TKW dari Arab Saudi dipulangkan (foto:antara)

TKW dari Arab Saudi dipulangkan (foto:antara)

Liputan Islam berkesempatan mewawancarai seorang mantan TKW asal Tasikmalaya dan menemukan kisah yang sangat menyedihkan dari Tanah Suci. Wawancara ini kami tulis dalam tiga bagian (Baca Bagian Pertama dan Kedua)

 

 

 

LI: Kalau majikan Ibu bagaimana? Apakah dia juga tipe lelaki hidung belang?

MA: Sepertinya tidak. Dia kan lumayan orang berpendidikan.

LI: Maksud Ibu?

M: Dia guru SMA, istrinya juga guru SD.

LI: Jadi, karena dia berprofesi sebagai guru, ibu menilainya lebih baik?

MA: Ya kayaknya begitu.

LI:  Memangnya orang Arab itu kebanyakan tidak berpendidikan?

MA: Oh, iya. Mereka kan memang nggak peduli sama pendidikan.

LI: Kurang peduli bagaimana?

MA: Saya perhatikan keluarga besar majikan saya, yaitu kakak, adik, dan keponakan-keponakan. Dari semuanya, majikan saya itu yang pendidikannya paling tinggi, pernah kuliah, dan sekarang jadi guru SMA. Sisanya paling tinggi  pendidikannya SMA, dan kebanyakan dari mereka menganggur. Anak-anaknya kalau sekolah juga cuma sebentar sudah pulang lagi. Padahal sekolah gratis, dan asal mau sekolah, dapat uang dari pemerintah.

LI: Menganggur? Mereka miskin-miskin, dong?

MA: Tidak. Orang Arab itu sangat dimanja sama pemerintahnya. Mereka selalu dapat tunjangan.

LI: Tunjangan seperti apa?

MA: Punya anak, dapat tunjangan. Punya orang tua jompo, dapat tunjangan. Asal punya status pelajar, juga dapat tunjangan.

LI: memangnya seberapa besar tunjangan yang mereka dapatkan?

MA: Saya tidak tahu. Yang pasti, tunjangan-tunjangan itu sangat cukup untuk menyewa rumah, punya mobil, makan, dan menggaji pembantu.

LI: Kalau mereka menganggur, lantas apa saja yang mereka lakukan sehari-hari?

MA: Tidak ada. Hanya makan, tidur, ngopi, dan ngobrol-ngobrol.

LI: Hanya itu? Apa mereka tidak bosan?

MA: Saya juga kadang heran. Saya saja yang menyaksikannya bosan. Mereka itu sangat kuat tidur, sangat kuat makan, dan sangat betah ngobrol-ngobrol sambil ngopi.

LI: Bisa diceritakan kehidupan mereka sehari-hari?

MA: Pagi habis sarapan sekitar jam

tujuh, mereka tidur, sampai jam dua belas. Lalu, mereka bangun, salat Zhuhur, makan siang, dan tidur lagi sampai sore. Jam empat mereka bangun lagi buat solat Asar. Sambil menunggu azan Maghrib, mereka ngobrol-ngobrol sambil minum kopi. Habis salat Maghrib dan Isya, mereka makan malam. Setelah makan, ada yang sempat tidur lagi, tapi sebagian besar tidak. Nah, mereka lalu begadang sampai Subuh untuk ngobrol-ngobrol. Habis shalat Subuh, mereka tidur lagi sampai tibanya waktu sarapan.

LI: Wah, selain membosankan, pola hidup seperti itu sangat tidak sehat, kan? Apakah orang-orang Arab Saudi itu tidak gampang sakit?

MA: Oh, iyaaa.. mereka itu mudah sakit. Dan mereka sangat takut sama sakit dan kematian. Kalau sudah ada kerabatnya yang meninggal, mereka kuatir… sekali. Tapi, terkadang saya senang, karena saat itu, mereka menjadi sangat dermawan. Mereka sering memberi saya sedekah. Katanya buat menolak bala.

LI: Kehidupan agama mereka seperti apa? Apakah mereka suka ke pengajian?

MA: Yang pasti, kalau masalah ngaji Quran mah, orang-orang Indonesia jauh lebih hebat. Saya saja yang orang kampung, jadi satu-satunya perempuan di rumah besar itu yang bisa ngaji Quran dengan tajwid yang benar. Bahkan istri majikan saya yang jadi guru SD, ngaji Qurannya betul-betul ngawur. Yang lainnya, jika tidak lebih ngawur, ya dipastikan memang tidak bisa ngaji sama sekali.

LI:  Kalo pengajian gimana, misalnya majlis taklim di mesjid?

MA: Mereka pergi ketemu syeikh kalau ada keperluan, misalnya kalau lagi sakit. Mereka minta dibacakan ayat-ayat Quran sama syeikh. Padahal, kalau sekedar dibacakan Quran mah, saya juga bisa. Uangnya dikasih ke saya. He-he-he.

wanita arab saudi

wanita arab saudi

LI: Bagaimana dengan pengajian rutin ibu-ibu kayak di Indonesia?

MA: Wah, tidak ada.

Arab Saudi adalah negara yang kaya raya berkat minyak. Namun, sayangnya, yang dilakukan pemerintah adalah memanjakan

rakyat dengan subsidi berlebihan, sehingga membuat mereka kehilangan semangat belajar dan bekerja. Itulah sebabnya, mereka  butuh banyak tenaga kerja dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Perhatian terhadap pendidikan pun baru dilakukan akhir-akhir ini saja. Situs saudiembassy.net menyebut bahwa kerajaan mulai menetapkan target penurunan angka buta huruf sejak Dakar Forum tahun 2000, di mana semua peserta bertekad menurunkan tingkat buta huruf hingga 50%. Tahun ini, tingkat buta huruf tinggal 7%, turun drastis 61% dibanding sembilan tahun yang lalu.

Bandingkan dengan Indonesia yang sudah sadar pentingnya melek huruf sebelum merdeka. Tahun 1945, 90% penduduk Indonesia buta huruf. Pada 14 Maret 1948, Bung Karno mencanangkan Program Pemberantasan Buta Huruf dan bahkan Bung Karno menjadi pengajar pertamanya. Alhasil, pada 31 Desember 1964, penduduk Indonesia usia 13-45 tahun (kecuali yang ada di Irian Barat) dinyatakan bebas buta huruf.  Namun sayang, pasca Bung Karno, perhatian terhadap pendidikan berkurang. Di tahun 2011 malah ada 4,79 persen penduduk Indonesia usia 15-45 tahun yang buta-huruf. (berdikarionline.com)

Dan di saat yang sama,ketidakbecusan pemerintah dalam melindungi rakyat, membuat Indonesia semakin kehilangan muka. Jutaan perempuan terpaksa bekerja kasar di luar negeri dan terjebak dalam situasi yang mencemari harga diri bangsa.

LI: Jadi, tekad ibu memang sudah bulat, ya, tidak akan kembali ke Arab Saudi?

MA: Insya Allah, tekad saya sudah bulat. Bekerja di Arab Saudi memang banyak dapat uang. Saya juga sempat hajian. Tapi, Arab Saudi itu bukan tempat yang menyenangkan. Mendingan hidup di Indonesia, meskipun serba kekurangan.(by/LiputanIslam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL