anti01Oleh: Hamsinah Hasan, Mahasiswa Pascasarjana Program Farmasi ITB.

LiputanIslam.com — Ayah dan Bunda, apakah Anda ‘pecandu’ antibiotik? Pecandu yang saya maksudkan di sini adalah sikap yang menggampangkan mengkonsumsi antibiotik. Sakit sedikit saja, lantas minum antibiotik, tanpa mengetahui jenis bakteri apa yang menyerang — dan  penyakit apa yang diderita. Apakah sikap ini sudah tepat?

Sekilas informasi, antibiotik bukan hal yang baru lagi buat pengkonsumsi obat.  Mungkin hanya nama dan jenisnya aja yang kita ketahui. Antibiotik itu berasal dari dua kata yaitu anti (lawan) dan bios (hidup). Antibiotik ini dihasilkan oleh fungi dan bakteri yang berkhasiat mematikan dan menghambat pertumbuhan kuman. Memiliki toksisitas yang relatif rendah.

Antibiotik pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh dr. Alexander Fleming berkebangsaan Inggris pada tahun 1928, jenis Penisilin. Tetapi penemuannya baru dikembangkan dan digunakan pada tahun 1941 pas perang dunia II, ketika obat-obat antibakteri sangat diperlukan dalam menanggulangi luka infeksi akibat pertempuran.

Jika penggunaannya tidak tepat, maka sangat berbahaya bagi tubuh.  Obat ini merupakan salah satu obat yang harus dipatuhi penggunaannya agar tidak menimbulkan efek samping.

Apa bahayanya?

Penggunaan yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya resistensi atau kekebalan dari bakteri tersebut terhadap antibiotik. Menurut Prof Iwan Dwiprahasto, guru besar farmakologi UGM, penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa membahayakan kesehatan masyarakat secara global maupun individu. (Detikhealth)

Bentuk penyalahgunaannya cukup beragam mulai dari tidak tepat memilih jenis antibiotik hingga cara dan lamanya pemberian. Supaya tidak terkena resistensi, maka konsumsilah dengan bijak, caranya:  tepat indikasi, tepat penderita, tepat obat, tepat dosis dan lamanya pemberiann obat, waspada terhadap efek samping, pemberian informasi yang jelas oleh dokter ataupun apoteker, dan evaluasi.

Bagaimana cara minum Antibiotik yang Tepat?

1. Meminum  antibiotik sesuai dosis yang diresepkan dokter, tidak boleh melebihi dosis yang disarankan.

2. Menghabiskan antibiotik yang diresepkan dokter walaupun badan sudah terasa sehat, sehingga jika sakit lagi, maka  obat yang sama masih manjur digunakan atau dengan kata lain tidak mengalami resisten.

3. Jangan membeli sendiri tanpa resep dokter atau berkonsultasi dengan apoteker Anda, walaupun obat tersebut bisa dibeli di apotek tanpa resep. Karena Anda belum tahu persis berapa dosis dan jumlah yang harus diminum.

4. Antibiotik hanya untuk mengobati penyakit yang berasal dari bakteri (mikroba) seperti infeksi saluran kemih, radang tenggorokan, luka yang meradang, jerawat  atau sehabis operasi.

5. Pilek, batuk dan diare umumnya tak perlu antibiotik. Hanya perlu konsumsi makanan bergizi, minum dan istirahat. Jika 3 hari tidak sembuh segera ke dokter. Untuk diare perlu penjelasan khusus dari tenaga medis yang berkompoten, misalnya dokter atau apoteker. Karena penyebab diare dan jenisnya berbeda-beda.

6. Jangan malas bertanya ke dokter atau apoteker, obat mana saja yang mengandung antibiotik dan apa manfaatnya. Pasien harus aktif bertanya jika ketemu dengan dokter atau menebus obatnya di apotek dengan apoteker.

7. Jangan membeli antibiotik dengan menggunakan resep yang lama.

Semoga bermanfaat.

—————-
Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Keluarga. Yuk sampaikan kepada dunia, hal yang menarik, inspiratif dan bermanfaat seputar keluarga. Tulisan bisa dikirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL