Bapak Karidi

Bapak Karidi (Didi)

Jakarta, LiputanIslam.com — Pada tanggal 27 Februari 2014, media nasional mengabarkan bahwa 29 orang relawan MER-C kembali ke tanah air. Mereka membawa misi kemanusiaan di Gaza dalam pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) sebagai wujud empati masyarakat Indonesia kepada rakyat Palestina. Banyak kalangan bertanya-tanya tentang kondisi relawan MER-C di Gaza yang notabene wilayah konflik.

Salah satu reporter liputanislam.com berkesempatan mewawancarai salah satu relawan MER-C (Medical Emergency Resque Committee), yaitu Bapak Karidi (atau yang akrab disapa Didi) di kantor pusat MER-C bilangan Jakarta Pusat. Beliau adalah putra daerah Wonogiri yang lahir pada 14 Januari 1982. Berikut ini hasil petikan wawancara kami bagian pertama.


Liputan Islam (LI)
: Kami ingin mewawancarai relawan MER-C yang baru saja pulang dari Gaza. Tepatnya pada tanggal 27 Februari 2014, terdapat 19 orang yang tiba di Indonesia. Apakah masih ada relawan MER-C yang berada di sana? Mereka bertugas pada divisi apa saja?

RS Indonesia di Gaza

RS Indonesia di Gaza

Karidi (DD): Pada tanggal tersebut merupakan kepulangan tim MER-C yang pertama, yaitu tim. Kemudian disusul tim kedua, yakni tim 10 pada waktu yang berbeda. Sekarang, masih ada 4 ikhwan di sana; yang 3 kuliah di Universitas Gaza, sekaligus menjadi relawan untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia. Selain itu, ada kawan yang tidak asing lagi bagi kita, yaitu Nur Ikhwan Abadi sebagai relawan insinyur (Koordinator Teknis Pembangunan RSI). Saya pulang pada kloter kedua, setelah 2 minggu kepulangan tim 10.

LI: Sejak kapan Bapak aktif terlibat dalam aktivitas kemanusiaan yang dilakukan MER-C?

DD: Saya bergabung sejak gempa yang terjadi di Padang sekitar tahun 2009. Pada awalnya, saya menjadi relawan dari Pesantren Al-Falah yang bekerja sama dengan MER-C dalam membantu gempa di Padang. Saya di sana selama 2 bulan sebagai tim pembantu medis, meskipun background saya bukan kesehatan.

LI: Berapa lama Bapak berada di Gaza? Apa motivasi Bapak menjadi relawan MER-C?

DD: Alhamdulillah saya bisa bertahan di tengah kondisi sulit untuk bertugas menjadi relawan selama 17 bulan di Gaza. Saya sadar sebagai manusia lemah (dha’if) yang bergelimangan dosa. Saya berkeyakinan menjadi relawan kemanusian di Gaza bisa menghapus dosa selama ini. Motivasi juga didapatkan dari istri dan orang tua yang mengizinkan saya berangkat ke sana. Dukungan mereka memberi kekuatan bagi saya.

donasi

Info donasi, sumber foto: MERC

LI: Bagaimana pengalaman Bapak selama berada di Gaza, baik suka maupun duka? Bagaimana dengan kultur dan makanan? Kemudian, apakah Bapak dan kawan-kawan pernah mengalami masa-masa kelaparan karena kekurangan pasokan makanan? Tolong Bapak deskripsikan.

DD: Ya memang ada suka dan dukanya di Gaza. Alhamdulillah kami bisa menyesuaikan diri  dengan kultur di sana yang bernuansa Islam, jadi tidak ada kendala berarti. Begitu juga dengan makanan di sana, walaupun tidak seperti di Indonesia, tapi kami tak berkebaratan. Bahkan, lidah kami akhirnya sudah terbiasa. Kami belum mengalami masa-masa dimana tidak ada makanan sama sekali. Tapi, masa-masa stok makanan sudah menipis itu pernah terjadi saat perang hari kelima. Kita tidak boleh keluar RSI karena dalam kondisi perang. Jumlah relawansekitar 30 orang, sementara persediaan makanan tidak mencukupi bagi kami semua. Tapi itulah fakta yang terjadi, maka kita terus berpikir bagaimana menemukan jalan keluar untuk mengatasi persoalan ini. Alhamdulillah, pada akhirnya kami bisa belanja ke pasar dengan berjalan kaki. Kami menggunakan rompi kuning untuk melindungi diri karena kondisi saat itu tidak aman. Rompi tersebut di sana merupakan seragam untuk bagian kebersihan umum yang bisa memancarkan sinar. Alhamdulillah, setelah kami bisa belanja di pasar, pasokan makanan terpenuhi.

