[Editorial] Iran – AS, Perseteruan di Tengah Krisis Harga Minyak

0
448

LiputanIslam.com –Fokus warga dunia melawan Pandemi Covid-19 ternyata tidak menurunkan ketegangan perseteruan antara Iran dan AS. Atau, lebih tepatnya lagi jika dikatakan bahwa pandemi ini tidak menyurutkan permusukan AS terhadap Iran. Berbagai provokasi terus dilontarkan AS terhadap Iran dan berbagai kepentingan Iran di kawasan dunia lainnya. Dalam kampanye konfrontasi terakhir, Presiden Trump “mencuit” di Twitter bahwa ia telah memerintahkan angkatan laut AS untuk menghancurkan kapal-kapal Iran yang dianggap menganggu kapal AS. Cuitan Trump ini menanggapi konfrontasi antara kapal perang AS dengan kapal-kapal militer Iran di Teluk Persia.

Provokasi dan konfrontasi tak pelak lagi adalah tabiat AS selama ini. Melalui cara-cara inilah AS bisa menancapkan hegemoninya di seluruh dunia. Industri perang terbukti cukup efektif menempatkan AS sebagai pihak yang distigmakan sebagai kekuatan militer nomor satu di dunia. Industri ini juga telah membuat pabrik-pabrik senjata meraup milyaran dolar dari negara-negara yang “ketakutan” akibat adanya ancaman perang di kawasannya masing-masing. Juga, industri serupa seringkali cukup efektif untuk mengamankan bisnis AS lainnya, semisal minyak.

Sebagaimana yang telah banyak diberitakan, saat ini harga minyak dunia sedang mengalami bencana harga yang menggila. Per tanggal 28 April, harga minyak OPEC dipatok pada harga 12 Dollar per barrel. Padahal, tiga bulan lalu, harga minyak OPEC masih nyaman di harga normal yaitu 60 – 70 Dollar per barrel.

Sejak merebaknya pandemi, ditambah dengan perang harga minyak antara Arab Saudi dan Rusia, harga minyak dunia memang terus menukik tajam, terendah dalam sejarah. Pandemi membuat industri transportasi ambruk. Akibatnya, minyak menumpuk di gudang-gudang penyimpanan. Padahal, suplai minyak terus mengalir. Suplai tinggi dan permintaan sangat rendah, maka hukum ekonomi pun berlaku: harga terjungkal.

Bencana harga minyak ini lebih dirasakan oleh AS sebagai salah satu negara penghasil minyak di dunia. Hal ini karena pasar minyak AS adalah negara-negara yang paling terdampak pandemi. Akibatnya, minyak AS menumpuk di gudang-gudang penyimpanan. Per tanggal 28 April 2020, harga minyak Dakota Utara, AS, masih berkutat di angka hanya 3,1 Dollar per barrel. Sepekan yang lalu (20 April) bahkan harganya mengerikan, yaitu minus 46 Dolar per barrel. Artinya, bahkan industri minyak AS memberikan insentif kepada siapa saja yang mau “membeli” minyaknya. Yang penting ada sirkulasi minyak di gudang-gudang penyimpanan minyak itu.

Nah, situasi ini pula yang ditengarai oleh para pengamat sebagai motif dari AS untuk melakukan provokasi terhadap Iran. Lewat provokasinya ini, AS ingin mendongkrak penjualan minyaknya yang sedang anjlok. Ketegangan di kawasan Timur Tengah biasanya selama ini mampu memicu harga minyak dunia. Ketegangan yang sama akan menciptakan kesan bahwa kawasan Teluk Persia tidak aman. Trump berharap agar para pembeli minyak beralih untuk membeli minyak AS.

Hanya saja, provokasi AS ini sepertinya tak akan berhasil menemui sasaran. Ketegangan yang diharapkan tidak terjadi. Iran yang menjadi sasaran provokasi bersikap cukup tenang, tidak panik. Iran dan banyak negara lainnya sepertinya yakin bahwa AS tak akan mungkin berani melakukan kegilaan dengan melakukan konfrontasi langsung dengan Iran. Dalam situasi AS sedang didera krisis pandemi, sebuah serangan militer kepada negara yang cukup kuat seperti Iran akan menjadi tindakan bunuh diri bagi karir Trump, bahkan mungkin bagi ekonomi bangsa AS. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: