Minapadi berasal dari dua kata, yaitu mina yang berarti ikan dan padi yang berarti tanaman padi. Minapadi adalah suatu sistem usaha tani gabungan (combined farming) yang memanfaatkan genangan air sawah yang tengah ditanami padi sebagai kolam untuk budidaya ikan yang memaksimalkan hasil tanah sawah. Minapadi dengan demikian meningkatkan efisiensi lahan karena satu lahan menjadi sarana untuk budidaya dua komoditas pertanian sekaligus, yaitu padi dan ikan. Sekaligus mendukung program penguatan ketahanan pangan dengan biaya yang hemat dan berkualitas karena penggunaan air dan pupuk sangat efisien.

Sistem minapadi juga memberikan keuntungan karena bisa menghasilkan padi organik dan itu bisa terjadi karena proses produksi tidak menggunakan bahan pestisida ataupun pupuk. Dalam satu hektare lahan dengan menggunakan minapadi, bisa dihasilkan minimal 1 ton ikan dan padi rerata 8-10 ton. Jumlah tersebut sangat banyak karena melebihi sistem konvensional yang biasa digunakan petani. Biasanya, dalam satu ha lahan yang menggunakan konvensional, padi yang didapat rerata 6-7 ton. Hasil tersebut bisa menjadi penegasan bahwa minapadi sangat layak untuk digunakan untuk pertanian padi dan perikanan budidaya sekaligus.

Indonesia mulai mengembangkan sistem minapadi pada tahun 2016 dan berhasil. Badan pangan dunia PBB (FAO) pun menetapkan Indonesia sebagai negara rujukan untuk sistem Minapadi di seluruh dunia. Penetapan tersebut berdampak positif bagi Indonesia di dunia internasional. Indonesia menjadi sangat diperhitungkan sebagai negara yang berkontribusi positif secara internasional untuk pemenuhan kebutuhan pangan global melalui inovasi pengembangan minapadi.

Baca juga: Ekspor Pertanian Indonesia ke China Meningkat Tajam

Perwakilan FAO di Indonesia, Stephen Rudgard mengungkapkan, keberhasilan Indonesia dalam melaksanakan sistem minapadi patut untuk disebarluaskan ke seluruh dunia. Meskipun sistem tersebut menjadi yang pertama diterapkan di dunia, tetapi itu ternyata memberikan keuntungan yang banyak dan sangat cocok untuk dilaksanakan di 193 negara yang ada di dunia.

Inovasi minapadi yang dilakukan Indonesia, sejalan dengan program dunia yaitu tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs). Program SDGs tersebut, adalah program yang sudah disepakati oleh dunia dan tujuan utamanya adalah pengentasan kemiskinan dan pemenuhan kebutuhan pangan global.

Hingga 2018 telah dikembangkan percontohan minapadi seluas 580 hektare yang tersebar di 26 kabupaten di Indonesia. Kemudian pada 2019, KKP menargetkan penambahan luas lahan minapadi seluas 400 ha. Disamping itu, KKP juga menggandeng Kementerian Pertanian untuk menjadikan minapadi sebagai program prioritas.

Sistem minapadi terus melambungkan nama Indonesia di dunia internasional. Hampir semua negara dari lima benua, sudah mengakui kehebatan sistem tersebut dan menyatakan ketertarikannya untuk mengadopsi sistem tersebut di negara masing-masing. Termasuk, negara dari benua Afrika yang sudah menyatakan keinginan menerapkan sistem tersebut.

Adapun, negara Afrika yang sudah menyatakan keinginannya memboyong sistem Minapadi ke negara mereka, adalah Mauritania, Zimbabwe, Zambia, Ghana, dan Senegal. Kelima negara tersebut sengaja terbang dari negara masing-masing untuk belajar sistem Minapadi di lahan percontohan yang dibina oleh Balai Besar Budi daya Air Tawar (BBBAT) Sukabumi.

Hadirnya negara dari benua Afrika sendiri, menjadi kelanjutan dari rangkaian perhelatan akbar tahunan Our Ocean Conference (OOC) 2018 yang digelar pada Oktober 2018 di Bali. Kehadiran mereka di Sukabumi, menjadi bukti bahwa Indonesia bisa memberi kontribusi untuk dunia berkaitan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan secara global.

Sebelumnya pun, sejak 2018, ada 13 negara Asia Pasifik yang telah belajar minapadi ke Indonesia, yaitu  Bangladesh, Kamboja, Laos, Myanmar, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, Thailand, Filipina, Timor Leste, dan Vietnam. (Ay/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*