LI: Dimana para relawan tinggal? Terlebih Gaza merupakan wilayah konflik. Apakah ada tempat khusus yang aman? Apa pemerintah Palestina memberikan perlindungan kepada para relawan dari Indonesia; dalam artian memberikan jaminan?

DD: Di Gaza, tidak ada yang bisa menjamin kehidupan seseorang, terlebih lagi rakyat Indonesia.  Jadi, keamanan wilayah kon

Palestina-sukrelawan-indonesia-bertahan-di-gaza-unikindo-jpeg.image_

Relawan bertahan di Palestina ditengah gempuran Israel. Sumber foto: Salam Online

flik tidak bisa dijamin oleh siapa pun, termasuk pemerintah Palestina sendiri. Kami tinggal di basement RSI karena tempat tersebut paling aman menurut pihak MER-C. Walaupun tidak ada yang bisa menjamin apakah RSI  benar-benar aman atau tidak.

LI: Saya pernah mend

engar berita bahwa ada bom yang meledak tidak jauh dari RSI yang berdampak pada rusaknya konstruksi bangunan. Antisipasi ddari pihak MER-C bagaimana?

DD: Bom meledak pada jarak 12 meter dari RSI. Alhamdulillah dengan pertolongan Allah, tidak ada satu pun relawan yang menangis ketakutan, apalagi keinginan untuk pulang. Walaupun kami pernah dihubungi pemerintah Indonesia; kami ditelfon langsung oleh Ust. Abdurrahman yang menawarkan kepada relawan MER-C untuk dievakuasi. Para relawan menjawab serentak bahwa kami akan tetap di sini (baca: Gaza). Insya Allah kami berniat baik di sana, semoga bisa menjadi amal shaleh bagi semua relawan.

LI: Bagaimana perasaan Bapak menjadi relawan di wilayah konflik? Apakah Bapak pernah memiliki background menjadi relawan di wilayah konflik sebelumnya? Pasti berbeda menjadi relawan pada saat gempa Padang dan di Gaza karena taruhannya adalah nyawa.

DD: Walaupun saya dan kawan-kawan tidak memiliki pengalaman di wilayah konflik, tapi  kami  memang berniat untuk mencapai ridha Allah SWT; hal itu menjadi kekuatan bagi kami untuk siap menghadapi kondisi apa pun. Terlebih lagi, sejak di Indonesia kami sudah diberikan pembekalan oleh pihak MER-C. Meskipun setelah sampai RSI, tidak ada satu pun relawan yang menandatangani atau memiliki asuransi yang bisa menjamin diri kami. Kami semakin bertekad kuat mendirikan RSI di Gaza karena melihat secara langsung bagaimana korban yang jatuh pada peperangan kala itu ditampung pada sebuah Rumah Sakit kecil, yaitu As-Syifa. Tentunya RS tersebut tidak bisa memfasilitasi seluruh korban. Kami sangat prihatin dengan kondisi tersebut. Semoga dengan adanya RSI, yang alhamdulillah sudah hampir rampung penyelesaiannya, bisa membantu warga Gaza di sana.

Para pekerja di RSI

Para relawan MER-C, sumber foto: www.kaskus.co.id

LI: Bagaimana perasaan Bapak menyaksikan secara langsung penderitaan rakyat Gaza? Tolong  deskripsikan kepada kami karena mayoritas rakyat Indonesia hanya mengetahui dari media yang acap kali memberitakan kondisi di Gaza tidak sesuai dengan realitas. Bagaimana hubungan Muslim dengan penganut agama lainnya?

DD: Kondisi masyarakat di sana yang paling memprihatinkan, kini menjadi perhatian pemerintah, adalah tingkat pengangguran yang tinggi. Bila berbicara tentang penderitaan, memang kondisi terparah yang dialami rakyat Palestina adalah pada saat perang berlangsung di mana mayat-mayat bergelimpangan di jalan merupakan pemandangan yang tak asing lagi. Terkait dengan hubungan antar agama, jujur saya tidak melihat aktivitas agama lain di sana selain Islam, misalnya saya belum pernah melihat aktivitas umat Nasrani di gereja. Memang mayoritas rakyat memeluk agama Islam di sana. Ada hal yang begitu saya kagumi dari masyarakat Palestina, yaitu kekuatan hijab. Saya melihat bagaimana orang tua mendidik anak-anaknya sejak kecil. Salah satu contohnya, pada saat usia 5 tahun, laki-laki dan perempuan tidak boleh bermain bareng. Hijab benar-benar terjaga sejak dini, hingga dewasa. Hal itu tercermin pada saat laki-laki dan perempuan bertemu tidak bertatap-muka langsung; mereka saling menundukkan pandangan. Saya tidak pernah menjumpai laki-laki sedang berduaan dengan perempuan yang bukan muhrim-nya.

(bersambung ke bagian kedua)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL