ISIS dan Charlie Hebdo, Sama-Sama Dikendalikan AS

0
305

LiputanIslam.com – Upaya licik memprovokasi ummat Islam terus dilakukan dengan berbagai cara. Yang terbaru, majalah penghina Rasulullah SAW, Charlie Hebdo terbitan Perancis mencetak ulang kartun-kartun penghinaan terhadap Rasulullah SAW. Kata editornya, aksi cetak ulang ulang itu dilakukan dalam rangka memperingati peristiwa persidangan bagi tersangka penyerangan majalah itu pada tahun 2015.

Charlie Hebdo memang sangat arogan. Tahun 2012, Majalah itu menerbitkan karikatur penghinaan kepada Rasulullah SAW. Mereka melakukan itu atas nama kebebasan seni dan pendapat. Tentu saja tindakan itu mendapatkan reaksi negatif dari kaum Muslimin di seluruh dunia. Berbagai demonstrasi digelar jutaan ummat Islam di seluruh dunia, termasuk kaum Muslimin di Perancis.

Bagi ummat Islam, Rasulullah SAW adalah sosok yang sedemikian dihormati, melebihi penghormatan kepada manusia manapun. Seorang Muslim sejati lebih menghormati Rasulullah SAW, bahkan ketimbang orang tua, bos perusahaan, dan siapapun juga, Nama Rasulullah dilafalkan dengan penuh takzim di setiap azan dan iqamah; juga saat sedang salat (membaca tasyahud). Karenanya, ketika ada yang menghina dan merendahkan Rasulullah SAW, perasaan kaum Muslimin pastilah terluka dan marah.

Pada Januari 2015, Charlie Hebdo menambah aksi provokatifnya itu dengan menerbitkan kartun yang melecehkan Pemimpin ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi. Maka, tak ayal lagi, seperti bom yang dipantik api, meledaklah kemarahan kelompok Islam radikal. Gedung redaksi Majalah Charlie Hebdo pun diserbu orang-orang bersenjata bertopeng. Sedikitnya, 12 orang tewas akibat aksi serbuan tersebut. Para penyerbu yang belakangan ketahuan merupakan anggota ISIS itu pun ditangkap dan diadili. Pemuatan ulang karikatur penghinaan kepada Rasulullah SAW itu dalam konteks persidangan terhadap para tersangka penyerangan majalah tersebut.

Kasus provokasi yang dilakukan media Barat semisal Charlie Hebdo dan lain-lain yang direaksi dengan cara brutal oleh kelompok radikal  semacam ISIS dan sejenisnya, terlihat sekali membentuk lingkaran setan. Salah satu motif ISIS untuk melakukan tindakan radikal dan terorismenya juga didasarkan kepada perilaku Islamo-phobia sebagaimana yang ditunjukkan oleh Charlie Hebdo dan kawan-kawannya itu.

Di sisi lain, Charlie Hebdo mengolok-olok Islam berdasarkan kepada fakta tak terbantahkan adanya kelompok-kelompok radikal semacam ISIS, Al-Qaeda, dan lain-lain. Lalu, Charlie Hebdo pun menggenaralisir kelakuan radikal kelompok-kelompok itu disamakan dengan upaya perlawanan-legal yang dilakukan kelompok-kelompok resistensi semisal HAMAS, Hezbollah, Houthi, dan lain-lain. Bahkan, lebih parah lagi, upaya generalisasi itu diperluas hingga mencakup seluruh kaum Muslimin. ISIS dengan ideologi Wahabinya dianggap sebagai representasi ummat Islam. Orang Islam yang terluka dan melakukan protes terhadap tindakan pelecehan itu pun langsung diberi stigma sebagai orang radikal.

Upaya seperti ini sungguh sangat licik. Kelompok radikal seperti ISIS yang hanya merupakan segelintir amat kecil dari milyaran ummat Islam di dunia, tiba-tiba saja dijadikan representasi secara semena-mena. Wajah ummat Islam pun tercoreng. Akibat lainnya adalah, Barat merasa punya alasan untuk mengolok-olok ummat Islam. Juga, akibat yang tak kalah penting, kelompok-kelompok perlawanan-legal, para pejuang Palestina yang menghendaki kemerdekaan bagi bangsanya, lalu dicap sebagai kelompok radikal dan teroris. Kaum Muslimin yang melakukan protes terhadap aksi-aksi pelecehan juga dianggap sebagai orang-orang radikal.

Jika kita lihat runutannya, sebenarnya, semua itu mengarah kepada satu titik komando. Baik media seperti Charlie Hebdo ataupun kelompok radikal seperti ISIS, keduanya dibentuk, diinisiasi, dan didanai oleh koalisi Barat, dalam hal ini adalah AS, Eropa, dan Zionis Israel. Negara-negara Arab Monarki yang kaya dan mapan juga dilibatkan dalam pembentukan koalisi tersebut. Jadi, Charlie Hebdo dan ISIS sebenarnya dikendalikan oleh pusat komando yang sama. Keduanya memiliki peran yang sangat penting dalam rangka membangun persepsi negatif terhadap ummat Islam, untuk membungkam perlawanan-legal para pejuang Islam dalam meraih hak-hak mereka. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: