LiputanIslam.com –Tanggal 17 Januari 2020 akan dicatat oleh bangsa Iran, bahkan oleh dunia, sebagai salah satu hari yang bersejarah. Puluhan juta warga Iran menghadiri salat Jumat yang dilaksanakan berbagai kota, termasuk Teheran. Semuanya datang untuk mendengarkan khutbah Jumat dengan tema yang sama: mengumandangkan tekad untuk melakukan apa yang mereka sebut sebagai perlawanan terhadap imperium dunia.

Dari Teheran, Supreme Leader Iran Grand Ayatullah Ali Khamenei menyatakan bahwa peristiwa teror terhadap Jenderal Qassem Soleimani malah semakin membangkitkan semangat perlawanan bangsa Iran terhadap AS dan sekutu-sekutunya. Ayatullah Khamenei mengatakan bahwa AS melakukan kesalahan kalkulasi politik dan militer yang sangat fatal. Ayatullah Khamenei merujuk kepada kata-kata Presiden Trump sebelumnya terkait motivasi aksi teror Pentagon terhadap Jenderal Qassem. Menurut Trump, perlawanan Iran akan menurun menyusul tewasnya salah seorang jenderal terbaik bangsa itu.

Faktanya, bangsa Iran menunjukkan reaksi di luar dugaan AS dan sekutu-sekutunya. Aksi teror AS itu dimaknai bangsa Iran sebagai kejahatan dan penghinaan yang harus dilawan dan harus dibalas. Tekad itu dinyatakan dengan aksi tumpah ruahnya puluhan juta rakyat dalam upacara penghormatan jenazah Jenderal Qassem di berbagai kota besar Iran. Para pelayat mengenakan pakaian duka sambil meneriakkan yel-yel kemarahan dan kesiapan untuk

Garda Revolusi Iran lalu meluncurkan rudal-rudalnya yang menyasar dengan tepat dua pangkalan militer AS di Ain Al-Assad, Barat Irak. Iran menyatakan bahwa serangan itu hanyalah sebuah ‘tamparan’ bagi AS. Serangan yang lebih mematikan akan dilancarkan oleh Iran jika AS berani membalas. Iran bahkan akan menyerang posisi-posisi militer AS yang berada di negara-negara Arab Teluk jika serangan balasan AS itu difasilitasi oleh pangkalan-pangkalan militer tersebut. Tak lupa, para sekutu Iran seperti Hezbollah, HAMAS, dan Jihad Islam juga siap untuk menggempur Israel ketika perang betul-betul terjadi.

Aksi Iran ini adalah yang pertama kalinya sejak Perang Dunia Kedua, di mana militer AS diserang oleh tentara dari sebuah negara. Itu adalah tantangan perang antara negara. Menariknya, AS tidak memberikan balasan. Para sekutu AS juga seperti berlepas tangan; tidak melakukan pembelaan berarti. Kegagahan dan kehebatan militer AS dan sekutunya seperti ciut di hadapan tantangan terbuka dari Iran.

Momentum yang tercipta (yang betul-betul terjadi di luar dugaan AS dan sekutunya) di hari-hari pasca kematian Syahid Qassem Soleimani itulah yang disebut oleh Ayatullah Khamenei sebagai ayyamullah (hari-hari Allah). Itulah hari-hari ketika Allah SWT menyertai bangsa Iran yang terus berjuang dan menciptakan berbagai keajaiban tak terduga. Iran, kata Ayatullah Khamenei, akan menjaga momentum itu. Artinya, perlawanan akan terus dikobarkan.

Berbagai tantangan, memang menghadang. Ada kasus jatuhnya pesawat sipil Ukraina, yang sempat dimanfaatkan oleh AS untuk mendiskreditkan militer dan pemerintah Iran. Juga ada ancaman perluasan sanksi ekonomi atau dibawanya berkas nuklir Iran ke Dewan Keamanan PBB. Akan tetapi, sebagaimana yang digelorakan pada momentum khutbah Jumat tersebut, Iran akan tetap melawan. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*