Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Tabayun

Dan Eropa pun Berpisah Jalan dengan Saudi

Published 13/07/2017 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE

LiputanIslam.com-Berlawanan dengan yang dibayangkan Riyadh, pengucilan Qatar justru tidak membuahkan hasil. Riyadh gagal menyatukan negara-negara Arab di kawasan, dan di pihak lain, negara-negara Eropa juga memisahkan diri dari Saudi.

Sudah beberapa pekan berlalu sejak Saudi melakukan ‘perbuatan tidak menyenangkan’ terhadap tetangganya. Dalam jangka waktu ini, Riyadh telah menggunakan beragam cara untuk membuat Qatar terasing. Namun, bukan hanya mereka gagal mewujudkan tujuan, mendekati targetnya pun tidak.

Para pengamat berkeyakinan, sejumlah peristiwa terakhir, termasuk kunjungan Donald Trump ke Timur Tengah, adalah pembuka jalan bagi tindakan-tindakan represif Riyadh terhadap negara-negara jirannya di Teluk.

Kunjungan Pembawa Bencana Regional

Kemelut regional terbaru diawali dengan kunjungan pertama kali presiden baru Amerika ke Timur Tengah, yang memilih Riyadh sebagai destinasi pertamanya.

Tarian pedang para petinggi Riyadh dengan presiden Amerika, yang disusul dengan pemberian hadiah-hadiah mahal kepada Trump, membuat Saudi merasa bahwa mereka adalah negara terunggul di kawasan. Ditandatanganinya transaksi persenjataan senilai 110 milyar dolar antara Saudi dan Amerika kian mendorong Riyadh untuk membayangkan bahwa kebijakan mereka mampu memengaruhi perkembangan politik regional.

Oleh karena itu, dengan dibarengi Mesir, Bahrain, dan UEA, Saudi secara tidak terduga memutus hubungan diplomatiknya dengan Qatar. Negara-negara ini kompak menutup jalur darat, laut, dan udara mereka terhadap Qatar. Sejumlah negara kecil di kawasan pun ‘membeo’ dan turut memboikot Doha. Mereka mengklaim, Qatar mendukung kelompok-kelompok teroris dan mengacaukan stabilitas di Timur Tengah.

Upaya Doha untuk keluar dari kemelut ini menemui tembok tebal berupa daftar 13 syarat yang diajukan Riyadh dan para sekutunya. Di antara syarat-syarat tersebut adalah menutup stasiun al-Jazeera, menghentikan dukungan terhadap Hamas dan Ikhwanul Muslimin, memutus hubungan dengan Iran, serta mengakhiri keberadaan militer Turki di Qatar.

Sejak awal sudah terlihat jelas bahwa para petinggi Doha tak akan menerima kehendak-kehendak tak lazim Saudi cs ini. Doha memandang hal ini sebagai intervensi langsung dalam urusan internal Qatar dan berlawanan dengan kepentingan nasional serta kedaulatannya.

Tentu trend semacam ini sudah dilakukan Saudi pasca meninggalnya Raja Abdullah dan penobatan Salman bin Abdul Aziz sebagai penggantinya; pengangkatan para pejabat muda nan ambisius yang membuat Saudi menjauh dari sikap-sikap konservatif terdahulunya dan membawanya ke petualangan-petualangan baru di kawasan. Hingga kini, perubahan pola pandang dan tindakan ini hanya menghasilkan kegagalan bagi orang-orang Saudi sendiri.

Kekhawatiran Eropa atas Kebijakan Riyadh

Berlawanan dengan Amerika, yang diyakini banyak pihak sebagai pemicu, langsung atau tidak langsung, kemelut antara Saudi dan Qatar, negara-negara Eropa justru tidak mendampingi negara-negara Arab pemboikot Qatar. Eropa lebih menekankan penyelesaian masalah dan konflik ini melalui jalur dialog.

Beberapa waktu lalu, Federica Mogherini, Komisioner Tinggi UE untuk kebijakan luar negeri, menyatakan bahwa langkah sepihak tidak boleh diambil. Dia berkata,”Kami menyeru semua pihak untuk mengurangi ketegangan dan mengadakan perundingan secara langsung.”

Pernyataan Mogherini bahwa “semua negara-negara ini adalah sekutu kami dalam memerangi terorisme dan sekutu ekonomi Eropa” menyiratkan sebuah pesan, yaitu Brussel, demi kepentingannya sendiri, tak akan bersedia menyingkirkan Qatar demi kemaslahatan Saudi. Percakapan telepon dan pertemuan langsung antara para pejabat Jerman, Inggris, Prancis, dan Italia dengan para petinggi Doha menunjukkan pentingnya peran Qatar bagi Benua Biru.

Tampaknya Saudi dalam perhitungan politisnya ‘lupa’ bahwa Qatar telah berinvestasi cukup besar di Eropa dan Amerika. Salah satu pangkalan militer terbesar Amerika (al-Adid) ada di Qatar. Kedua negara juga telah menyepakati sejumlah perjanjian di bidang persenjataan dan jet tempur.

Jika kemelut antara Qatar dan negara-negara jirannya berlanjut, maka itu akan berdampak terhadap keberadaan pangkalan itu, juga kerjasama Washington dan Doha di berbagai sektor. Oleh karena itu, para petinggi Gedung Putih menyeru kedua belah pihak untuk berdialog guna mengakhiri konflik.

Pernyataan menteri keuangan Qatar “jika kami kehilangan satu dolar, mereka juga akan kehilangan satu dolar” berkaitan dengan para pemain dan negara-negara yang berkepentingan sama dengan Doha. Sejumlah pengamat berpendapat, pemutusan hubungan diplomatik Saudi dan sekutunya dengan Qatar akan berdampak buruk bagi negara-negara Eropa, termasuk Italia. Ekonomi Italia bisa menjadi limbung, sebab Qatar telah menanamkan investasi senilai milyaran dolar di Negeri Pizza.

Hal serupa juga berlaku bagi Inggris. Qatar telah berinvestasi senilai 35 hingga 40 milyar dolar di Britania. Rencananya, investasi ini akan ditambah lima milyar dolar lagi dalam beberapa tahun ke depan. Jelas bahwa setelah musim semi 2019 dan terlaksananya proses Brexit secara utuh, London akan sangat membutuhkan investasi luar negeri, termasuk Qatar.

Secara keseluruhan, kita melihat kebijakan Saudi untuk mengucilkan Qatar justru berlawanan dengan harapan mereka. Saudi yang bermimpi membentuk dan mengepalai koalisi militer yang terdiri dari 41 negara, kini justru melihat jumlah negara-negara pendukungnya hanya hitungan jari.

Di sisi lain, strategi keliru Riyadh menyebabkan Doha tergiring menuju negara-negara yang menentang kebijakan regional Saudi, seperti Iran dan Turki. Keretakan yang terjadi di tengah negara-negara Arab Teluk juga merupakan salah satu dari dampak langkah semborono klan Saud. (af/alalam/irna)

 

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Tabayun

PBB: Terjadi Eksekusi-Eksekusi Cepat Bermotif Sektarian di Suriah

By Muhammad
Timur Tengah

Israel Mengaku Siap Melancarkan Serangan Besar terhadap Iran

By Muhammad
Timur Tengah

Penasehat Ayatullah Ali Khamenei: Kami akan Ratakan Puluhan Pusat Israel dengan Tanah

By Muhammad
Timur Tengah

Iran Pastikan Tidak akan Pernah Membiarkan Agresi Israel Terhadapnya

By Muhammad
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account