Bahrain-Israel, dan Topeng Arab Teluk yang Makin Tersingkap

0
414

LiputanIslam.com –Negara-negara Arab Teluk makin terang-terangan membuka topengnya setelah satu lagi anggotanya, yaitu Bahrain, menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. Bahrain akhirnya mengikuti langkah Uni Emirat Arab, salah satu negera Arab Teluk lainnya, yang terlebih dahulu melakukan langkah politik menggemparkan itu. Kini, dunia menanti, apakah anggota negara Arab Teluk lainnya akahirnya menyusul?

Ada enam negara yang tergabung ke dalam organisasi kerjasama negara-negara Arab Teluk (Gulf Cooperation Council, GCC), yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Oman, dan Qatar. Keenamnya memiliki sejumlah kesamaan ciri yang sangat unik. Pertama, keenam negara tersebut kaya raya karena adanya minyak melimpah. Dengan kekayaannya itu, mereka mampu tampil sebagai salah satu kekuatan politik yang cukup diperhitungkan di dunia.

Kedua, keenam negara tersebut berbentuk monarki-absolut,  yang artinya, dalam urusan politik, partisipasi masyarakat di masing-masaing negara itu sangatlah rendah. Hal ini juga bermakna bahwa keputusan apapun yang diambil oleh penguasa, sama sekali tidak mencerminkan aspirasi rakyat. Sangat mungkin, ketika penguasa mengambil keputusan politik untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, rakyat memiliki pendapat yang sebaliknya.

Kemudian ciri lainnya yang juga sangat unik adalah kedekatan negara-negara tersebut dengan Amerika Serikat. Mereka secara terang-terangan menyatakan bahwa AS adalah sekutu terdekat. AS pun menyatakan hal yang sama. Kedekatan tersebut sampai pada tahapan AS mendapatkan izin untuk menempatkan tentara dan pangkalan militernya di negara-negara tersebut. Keenam negara tersebut juga memiliki transaksi pembelian senjata dengan AS dalam jumlah yang sangat besar.

Kedekatan luar biasa keenam negara tersebut dengan AS membuat mereka hampir selalu memiliki narasi yang seiring, sejalan, dan searah dengan narasi AS terkait dengan banyak sekali isu krusial di kawasan. Ketika AS memusuhi Iran, mereka juga mengambil posisi yang sama. Ketika AS berupaya menghimpun jihadis palsu ke Suriah, negara-negara itu ikut menggelontorkan dana bantuan. Invasi yang terjadi atas Yaman pun merupakan kerja sama antara AS (bersama Barat dan Israel) dengan koalisi pasukan Arab Teluk yang dipimpin oleh Arab Saudi.

Adapun terkait isu laten paling besar di kawasan, yaitu Palestina, ada hal unik yang muncul. Di satu sisi, keenam negara tersebut adalah negara-negara Muslim. Sebagaimana yang kita fahami bersama, Palestina adalah isu bersama dunia Islam. Semua menyatakan solidaritasnya kepada Palestina. Maka, mestinya, negara-negara Arab Teluk juga memiliki perasaan empati yang sama untuk saudara-saudara mereka di Palestina (sesama Arab-Muslim) yang sedang dalam keadaan terjajah.

Hanya saja, di sisi lainnya, sudah menjadi fakta umum bahwa AS adalah negara yang paling bertanggung jawab atas keberlangsungan penjajahan Israel atas Palestina. Sudah lebih dari 40 kali AS menjegal rancangan resolusi yang mengecam kejahatan Israel atas Palestina. AS jugalah yang memberikan bantuan dana dan senjata yang digunakan Israel untuk melakukan berbagai kejahatan di tanah Palestina. Maka, negara-negara Teluk selalu berada di persimpangan jalan manakala dihadapkan kepada isu Palestina. Secara lahiriah mereka menyatakan dukungan kepada Palestina, tapi pada prakteknya, mereka tidak memberikan bantuan apapun kepada para pejuang Palestina.

Setelah puluhan tahun menjalankan peran yang ambigu, akhirnya dua di antara enam negara Teluk itu mulai membuka topeng aslinya, bahwa pada hakikatnya, mereka adalah sekutu AS. Penampilan Arab-Muslim tak lebih dari kedok yang mereka tampilkan agar tetap mendapatkan tempat di kalangan negara-negara Muslim.

Kini, kita tunggu bagaimana langkah empat negara lainnya. Dan tentu saja, yang akan menjadi paling sensasional adalah langkah yang akan diambil oleh Arab Saudi. Apakah penguasa dua kota suci ummat Islam, yaitu Mekah dan Madinah, itu akan mengikuti jejak langkah Uni Emirat Arab dan Bahrain dalam melakukan pengkhianatan terhadap bangsa Muslim Palestina? Waktulah yang akan memberikan jawabannya. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: