Syeikh Buthi dan presiden 1

Syeikh Buthi, Grand Mufti Suriah, Presiden dan Ulama Suriah. Sumber foto: www.dokumenpemudatqn.com

LiputanIslam.com — Almarhum asy-Syahid Syeikh Said  Ramadhan al-Buthi, ulama Ahlussunah moderat dari  Suriah telah memprediksi bahwa ada ‘invisible hands’ (tangan tak terlihat) yang hendak memecah belah Suriah menjadi 5 negara.  Prediksi ini beliau sampaikan jauh sebelum media terkemuka AS, The New York Times memaparkan kemungkinan peta baru Timur Tengah sejak fenomena Arab Spring meletus. Dalam peta tersebut, Robin Wright, sang analist, ‘memekarkan’ 5 negara Arab yaitu Libya, Suriah, Irak, Arab Saudi, dan Yaman menjadi 14 negara. Pengelompokan itu didasarkan kepada agama/ sekte yang dianut mayoritas penduduk masing-masing wilayah.

Dalam sebuah pengajian di Damaskus pada tanggal 6 Juni 2011, beliau berkata,

“Skenario yang telah disiapkan untuk Suriah: pertama dimulai dengan demonstrasi, dalam rangka berusaha menurunkan Pemerintah, setelah itu aksi pengrusakan, kemudian pembunuhan dan pembakaran, upaya terlihat disana ada counter-attack. Selanjutnya akan terjadi civil-war, dimana semua orang “terpaksa” berkecimpung di dalamnya, suka atau tidak suka. Fase selanjutnya adalah, muncullah “Big Boss” ke permukaan yang selama ini invisible (tak terlihat) untuk memberi solusi. Bagaimana dia memberi solusi? Dengan memecah Suriah menjadi 5 negara!”

 Siapa sesungguhnya alm. Syeikh Buthi? Bagaimana sikap beliau atas konflik Suriah? Liputan Islam kembali mewawancarai Ustadz MM,  mahasiswa Indonesia di Suriah yang merupakan murid dari alm. Syeikh Buthi. Wawancara ini kami tuliskan dalam dua bagian. Berikut ini bagian kedua (Bagian pertama, silahkan klik di sini.)

LI: Lalu bagaimana dengan Ikhwanul Muslimin (IM) Ustadz, dan apakah Syeikh Buthi pernah terlibat konflik sebelumnya dengan SYQ?

Gusdur sang wali

Sumber foto: imtiyaz-publisher.blogspot.com

UMM: IM ada di Suriah tapi bukan mayoritas. Antara Syeikh Buthi dan SYQ tidak pernah ada konflik apapun, hanya saja mereka berbeda pandangan soal politik. Namun begitu krisis Suriah meletus, SYQ mengeluarkan fatwa – boleh memerangi seluruh pendukung Assad, itu diucapkan pada khotbah-khotbah Jum’at atau di saluran televisi Al-Jezeera. Bisa dilihat di youtube. SYQ adalah Bapak Spiritual IM, dan fatwa-fatwanya biasanya sangat ditaati oleh pengikutnya.

Berbeda dengan Syeikh Buthi. Masih terngiang untaian nasehat beliau kepada kami murid-muridnya. Beliau berkata, “Ingat, kalau sampai kalian membuka pintu ini, maka kalian akan menapaki jalan curam ke bawah dimana kalian tidak akan pernah bisa berhenti di tengah perjalanan sebelum kalian sampai di akhir jalan…”

LI: Maksudnya ‘membuka pintu ini’ apa ya Ustadz?

UMM: Maksud beliau adalah demonstrasi. Syeikh Buthi mengingatkan jika sampai diadakan demonstrasi baik oleh yang pro ataupun kontra pada pemerintah akan disambut gembira oleh pihak ketiga, dan mereka akan memanfaatkan demonstrasi tersebut hingga berujung pada tindakan anarkis. Dan beliau memprediksi hal tersebut jauh-jauh hari sebelum adanya demonstrasi.

LI: Pada akhirnya, apakah ada murid beliau yang ikut dalam demonstrasi ?

UMM: Ada,  tapi hanya segelintir orang yang tidak sependapat dengan pandangan beliau. Konflik Suriah ini dibayar terlalu mahal, bahkan beliau pun akhirnya juga ikut menjadi korban.

LI: Subhanallah, saya jadi teringat kepada sosok Guru Bangsa kita, Gusdur. Acapkali apa yang beliau lontarkan ternyata menjadi kenyataan di kemudian hari. Hingga banyak meyakini bahwa Gusdur adalah waliyullah, apakah Ustadz juga menemukan hal tersebut dalam diri Syeikh Buthi?

assad dan ulama

Syeikh Buthi dan ulama memberikan wejangan kepada Presiden Assad. sumber foto: Kabar Islam

UMM: Beliau tidak seperti Gusdur. Sikapnya itu lebih mirip seorang ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya baik yang sholeh maupun yang tidak. Tapi bukan berarti beliau membenarkan tindakan anaknya yang tidak sholeh.

LI: Apakah Syeikh Buthi pernah berseberangan sikap dengan pemerintah?

UMM: Kalau dikatakan berseberangan, rasanya terlalu ekstrem. Tapi setahu saya, beliau memang acapkali mengkritik pemerintah jika kebijakannya tidak sesuai dengan syariat.

LI: Contoh kebijakan pemerintah Suriah yang pernah dikritik oleh Syeikh Buthi apa Ustadz?

UMM: Saya sebagai  saksi mata —  beliau mengkritik pemerintah saat memberlakukan kebijakan pelarangan jilbab untuk  para guru setingkat SD hingga  SMA, evakuasi terhadap pelajar-pelajar asing asing di sekolah-sekolah agama, tingkah laku sebagian pejabat dalam shalat istisqa, dan pemutaran sinetron yang dianggap melecehkan Islam, di depan jamaah pengajian beliau yang dihadiri lebih dari 1000 orang. Juga rencana penghapusan mata pelajaran agama di sekolah.

Atas teguran Syeikh Buthi, semua kebijakan tersebut dianulir. Alhamdulillah.

LI: Oh kalau demikian,  meski pemerintah Suriah ini walau berpaham sekuler, mereka tetap ‘mau mendengar’ kata-kata ulama ya Ustadz?

UMM: Alhamdulillah, kata-kata  ulama masih didengar walaupun tidak  semua. Karena sudut pandang pemerintah dan ulama kan berbeda. Itulah salah satu alasan beliau bersedia ketika diminta presiden untuk menjdi penasehat spiritual. Dan beliau tidak menerima satu sen pun untuk jabatan itu. Rumah beliau tetap di flat dengan satu kamar  tidur, 1 ruang tamu, 1 perpustakaan dan beranda. Beliau juga tetap tidak punya mobil.

LI: Setahun sudah Syeikh Buthi berpulang, apa yang dilakukan Suriah untuk mengenang beliau Ustadz?

peserta-risalah-amman

Syeikh Buthi di Jordan – Menandatangani Risalah Amman. Sumber foto: Inilah Salafi Takfiri

UMM: Bulan Maret kemarin diselenggarakan seminar sehari memperingati wafatnya beliau yang bertempat di Markaza Tsaqafi Kafersusseh Damaskus. Beredar kabar bahwa keluarga Syeikh Buthi juga akan mengadakan peringatan, namun saya belum mendapatkan info pastinya. Di Indoesia juga diadakan oleh alumni Suriah di sekitar Jabodetabek.

[Catatan redaktur: Untuk memperingati haul Syeikh Buthi, Pondok Pesantren Putri Al-Kenaniyah, Pulomas, Jakarta Timur menggelar acara tahlilan, dzikir dan tausiyah (26/3/2014). Acara tersebut disampaikan oleh ulama besar dari Suriah Syeikh Wahbah Al-Zuhaili, Syeikh Nabil Al-Jawwad, Mantan Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi, dan DR Lutfi Fathullah. Keempat narasumber tersebut bergantian menyampaikan pengalaman-pengalaman almarhum Syeikh Ramadhan Al-Buthi. Liputan selengkapnya bisa di baca di sini]

 LI: Kalau tidak salah, Syeikh Buthi juga ikut menandatangani Risalah Amman ya Ustadz?

UMM: Iya, beliau ikut menandatangani Risalah Amman. Di antara gagasan beliau yang ditentang kaum Wahabi adalah harus khusnudzan terhadap sesama muslim dan tidak boleh mengkafirkan sesama ahlul qiblat. Kita tidak boleh mngkafirkan sesama ahlul qiblat selagi masih mempunyai kemungkinan tetap dalam Islam walaupun kemungkinan itu hanya 1%.

Selamat jalan Syeikh Buthi, semoga Allah mengarumkan kuburmu dan menempatkanmu di antara orang-orang yang sholeh. Aamiin. (ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL