AssadInterview2LiputanIslam.com — Perang Suriah telah berlangsung selama empat tahun, dan tak terlihat tanda-tanda akan segera berakhir. Bagaimana sikap pemerintah Suriah hari ini? Adakah kemungkinan perang ini akan diselesaikan melalui jalur politik? Berikut ini adalah wawancara antara Jonathan Tepperman dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad, seperti dilansir Foreign Affairs.

Jonathan Tepperman (JT): Mari kita berganti topik. Hizbullah, Pasukan al-Quds Iran, dan milisi Syiah Iran terlatih lainnya sekarang memainkan peran penting dalam memerangi pemberontak di Suriah. Melihat keterlibatan mereka, apakah Anda khawatir tentang pengaruh Iran di seluruh negeri? Segalanya telah menunjukkan, baik di Irak maupun Lebanon, ada kekuatan militer asing yang berdiri di negara tersebut, dan sangat sulit untuk mengusir mereka.

Bashar al-Assad (BA): Iran adalah negara penting di kawasan ini, dan telah berpengaruh sebelum krisis. Pengaruh Iran tidak berhubungan dengan krisis, melainkan itu terkait dengan peran, atau posisi politiknya pada umumnya.

Ketika Anda berbicara tentang pengaruh, berbagai faktor membuat negara tertentu memiliki pengaruh di negara lain. Di Timur Tengah, di wilayah kami, Anda bisa melihat masyarakat yang sama, memiliki ideologi yang sama, suku yang sama, dan hal itu melewati batas-batas negara.

Jadi jika Anda memiliki pengaruh pada salah satu faktor, pengaruh Anda akan melintasi perbatasan. Ini adalah bagian dari corak kehidupan di Timur Tengah. Ini tidak terkait dengan konflik.

Tentu saja, ketika ada konflik dan kekerasan, akan negara lain memiliki pengaruh pada negara Anda. Dan bila Anda tidak memiliki keinginan untuk mempertahankan kedaulatan negara, maka Anda akan terkena pengaruh tersebut.

Sekarang, jawaban atas pertanyaan Anda. Iran tidak memiliki ambisi di Suriah, dan sebagai sebuah negara, Suriah tidak  membiarkan negara manapun untuk mempengaruhi kedaulatan kami. Kami tidak akan menerimanya, dan Iran juga tidak menghendaki hal itu terjadi. Kami menjalin kejasama. Tetapi, jika Anda membiarkan negara manapun untuk memiliki pengaruh, lalu mengapa tidak mengizinkan AS untuk memiliki pengaruh di Suriah? Itu karena kebijakan AS dan negara Barat pada umumnya. Mereka ingin memiliki pengaruh, tanpa adanya sebuah kerjasama.

Sayyid Hassan Nasrallah, Bashar al-Assad, dan Mahmoud Ahmadinejad

Sayyid Hassan Nasrallah, Bashar al-Assad, dan Mahmoud Ahmadinejad

JT: Pekan lalu, seorang komandan dari Korps Pengawal Revolusi Iran, Hajizadeh, menyatakan dalam sebuah wawancara di Der Spiegel bahwa pemimpin tertinggi Iran telah memerintahkan pasukannya untuk membangun dan mengoperasikan pabrik rudal di Suriah. Ini menunjukkan bahwa Iran telah memainkan peran yang lebih besar.

BA: Tidak. Memainkan peran melalui kerjasama berbeda dari memainkan peran melalui hegemoni.

JT: Jadi, segala sesuatu yang Iran lakukan…?

BA: Tentu saja, mereka bekerja sama penuh dengan pemerintah Suriah, dan itu selalu terjadi.

JT: Sekarang Iran melakukan deal dengan Anda dalam konteks negara. Tetapi Anda juga bekerjasama dengan milisi, aktor sub-negara dan karenanya, persoalan akan menjadi lebih rumit. Satu masalah yang sering timbul saat menjalin kerjasama dengan kelompok ini adalah, tidak seperti halnya sebuah pemerintahan, mungkin mereka tidak bersedia diajak bekerja sama dan tidak selalu jelas siapa yang harus diajak bicara.

Apakah Anda khawatir tentang kemampuan Anda untuk mengontrol kekuatan-kekuatan ini dan mengendalikan mereka jika Anda perlukan? Dan, pertanyaan yang masih terkait, pekan ini, Israel menyerang pasukan Hizbullah di Dataran Tinggi Golan. Israel menunjukkan bahwa mereka menyerang karena Hizbullah sedang merencanakan serangan terhadap Israel dari wilayah Suriah. Bukankah ini juga menunjukkan adanya bahaya yang dimungkinkan timbul dari milisi—yang tengah menjalankan agendanya sendiri, bukan agenda Anda?

BA: Apakah yang Anda maksudkan adalah milisi berkebangsaan Suriah, atau kelompok milisi lainnya?

JT: Maksud saya,  Hizbullah dan milisi Syiah Irak.

BA: Adalah sesuatu yang wajar bahwa hanya lembaga-lembaga pemerintah dan negara yang memiliki jaminan untuk menjaga stabilitas dan menempatkan sesuatu sesuai kerangka. Faktor lain yang berperan secara paralel dengan pemerintah bisa positif, bisa berpengaruh baik dalam keadaan tertentu, tetapi akan selalu ada efek samping yang negatif.  Itu adalah hal yang wajar. Dan memiliki milisi yang mendukung pemerintah adalah efek samping dari perang.

Kami memilikinya, tapi kami akan mencoba untuk mengendalikan efek samping ini. Tak ada yang lebih nyaman dibandingkan bekerjasama dengan lembaga-lembaga pemerintah, termasuk tentara, polisi dan sejenisnya.

Tapi berbicara tentang apa yang terjadi di Quneitra adalah sesuatu hal yang benar-benar berbeda. Tidak pernah operasi terhadap Israel terjadi melalui Dataran Tinggi Golan sejak gencatan senjata pada tahun 1974. Hal ini tidak pernah terjadi. Jadi, pernyataan Israel yang menyatakan bahwa ada rencana operasi militer sangat jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Itu hanyalah sebuah alasan, karena sebenarnya mereka ingin membunuh seseorang dari kelompok Hizbullah.

JT: Namun Israel telah sangat berhati-hati sejak perang dimulai dan tidak pernah terlibat kecuali mereka merasa bahwa kepentingannya terancam.

BA: Itu tidak benar. Karena mereka telah menyerang Suriah selama hampir dua tahun, tanpa alasan apapun.

JT: Namun dalam setiap kasus, mereka mengklaim bahwa serangan itu dilakukan karena Hizbullah mendapat kiriman senjata dari Iran melalui Suriah.

BA: Mereka menyerang posisi militer (tentara Suriah). Apa hubungan antara Hizbullah dan tentara Suriah?

JT: Mereka bilang, dalam kasus serangan terhadap tentara Suriah, itu tidak sengaja…

BA: Itu klaim palsu.

JT: Jadi apa yang Anda pikirkan tentang agenda Israel?

Jihad Imad Moughniyeh, pejuang Hizbullah yang gugur atas serangan Israel di Golan

Jihad Imad Moughniyeh, pejuang Hizbullah yang gugur atas serangan Israel di Golan

BA: Mereka mendukung para pemberontak di Suriah. Ini sangat jelas. Setiap kali kami mencapai kemajuan di beberapa tempat, mereka sengaja menyerang untuk melemahkan tentara. Itulah mengapa di Suriah ada lelucon, “Kata siapa al-Qaeda tidak memiliki pasukan Angkatan Udara? Mereka memiliki Angkatan Udara Israel.”

JT: Kembali ke pertanyaan saya tentang milisi. Apakah Anda yakin bahwa Anda dapat mengendalikan mereka ketika perang ini berakhir? Karena bagaimanapun, untuk memiliki kekuatan yang efektif, pemerintah harus mendominasi kekuatan. Dan hal itu sangat sulit dilakukan ketika Anda memiliki kelompok-kelompok bersenjata yang bebas berkeliaran.

BA: Itu jelas. Sebuah negara tidak akan dapat memenuhi tanggung jawabnya kepada masyarakat jika tidak dapat menjadi panglima bagi setiap komando.

JT: Tetapi Anda melihat betapa sulitnya hal itu dilakukan di Irak. Sangat sulit bagi pemerintah Irak untuk mengendalikan semua milisi Syiah yang diberdayakan dalam perang.

BA: Ada alasan yang sangat penting atas peristiwa Irak. Itu terjadi karena Paul Bremer tidak membuat undang-undang bagi negara Irak. Ia menciptakan sebuah aturan, untuk satu faksi. Sedangkan di Suriah, mengapa tentara tetap bertahan selama empat tahun kendati dalam kondisi diembargo? Bukanlah puluhan negara di seluruh dunia turut menyerang Suriah dan mendukung pemberontak?

Kami bertahan karena kami memiliki undang-undang yang nyata, sebuah konstitusi sekuler yang benar-benar ada. Itulah alasannya. Di Irak, yang ada adalah undang-undang sektarian. Ketika Anda berbicara tentang konstitusi yang sektarian, maka itu bukanlah konstitusi.

JT: Tapi apa yang akan Anda lakukan kepada milisi ini ketika perang berakhir?

BA: Harus kembali kepada kondisi normal, seperti sebelum perang.

JT: Anda yakin?

BA: Iya. Kami tidak menyediakan opsi lain. Inilah peran pemerintah. Ini sudah sangat jelas. (ba)

Previous… || Next…

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL