Ancaman Omong Kosong Israel terhadap Iran

0
166

LiputanIslam.com –Lama tak terdengar, kini Israel kembali menunjukkan permusuhan dan ancamannya secara langsung kepada Iran. Israel menyatakan akan menjadikan Lebanon, Suriah, dan Gaza sebagai neraka Vietnam bagi Iran. Seperti yang disampaikan baru0baru ini oleh Menteri Pertahanan Naftali Bennett, Israel menuduh Iran telah melakukan intervensi militer kawasan-kawasan sekitar Israel. Berdasarkan kepada klaimnya itu, Israel menyatakan akan menjadikan militer Iran yang berposisi di kawasan-kawasan sekitar sebagai target serangan. Lebih jauh lagi, Israel bahkan mengancam akan menyerang instalasi nuklir milik Iran.

Masalahnya, ini bukan ancaman pertama yang dilontarkan oleh Israel kepada Iran. Dan selama ini, ancaman-ancaman itu tak pernah terwujud. Sedemikian seringnya ancaman itu dilontarkan, sampai-sampai para pembenci Iran menjadikannya sebagai argumen untuk menuduh adanya hubungan rahasia antara Iran dan Israel; sebuah tuduhan yang sangat ganjil dan ngawur.

Analisis geopolitik memang menunjukkan bahwa berbagai ancaman yang dilontarkan Israel itu (juga ancaman serangan dari Amerika) memang sangat sulit untuk diimplementasikan. Dalam beberapa dekade terakhir ini, Amerika dan Israel hanya mau terlibat perang jika, pertama, negara yang diperanginya itu sudah lemah atau dilemahkan terlebih dahulu. Kedua, ketika terlibat perang, Amerika dan Israel itu beraninya main keroyokan, yang diberi label pasukan koalisi. Itulah yang terjadi di Afghanistan, Irak, Libya, dan Suriah.

Untuk kasus Iran, memang sangat sulit membayangkan akan munculnya kenekadan Israel (dibantu AS) untuk berhadap-hadapan dengan Iran secara langsung. Iran bukan negara lemah. Bahkan, meskipun terus dihantam gelombang sanksi dan embargo, Iran tetap kuat dan terus semakin kuat. Untuk menghimpun kekuatan aliansi anti Iran juga bukan hal yang mudah. Pernah ada upaya menggunakan tenaga Saudi, yaitu membentuk Pakta Pertahanan Negara-Negara Muslim. Faktanya, hingga kini, kekuatan yang dimaksud tak pernah bisa terwujud.  Lebih jauh, Iran memang punya kartu truf yang sangat menakutkan: penguasaan atas Selat Hormuz yang menentukan 70% perdagangan minyak dunia.

Lalu, mengapa ancaman demi ancaman itu terus dilontarkan secara berkala? Target yang hendak dicapai oleh Israel dan Amerika dengan melontarkan ancaman tersebut biasanya adalah kondisi dalam negeri Iran, yaitu dalam rangka mengguncang stabilitas politik dalam negeri Iran. Dengan melontakan ancaman dan sanksi, AS dan Israel berharap rakyat Iran akan berbalik memusuhi negara. Sayangnya, rakyat Iran sepertinya tak mudah diguncang dengan isu-isu seperti itu. Yang terjadi, semakin diancam, rakyat Iran malah semakin melawan.

Khusus untuk ancaman Israel  belakangan ini, target yang disasar tampaknya bukan rakyat Iran, melainkan justru rakyat Israel sendiri. Kondisi sosial politik Israel saat ini bisa dikatakan sangat buruk. Kehidupan mereka jauh dari kata aman, nyaman, dan tenteram. Setiap saat, warga Israel terancam oleh serangan balasan pejuang Palestina. Situasi inilah yang menyebabkan terjadinya gelombang arus migrasi balik yang dilakukan oleh para imigran pendatang Yahudi. Mereka yang tadinya diiming-imingi dengan “Tanah yang Dijanjikan” agar mau datang ke Israel, kini mendapati kenyataan pahit betapa sangat buruknya hidup di kawasan Zionis Israel itu.

Dalam rangka mencegah arus balik imigrasi itulah Israel tampaknya perlu isu-isu yang menunjukkan kejayaan Israel, sebuah cara yang selama ini dianggap efektif menyalakan api semangat dan harapan terkait kehidupan tenteram di Tanah yang Dijanjikan. Hanya saja, cara-cara tradisional seperti itu tampaknya tak akan berhasil. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: