Damaskus,LiputanIslam.com-Redaktur Rai al-Youm dalam tulisannya menyatakan, wawancara terbaru Bashar Assad dengan Russia Today sangat penting, karena ada sejumlah info baru yang dibeberkan olehnya, terutama terkait krisis Suriah.

“Biasanya Bashar Assad tidak melakukan wawancara panjang dengan televisi atau media cetak. Namun wawancara terbarunya dengan RT, yang berisi 6.439 kata dan dilakukan dengan Bahasa Inggris, adalah wawancara yang sangat vital, sebab Assad secara terbuka mengutarakan beberapa info penting,”tulis Abdel Bari Atwan.

“Ada banyak info penting yang terangkum dalam jawaban untuk 30 pertanyaan. Namun kami hanya akan fokus pada 4 poin yang dipublikasikan untuk pertama kalinya oleh Assad dengan gambar dan foto dirinya. Dibandingkan dengan wawancara di media cetak, tentu ini lebih kredibel.

Baca: Presiden Suriah Ragukan Kematian Abu Bakar Al-Baghdadi

(1) Assad membantah tegas kabar-kabar yang tersiar di awal krisis Suriah terkait sebab-sebab pemicu perang di negaranya. Menurut media-media, salah satu penyebab perang adalah penolakan Assad terhadap rencana pembuatan jalur pipa gas untuk menyalurkan gas Qatar melalui Suriah dan Turki ke Eropa, yang tujuannya adalah untuk menyaingi gas Rusia.

Padahal, kata Assad, persoalan jalur pipa gas dan minyak memang salah satu pemicu perang, tapi bukan penyaluran gas Qatar dari selatan ke utara, tapi penyaluran minyak Iran dari timur ke barat.”

“Pipa minyak Iran melalui Irak dan Suriah hingga ke Laut Mediterania. Persetujuan Suriah untuk membangun jalur pipa ini telah mempercepat terjadinya perang di Suriah. Krisis Suriah dimunculkan guna menghalangi dibangunnya jalur pipa ini,”tandas Assad.

Atwan melanjutkan,”Menurut kami, info penting ini diperkuat fakta bahwa sejumlah negara Teluk, seperti Qatar dan Saudi, pada saat itu menganggarkan puluhan milyar dolar di Suriah untuk menjauhkan negara ini dari Iran dan menghalangi dibangunnya jalur pipa tersebut. Syekh Hamad bin Jasim (mantan PM Qatar) mengakui, Doha menawari Damaskus uang muka bantuan dana senilai 15 milyar dolar supaya Suriah memutus hubungan dengan Iran. Ada dugaan bahwa AS ada di balik tawaran bantuan ini.”

(2) Assad menegaskan bahwa AS mendukung ISIS, bahkan membantu mereka dalam menyelundupkan minyak rampasan Suriah melalui wilayah Turki dan Kurdistan Irak. Meski demikian, AS tidak menduduki timur laut Suriah. Sebab, di kawasan itu ada cadangan minyak dan gas, yang sangat dibutuhkan oleh AS. Tentu yang dibutuhkan AS bukan minyak kawasan itu atau pemasukan bulanan senilai 30 juta dolar darinya, karena AS sendiri salah satu produsen minyak terbesar (12 juta barel per hari) di dunia. AS hanya ingin memanfaatkan kekayaan minyak dan pertanian kawasan itu sebagai kartu As-nya untuk negosiasi dalam perundingan-perundingan di masa mendatang.

(3) Menurut Assad, jika tentara Suriah memulai serangan ke Idlib, perebutan kembali kawasan itu tidak akan makan waktu lama. Penundaan serangan ke kota itu adalah demi memberi kesempatan kepada warga sipil untuk meninggalkan Idlib dan pergi ke kawasan yang dikuasai pemerintah. Bisa dilihat bahwa sejumlah kelompok, seperti Jabhat al-Nusra, tidak mengizinkan warga kembali ke kawasan yang dikuasai pemerintah Suriah. Mereka ingin menggunakan warga sebagai sandera.

(4) Assad mengatakan bahwa dia tidak berharap rekonstruksi Suriah segera dimulai. Bukan karena sanksi AS, tapi demi mencegah investasi pemerintah AS atau korporasi AS atau Eropa dalam proses rekonstruksi ini. Sehingga ini bisa mencegah ancaman sanksi atas Suriah. Oleh karena itu, proses rekonstruksi akan dilakukan secara bertahap serta mengandalkan SDM Suriah.”

Presiden Suriah menegaskan, negara-negara yang berkonspirasi atas Damaskus tidak akan diizinkan terlibat dalam rekonstruksi. Sebagian besar peluang akan diberikan ke negara-negara sahabat, seperti Iran, Rusia, dan Tiongkok.

“Suriah adalah korban konspirasi yang dirancang AS. Peran-perannya telah dibagikan AS di antara negara-negara Arab dan Eropa. Hingga kini, Suriah masih merupakan korban persekongkolan ini. Bisa jadi gerakan-gerakan anti-Iran dan pemberlakuan sanksi atasnya, juga keluarnya AS dari JCPOA untuk memenuhi kehendak Israel, adalah bukti penguat untuk statemen Assad. Sebab, masuknya minyak dan gas Iran ke pesisir Laut Mediterania akan mengubah semua perimbangan kekuatan dan finansial,”pungkas Atwan. (af/yjc)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*