Mengkritisi Fenomena Perayaan Tahun Baru Hijriah

0
114

LiputanIslam.com –1442 tahun telah tiba, dan sebagian kaum Muslimin merayakannya.  Merayakan perguliran waktu dengan penuh kesyukuran  karena Allah masih memberikan amanah usia kepada kita  tentulah hal yang wajar, dan memang menjadi kewajiban kita sepanjang hidup. Akan tetapi, sejatinya, tahun baru hijriah bukan peristiwa yang layak dirayakan secara berlebihan. Muhasabah atau merenung lebih layak untuk dilakukan kaum Muslimin ketimbang merayakannya.

Ada sejumlah alasan yang bisa diajukan. Pertama, menurut sejarah, tanggal 1 Muharram tidak menandai peristiwa sukacita apapun. Berbeda dengan peringatan maulid Nabi (tanggal 12 Rabiul Awwal) yang menandai peristiwa kelahiran Baginda Nabi SAW, tanggal 1 Muharram tidak merujuk kepada peristiwa hijrahnya kaum Muslimin dari Mekkah ke Madinah. Sejarah mencatat, peristiwa hijrah terjadi di bulan Rabiul Awwal, bukan bulan Muharram.

Maka, jika sebagian kaum Muslimin merayakan tahun baru secara berlebihan, dan ingin ‘menandingi’ perayaan tahun baru Masehi, tentulah itu adalah sikap yang salah kaprah. Masehi dirayakan kaum Kristiani sebagai bentuk kegembiraan atas kelahiran Isa Al-Masih (akhir Desember). Sedangkan hijriah tidak merujuk kepada peristiwa hijrah, apalagi peristiwa kelahiran Baginda Nabi SAW.

Alasan kedua, jikapun yang dirujuk adalah peristiwa hijrah, maka peristiwa itu sangat sulit untuk dirayakan, karena hijrah adalah salah satu episode dari perjuangan kaum Muslimin, tidak menandai kemenangan atau keberhasilan atas perjuangan tertentu. Hijrah adalah sebuah starting point untuk bergerak maju, bukan titik akhir dari perjuangan. Saat berhijrah, kaum Muslimin berada dalam situasi harap-harap cemas, mengingat sangat besarnya tantangan dan penderitaan yang tengah mereka hadapi. Karena itu, merayakan kecemasan menurut hemat kami adalah tindakan yang salah kaprah.

Alasan ketiga, saat ini, konsep hijrah telah disalahgunakan oleh kelompok-kelompok ekstrem dalam Islam. Hijrah diartikan sebagai perubahan sikap menjadi ekslusif; hijrah adalah gerbang menuju jihad. Kata hijrah membuat seorang Muslim terkesan kaku, keras, cenderung intoleran, bahkan punya peluang untuk melakukan tindakan kekerasan/jihad yang keliru.

Memang benar bahwa dalam ayat Al-Quran, kata hijrah disandingkan dengan kata ‘iman’ dan ‘jihad’.  Akan tetapi, konsep hijrah menjadi bermasalah manakala konsep ‘iman’-nya sendiri keliru. Secara spiritual, hijrah bermakna perubahan perilaku dari kekufuran menjadi keimanan. Maka, ketika yang dipakai adalah konsep ‘iman’ gaya kaum takfiri, di mana mereka dengan sangat mudahnya menjatuhkan vonis ‘kafir’ kepada siapapun yang dalam urusan agama berbeda dengan mereka, maka konsep hijrahnya pun menjadi kacau. Hijrah menjadi sangat ekslusif; hanya terkait dengan perubahan perilaku dari konsep kufur menurut faham takfiri menuju konsep iman, juga menurut faham tersebut. Maka, sebagian besar kaum Muslim wajib berhijrah ke arah keimanan, meskipun kaum Muslimin yang dimaksud sudah berada dalam wilayah keimanan.

Bahaya berikutnya, hijrah kemudian dimaknai sebagai proses pra-jihad yang salah kaprah pula. Sebagaimana yang kita ketahui, makna jihad pun sudah didistorsi sedemikian rupa menjadi tindakan terorisme yang diharamkan di dalam Islam.

Ala kulli hal, perguliran waktu tetaplah harus disyukuri dan layak dirayakan secara proporsional. Karena itu, sembari tetap menjaga kesadaran bahwa ada banyak hal yang patut direnungkan, kami mengucapkan ‘Selamat Tahun Baru 1442 H’. Semoga tahun ini, kaum Muslimin, bangsa Indonesia, dan seluruh ummat manusia menjadi tahun yang penuh dengan keberkahan. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: