Sumber: suaraislam.co

Jakarta, LiputanIslam.com– Sejak dicetuskan sebagai tema pada Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2015 di Jombang Jawa Timur, terminologi Islam Nusantara sudah menuai pro-kontra. Ada yang menerima dan sebagian orang menolak wacana tersebut.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Robikin Emhas mengatakan bahwa Islam Nusantara itu menjadikan budaya dan tradisi sebagai media penyebaran agama. Dalam Islam Nusantara, budaya dan tradisi menjadi sarana dakwah. Hal itu disampaikan Robikin di Gedung PBNU Jakarta, pada Kamis (14/2).

“Segala adat istiadat, segala tradisi, segala budaya yang tidak bertentangan dengan syariat Islam boleh dijadikan infrastruktur agama biar kokoh agamanya,” ucapnya.

Menurut Robikin, pada dasarnya Islam Nusantara itu Islam yang moderat dengan batasan tidak melanggar syariat. “Islam yang adaptif dengan kebudayaan, adat istiadat, tradisi sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam,” ungkapnya.

Rencananya pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama 2019 Nahdlatul Ulama (NU) di Banjar, Jawa Barat pada 27 Februari hingga 1 Maret 2019 mendatang, Islam Nusantara menjadi salah satu tema fokus yang akan dibahas. (aw/NU Online).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*