Beirut, LiputanIslam.com –   Pemimpin Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah akhirnya muncul di depan publik setelah menghilang sejak November 2018. Dalam wawancara eksklusif di ”sebuah lokasi” dengan presenter saluran al-Mayadeen, Ghassan Bin Jiddo, Sabtu (26/1/2019), dia memastikan bahwa ketersembunyiannya itu “tidak ada hubungannya dengan situasi kesehatan dan semua yang dikatakan adalah kebohongan.”

Dia mengkonfirmasi bahwa memasuki kawasan Galilea di utara Israel merupakan bagian dari rencana kelompok pejuang Hizbullah, dan Israel tidak mengetahui bagaimana Hizbullah akan menyerbu kawasan itu.

Kondisi Kesehatan

Nasrallah mengaku berada dalam kondisi segar bugar dan sama sekali tidak memiliki masalah kesehatan meskipun sejak beberapa minggu lalu telah memasuki usia 60 tahun. Sembari tersenyum dia mengatakan, “Apa yang terjadi ialah bahwa selama dua bulan terakhir ini tidak ada momentum-momentum khusus, dan karena itu kami tidak muncul.”

Dia menepis rumor bahwa dia jatuh sakit dan apalagi terancam kematian dan lalu terjadi pertemuan-pertemuan intensif Hizbullah. Dia menyebut rumor itu menggelikan, dan mengaku bahwa pada bulan depan akan berpidato sebanyak tiga kali karena ada tiga momen peringatan.

Rudal Dan Terowongan

Nasrallah memastikan Hizbullah memiliki rudal-rudal dengan presisi yang cukup untuk meladeni setiap serangan, dan mengancam bahwa “jika Israel membom atau membunuh di Lebanon atau anggota Hizbullah di Suriah maka “harganya akan lebih besar dari apa yang diduga Israel.”

Mengenai terowongan yang ramai dibicarakan Israel dengan klaim bahwa mereka telah berhasil menemukan dan menghancurkannya, Nasrallah mengakui adanya terowongan-terowongan lama. Menurutnya, operasi bersandi “Perisai Utara” yang dilancarkan pasukan Israel terkait dengan terowongan itu masih berlanjut, tapi operasi penggalian terowongan juga masih berlanjut sampai sekarang.

Suriah Dan Dunia Arab

Mengenai hubungan Suriah dengan dunia Arab, Sekjen Hizbullah mengatakan bahwa kunjungan Presiden Sudah Omar al-Bashir ke Damaskus dilakukan setelah Sudan mendapat lampu hijau dari Arab Saudi. Dia menambahkan keterbukaan dunia Arab terhadap Suriah belakangan ini mirip dengan keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menarik pasukannya dari Suriah.

Dia menjelaskan bahwa keterbukaan itu terjadi menyusul sebuah sidang evaluasi di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), di mana keputusan Trump telah menimbulkan ketakutan pada Saudi yang dengan berbagai pertimbangan sektarian menganggap Turki sebagai ancaman yang bahkan lebih besar dari Iran, dan Suriah lantas mendapat pesan agar mengajukan sendiri permohonan untuk kembali ke Liga Arab.

Operasi “Perisai Utara” Dan Serbuan Ke Galilea

Mengenai operasi “Perisai Utara”, Nasrallah justru menyebut upaya Israel untuk memusnahkan  terowongan yang disebut-sebut telah digali oleh para pejuang Hizbullah itu gagal.

“Paling tidak, salah satu terowongan yang ditemukan dalam beberapa minggu terakhir ini usianya sudah 13 atau 14 tahun …Intelijen Israel dan badan keamanan Israel selama 14 tahun tidak  menemukan keberadaan terowongan ini di dalam wilayahnya. Ini menunjukkan kegagalan intelijen,” katanya.

Nasrallah menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui Operasi Perisai Utara ini justru “membantu kami dengan menimbulkan ketakutan dan kepanikan ke dalam hati semua pemukim di utara.”

Dia menegaskan, “Kami tahu bahwa Israel berbohong ketika mengatakan telah menyelesaikan Operasi Perisai Utara, karena masih berlangsung…. Kami di Hizbullah berpikir bahwa kami harus membiarkan Israel berbicara tentang Operasi Perisai Utara sampai selesai…Kami tidak berkeharusan  menanggapi rumor, yang waktunya hendak ditentukan oleh orang lain.”

Nasrallah mengingatkan Israel, “Sudah sekian tahun kami berkemampuan melakukan operasi dan ini menjadi lebih mudah setelah kami berpengalaman di Suriah… Jika Israel menyerang kami maka ia akan menyesal karena biaya serangan ini akan jauh lebih besar daripada apa yang ia duga.”

Dia mengatakan, “Bagian dari rencana kami adalah memasuki Galilea, kami sanggup melakukannya, dan kami membuat keputusan sesuai dengan jalannya perang…. Mereka tidak akan pernah mengetahui bagaimana kami akan memasuki Galilea, dan ini tidak akan terjadi kecuali ketika terjadi agresi terhadap Lebanon.” (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*