LiputanIslam.com–Dr. Tim Anderson, pakar politik Timur Tengah dari Sidney University, pada 13 Februari lalu diwawancarai oleh Tehran Times. Berikut ini terjemahannya:

Tehran Times (TT): seberapa penting perundingan Astana dalam Syria?

Tim Anderson (TA): Perundingan ini penting untuk membantu  Turki (dan beberapa pihak lain) untuk menyesuaikan diri dengan realitas baru, yaitu bahwa mereka tidak berhasil menghancurkan Suriah yang independen dan pluralis. Pemimpin Turki, secara khusus, didorong untuk menerima fakta bahwa pasukan proxy (kaki-tangan)-nya kalah dalam perang. Para pemimpin Turki harus mendapatkan jalan yang ‘menyelamatkan’ muka mereka untuk mundur dan mengakhiri terorisme. Langkah penting pertama telah dibuat dalam hal ini dengan adanya kesepakatan Rusia-Turki atas penarikan dan evakuasi sisa-sisa al Qaeda dari Aleppo, dan pembebasan warga sipil. Warga Suriah yang berada di antara berbagai kelompok al Qaeda juga diberi kesempatan untuk mencari jalan keluar.

TT: Apa analisis Anda terhadap kebijaakan Obama dalam konflik Suriah?

TA: Pemerintah Obama telah menunjukkan ketidakmampuan memainkan peran yang konstruktif, khususnya dengan menolak bekerja sama dalam menekan kelompok-kelompok teroris atau memisahkan mereka dari kelompok yang disebut Obama ‘pemberontak moderat’. Sebaliknya, Obama terus menyuplai dukungan material kepada kelompok-kelompok teroris ini.

TT: Apa peran yang dimainkan Rusia, Iran dan Turki dalam konflik Suriah?

TA: Rusia dan Iran bekerja sama untuk mendorong pemimpin Turki agar menghentikan ambisinya terkait Suriah. Turki dan Suriah harus memiliki kesepemahaman baru, demi terciptanya perdamaian di kawasan. Pemerintah Erdogan sedang mencari peran regional yang baru, setelah kekecewaannya AS (yang dikecamnya telah mendalangi upaya kudeta), kegagalan pasukan proxy-nya, dan hubungan strategis yang diperbaharui bersama Rusia. Meskipun demikian, di antara Iran dan Rusia terdapat perbedaan posisi tentang AS. Iran memandang, tidak ada peran konstruktif untuk Washington di kawasan. Rusia, ingin membantu AS menemukan jalan keluar yang ‘menyelamatkan muka’-nya dari kegagalan perang proxy di Suriah dan Irak. Hal ini karena Rusia mempertahankan agenda yang lebih luas, mencoba meredakan agresivitas AS dalam ekspansi NATO di timur dan menghalangi hubungan Rusia-Eropa.

TT: Apakah kepemimpinan Trump akan mengubah keterlibatan AS dalam konflik ini?

TA: Hal ini bergantung pada bagaimana ketegangan internal di dalam pemerintahan Trump diselesaikan. Trump memiliki satu tema yang baik selama masa kampanyenya, yaitu mundul dari perang di Timur Tengah yang diciptakan oleh pendahulunya, membangun hubungan yang lebih baik dengan Rusia dan Suriah untuk melawan terorisme, dan bahkan menolak ide bahwa eksepsionalisme AS [bahwa AS punya keistimewaan].

Namun dengan cepat menjadi jelas bahwa kata-kata Trump harus diragukan, dan bahwa ia tidak benar-benar mengontrol Washington. Dia harus mengakomodasi kepentingan para elit AS [deep state]. Hasil yang perseteruan internal itu masih harus kita tunggu. Namun kita dapat mengatakan bahwa Trump, dengan segala gertakan sombongnya, termasuk ancaman terhadap Iran, akan enggan memulai eskalasi baru.

TT: Bagaimana dengan keterlibatan Arab Saudi? Apakah menurut Anda, Saudi akan lebih mengobarkan perang pasca kemenangan Trump?

TA: Ada beberapa perseteruan antara Trump dan al Saud selama masa kampanye pilpres. Tetapi hal itu tidak terlalu mempengaruhi karena Trump sudah sering berkata sesuatu, namun bertindak berbeda. Saudi akan menggunakan semua pengaruhnya di Washington untuk membangun lagi hubungan baik yang selama masa Bush-Obama-Clinton telah mereka nikmati. Jika Trump pada akhirnya memutuskan angkat kaki dari kawasan [konflik], Saudi tidak punya pilihan selain menerima. Ambisi Saudi di kawasan sejalan dengan ambisi AS yang lebih luas. Meskipun Saudi adalah pembeli terbanyak senjata AS, mereka membutuhkan izin untuk menggunakannya, baik itu di Suriah, Yaman, atau di tempat manapun. Meskipun berlimpah uang, Al Saud adalah keluarga, bukan bangsa. Ini adalah basis politik yang rapuh. (dw)

sumber

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL