Badai Ujian, Harga untuk Sebuah Resistensi

0
180

LiputanIslam.com –Tahun 2020 ini diawali dengan peristiwa sangat besar, dan ramai diperbincangkan sebagai peristiwa yang bakal mengubah konstelasi politik dunia. Seorang perwira tinggi Iran bernama Qassem Soleimani, orang yang selama ini dianggap pahlawan karena kecerdasan militernya yang mampu menghancurkan kantong-kantong ISIS di Irak dan Suriah, tewas dalam sebuah aksi teror yang dilakukan oleh tentara AS. Maka, rakyat Iran pun berkabung. Jutaan warga tumpah ruah ke jalanan mengiringi pemakaman Sang Jenderal, menangisi kepergiannya. Mereka juga bersumpah akan membalas kematian Jenderal Qassem.

Lima hari berselang, tepat di waktu pemakaman Jenderal Qassem, Garda Revolusi Iran melontarkan rudal yang menghantam pangkalan militer AS di ‘Ain Al-Assad, Irak Barat. Iran menyatakan bahwa tembakan rudal itu hanyalah ‘tamparan kecil’ bagi militer AS, sebuah kode keras agar tentara AS segera hengkang dari Irak.

Tapi, selang beberapa jam dari peristiwa penembakan itu, sebuah peristiwa lain terjadi. Sebuah pesawat sipil milik Ukraina yang mengangkut ratusan penumpang (sebagian besar berkewarganegaraan Iran dan Kanada) jatuh. Setelah terjadi silang sengketa, tuduhan, dan bantahan, akhirnya pihak Iran mengakui bahwa pesawat itu memang terkena tembakan rudal militer Iran. Dalam keterangan resminya, militer Iran mengatakan bahwa pesawat itu terdeteksi sebagai objek pesawat militer asing. Ada human error dalam identifikasi. Meskipun menyatakan bahwa kasus kesalahan dalam situasi yang sangat sensitif itu sebenarnya sangat mungkin terjadi, Iran tetap menyatakan bertanggung jawab dan minta maaf. Selain meminta maaf dan menyatakan penyesalan sangat mendalam atas jatuhnya korban jiwa itu, Iran juga berjanji akan menghukum para penanggung jawab.

Di luar itu, berkembang isu bahwa peristiwa penembakan itu merupakan konspirasi intelejen AS dan sekutunya. Ada peran MOSSAD dan CIA yang mengacaukan sistem deteksi. Meskipun investigasi masih terus dilakukan, Iran tetap menyatakan bertanggung jawab.

Sontak saja Iran di-bully gara-gara kesalahan yang berakibat sangat fatal itu. Bahkan, di dalam negeri sendiri, ribuan mahasiswa berdemo dan ikut menyalahkan para pemimpin dan pejabat militer. Mereka menyebut pejabat negara sebagai pembohong karena jubir Kemenlu dan juga pejabat tinggi militer sempat menyangkal isu penembakan pesawat Ukraina. Sebagian pendemo meneriakkan tuntutan pergantian sistem yang mereka sebut sudah gagal dan memalukan.

Di tengah-tengah aksi demo itu, petugas keamanan sempat menahan Duta Besar Inggris yang ternyata ikut memberikan dukungan kepada para pengunjuk rasa. Karena punya imunitas diplomatik, sang Dubes dilepaskan. Akan tetapi, tentu saja  peristiwa ini berbuntut ketegangan diplomatik baru antara kedua negara; sebuah pekerjaan rumah lain yang harus dihadapi pemerintah Iran.

Inilah rangkaian badai ujian yang menghadang Iran di awal tahun baru ini. Rangkaian peristiwa itu sangat menyakitkan dan memberikan pukulan kepada pemerintah Iran. Akan tetapi, itulah memang harga yang harus dibayar untuk sebuah resistensi. Sebagaimana yang dikatakan berulang-ulang oleh para petinggi AS, Iran akan terus dikepung dan dikenai sanksi bertubi-tubi seandainya Teheran terus menempatkan dirinya sebagai ‘ancaman’ bagi keamanan Timur Tengah. Dengan mudah difahami bahwa yang dimaksud dengan keamanan Timur Tengah adalah keamanan Israel dan negara-negara Arab sekutu AS serta pabrik-pabrik minyak milik AS di kawasan itu.

Kita akan melihat, seberapa kuat Iran mampu bertahan di tengah badai ujian itu. Waktulah yang akan menjawabnya. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: