Menunggu Biden Melakukan Langkah Kongkret

0
117

LiputanIslam.com –Banyak publik dunia berharap bahwa AS di bawah presiden yang baru Joe Biden akan menjadi jauh lebih baik. Harapan itu muncul lebih disebabkan kemuakan banyak kalangan terhadap sepak terjang Donald Trump.  Berbagai gestur politik Trump di dunia internasional selama ini memang terlihat sangat arogan dan kontroversial.

Selama tiga tahun menjabat, Trump telah mengeluarkan keputusan-keputusan yang kontroversial, di antaranya: (1) pemberlakuan pembatasan untuk imigran Muslim yang mau masuk ke wilayah Amerika, (2) pembangunan tembok pemisah Amerika-Mexico, (3) menyatakan keluar dari Perjanjian Paris terkait perubahan iklim dunia, (4) keluar dari kemitraan pasifik, (5) persetujuan atas pemindahan kedutaan besar Amerika di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, serta (6) inisiasi The Deal of The Century, sebuah proposal perdamaian yang betul-betul akan menggencet bangsa Palestina menjadi serpihan-serpihan yang makin rapuh.

Khusus terkait dengan Iran, Donald Trump dengan pongahnya menyatakan diri secara sepihak keluar dari perjanjian nuklir tahun 2015 yang dinamai Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). Perjanjian yang ditandatangani oleh Barack Obama itu dirobek-robek secara sepihak oleh Trump, hanya dengan alasan bahwa perjanjian itu merugikan AS. Kemudian, Trump sempat melontarkan ancaman kepada Iran dengan mengatakan bahwa jika negara itu terus melawan, Iran akan menghadapi akibat seperti yang diderita beberapa negara lain sepanjang sejarah.

Memasuki tahun terakhirnya menjabat sebagai presiden AS, kegilaan Trump memuncak. Ia melakukan teror terhadap Jenderal Qassem Soleimani, seorang pejabat resmi Iran yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Irak. Iring-iringan mobil diplomat yang membawa Jenderal Qassem dan sejawatnya dari Irak Mahdi Al-Muhandisi dibom oleh tentara AS. Kedua jenderal itu tewas, dan Trump mengaku bahwa aksi tersebut berlangsung atas instruksinya sendiri.

Kini, AS punya presiden yang baru dalam sosok Joe Biden, meskipun Trump dilaporkan masih terus melakukan upaya hukum untuk membatalkan kemenangan Biden. Joe Biden terpilih setelah mengumpulkan suara lebih dari 72 juta, sebuah rekor baru dalam sejarah pemilu AS. Biden juga mendapatkan simpati luas dari kalangan Muslim, setelah dalam sebuah sesi debatnya dengan Trump, Biden mengucapkan kata “insya Allah”. Biden juga pernah mengutip hadits Nabi SAW tentang amar makruf nahi munkar. Tak lupa, Biden juga beretorika tentang pentingnya mengakomodasi aspirasi ummat Islam sebagai bagian dari negara AS.

Kita semua layak untuk menunggu Biden melakukan langkah-langkah konkret, bukan sekedar retorika hipokrit yang sudah terlalu sering kita dengar dari para politisi. Barangkali cara untuk mengetesnya cukup sederhana. Kita lihat saja bagaimana sikap Biden dihubungkan dengan berbagai kontroversi yang telah ditorehkan Trump.

Misalnya soal Palestina. Apakah Biden akan mengembalikan Kedubes AS ke Tel Aviv? Lalu, terkait dengan Iran, apakah Biden atas nama negara akan meminta maaf kepada Iran atas kelakuan Trump dalam menteror Jenderal Qassem Soleimani? Bagaimana dengan keputusan Trump yang secara sepihak keluar dari JCPOA? Apakah ia mau kembali ke meja perundingan dalam kasus nuklir Iran?

Apakah Biden juga akan membatalkan pembatasan imigran Muslim? Apakah Biden akan meruntuhkan tembok  pembatas imigran dari Meksiko? Apakah Biden akan membawa AS kembali masuk ke dalam perundingan iklim dunia?

Berbagai pertanyaan di atas perlu jawaban berupa langkah-langkah konkret. Jika tidak, apa yang selama ini disampaikan oleh Biden semasa kampanye dipastikan tak lebih sebagai retorika hipokrit. Dan dunia, khususnya kaum Muslimin, tak perlu berharap banyak kepada Biden. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: