Ada apa dengan Virus Corona?

0
595

LiputanIslam.com –Isu dan spekulasi tentang virus Corona semakin liar dan tak terduga. Dalam kasus terakhir, Masjidul Haram dikabarkan kosong dari jamaah yang mau melakukan salat, tawaf, ataupun yang mau melakukan ibadah umrah (melakukan tawaf dan sa’i). Memang ada pelarangan dari otoritas Arab Saudi. Akan tetapi, tanpa ada pelarangan pun, kaum Muslimin di Timur Tengah saat ini dilanda kepanikan sehingga enggan mendatangi tempat-tempat kerumunan, terlebih jika tempat kerumunan itu melibatkan banyak orang asing.

Rumor dan analisis politik pun bercampur-baur menjadi satu, dan semakin liar. Ada dugaan kuat bahwa Corona adalah senjata bilologis yang dibuat oleh Israel dan AS. Indikatornya adalah sangat minimnya kasus Corona di kedua negara itu; sementara di sisi lain, negara yang paling banyak terkena virus ini adalah Iran (di Timur Tengah) dan Cina. Kedua negara ini adalah musuh AS dan Israel. Cina merupakan rival kuat kekuatan ekonomi AS/Yahudi, di mana kekuatan ekonomi dunia perlahan namun pasti mulai dipegang oleh Negeri Tirai Bambu itu. Sedangan Iran adalah musuh politik paling mengancam bagi AS dan Israel. Negeri Kaum Mullah ini tetap ‘membandel’ meskipun disanksi dan diembargo.

Isu Corona juga menunjukkan terjadinya sebuah pola baru dari komunikasi dan informasi dalam tatanan global. Kita bisa melihat betapa sangat mudahnya informasi (baik yang sifatnya faktual atau sekedar hoax) tersebar secara luas hanya dalam hitungan menit, ke seluruh penjuru dunia. Kita melihat, bagaimana sejumlah media menyalahgunakan pola baru ini untuk menangguk keuntungan bisnis (pola klikbait). Semua informasi dikemas dengan cara bombastis, tak mempedulikan apakah informasi itu benar atau salah. Atau, seandainyapun informasinya memang benar, mereka juga tak peduli, apakah informasi itu bermanfaat atau malah menciptakan kerugian, misalnya malah membuat kepanikan yang sangat merugikan.

Industri informasi juga menyalahgunakan efek ‘kekuatan-kesan-pertama’ dalam pola komunikasi. Dalam ilmu komunikasi dikatakan bahwa kesan pertama yang diterima oleh pembaca/pendengar terkait dengan sebuah informasi sangatlah kuat dan akan menempel dalam waktu sangat lama. Sedemikian kuatnya kesan dari informasi pertama itu (apalagi jika dikemas dengan cara bombastis), informasi berikutnya yang mengklarifikasi biasanya tidak efektif. Ralat seringkali tak ada gunanya manakala informasi  sudah terlanjur tersebar.

Pola komunikasi yang disalahgunakan saat membingkai isu virus Corona ini betul-betul telah menciptakan kemudaratan yang sangat banyak. Yang pertama adalah disintegrasi sosial. Kini, setiap orang dengan mudahnya merasa takut untuk berinterkasi satu sama lain, atau bepergian ke tempat-tempat kerumunan. Kedua adalah masalah ekonomi. Terjadi panic-buying atas komoditas sehari-hari. Tempat-tempat wisata juga semakin sepi yang membuat terhentinya roda ekonomi penunjang (bisnis transportasi, perhotelan, cindera mata, dll).

Kerugian berikutnya justru malah terkait dengan dampak Corona ini terhadap kesehatan. Kekeliruan pemahaman soal Corona dan penanganannya malah menciptakan stress yang membuat menurunnya imunitas tubuh. Ditambah lagi ada banyak kasus di mana seseorang yang terduga terkena paparan Corona malah ditangani dengan cara keliru, yang malah menyebabkan kematian bagi dirinya. Padahal, sebagai virus yang bisa dilawan dengan antibodi, virus Corona bisa jadi cukup dihadapi dengan banyak beristirahat di rumah dan mengkonsumsi makanan yang bergizi.

Kita jadi bertanya-tanya, jangan-jangan konspirasi yang digelar oleh imperium dunia itu (seandainya memang ada) bukan dalam bentuk penciptaan virus Corona sebagai senjata biologis, melainkan cukup dengan memanfaatkan pola komunikasi dan informasi seputar virus Corona yang memang terbukti telah menciptakan kehebohan irasional. Bagaimanapun juga, informasi dan komunikasi itu sudah menjadi komoditas industri, di mana para penguasanya adalah koorporasi-koorporasi trans-nasional milik mereka. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: