan banyak sekali rencana AS di Timur Tengah. Hanya saja, ada sejumlah detail dari proses teror yang diabaikan oleh AS, dan detail-detail itu ternyata menciptakan dampak negatif yang tak diduga. Dimulai dengan reaksi rakyat Iran, yang alih-alih gentar dengan tindakan pembunuhan itu, malah menunjukkan ketersinggungan sekaligus kemarahan rakyat Iran. Terbukti, lima hari setelah peristiwa teror, Iran meluncurkan rudal-rudalnya yang menghancurkan pangkalan militer AS di Al-Anbar, Irak.

Kemudian, pembunuhan yang dilakukan di Bandara Baghdad, Irak, yang juga menewaskan seorang pejabat militer negara itu juga memberikan efek ketersinggungan bagi bangsa Irak. Parlemen dan pemerintah sepakat mengakhiri keberadaan militer AS di Irak. Ini adalah keputusan politik sangat demokratis yang sama sekali tak diduga oleh Gedung Putih. Presiden Trump mereaksi keputusan Irak itu dengan ancaman akan memberlakukan sanksi yang sangat berat kalau negara itu tetap dengan keputusannya. Trump juga melakukan beberapa lobi politik dengan mendatangi kelompok-kelompok Kurdi dan Sunni. Nyatanya, langkah-langkah AS itu malah memicu sebuah unjuk rasa akbar di Baghdad.

Sayyid Muqtada Sadr, ulama muda yang menjadi penggagas utama aksi demonstrasi menegaskan bahwa pasukan AS di Irak akan diperlakukan rakyat Irak sebagai pasukan penjajah jika Washington tetap menolak tuntutan agar pasukan AS ditarik keluar dari Irak. Artinya, rakyat Irak siap melawan. Sementera itu, ulama Syiah terkemuka Ayatullah Sayid Ali Al-Sistani dalam sebuah pesan juga mendesak segenap komponen politik Irak agar melakukan segala  yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan Irak.

Perkembangan politik di Irak memang masih sangat dinamis. Akan tetapi, dinamika yang berlangsung di Irak beberapa hari terakhir ini menunjukkan bahwa keberadaan tentara AS di negera itu tidak akan berlansung lama lagi. Artinya, saat ini, kita sedang melakukan hitungan mundur untuk momen hengkangnya tentara AS, setelah bercokol di Irak sejak tahun 2003 lalu. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*