LiputanIslam.com—Amerika, Inggris, dan Prancis telah menyusun resolusi mereka dan mengecam Suriah atas tuduhan penggunaan senjata kimia di Douma. Atas tuduhan itu, koalisi Amerika ini pun melancarkan serangannya ke beberapa titik di Suriah. Pada kesempatan ini, LiputanIslam.com akan menghadirkan pandangan Dr. Jan Oberg (direktor of the Transnational Foundation for Peace and Future Research) tentang agresi koalisi AS ke Suriah dalam perspektif hukum internasional.

A: Bagaimana tanggapan Anda tentang tindakan Barat terhadap Suriah berdasarkan hukum internasional?

Dr. Jan Oberg: Tindakan ini jelas-jelas telah mencederai hukum internasional. Semangat yang terkandung dalam undang-undang internasional telah dirusak melalui perang dan pengeboman terhadap Suriah sebelum tuduhan itu benar-benar dibuktikan. Tindakan (Barat-red) ini, oleh para ahli hukum internasional bisa disebut sebagai agresi dan pelanggaran secara langsung terhadap salah satu bab dalam undang-undang internasional yang mengatakan bahwa perdamaian seharusnya diwujudkan dengan cara-cara yang damai. Jadi, saya mohon maaf jika harus mengatakan bahwa saat ini semua negara sedang bermain “Games” di New York. PBB hanyalah alat untuk permainan, dan tidak ada seorang pun yang menghormati undang-undang internasional itu lagi.

A: Menurut Anda, Apakah DK PBB itu telah “cacat” dan mungkin perlu dibentuk ulang?

Dr. Jan Oberg: Tentu saja. Kita semua tau bahwa kekuatan hak veto itu hanya ada dulu. Kita pun tau siapa saja yang menjadi anggota tetap, 5P (Amerika, Inggris Raya, Prancis, Cina, dan Rusia) sudah tidak lagi mewakili dunia. Kita masih ingat dulu, saat PBB dibentuk dan undang-undang internasional itu dituliskan, ada sekitar 50 sampai 60 negara di dunia yang turut terlibat, jauh jika dibandingkan dengan saat ini. Saat ini, struktur itu telah berubah, para pemain baru pun mulai terlibat bersama dengan datangnya masalah-masalah baru. Saat ini, PBB membutuhkan bentuk baru, tentu saja didasarkan atas niatan baik, menggelar dialog tentang reformasi dan (etika-red) pengambilan keputusan. Kita tidak hanya membutuhkan Dewan Keamanan, tetapi juga Dewan Ekologi. Kita perlu memasukkan organisasi non-pemerintah, sebab organisasi pemerintah dalam banyak hal tidak mewakili rakyatnya. Anda tau bahwa undang-undang internasional itu menyebut dirinya dengan “We the Peoples”, namun yang duduk di kursi PBB bukanlah perwakilan orang-orang. Jadi yang kita perlukan saat ini adalah reformasi besar-besaran dalam tubuh PBB. Tetapi, demi Kristus, jangan membuang PBB begitu saja sampai Anda memiliki rencana yang lebih baik. Sebab, saat ini, tidak ada lagi yang menanggapi PBB secara serius.

A: Bisakah Anda jelaskan, mengapa serangan koalisi Amerika terhadap Suriah itu illegal?

Dr. Jan Oberg: Ada ketentuan (Di dalam UU internasional-red), pada pasal dua, bab empat, dikatakan bahwa Anda tidak diizinkan berdasarkan hukum internasional, mengancam atau bahkan melakukan agresi ke suatu negara. Kemudian, seluruh sistem PBB itu berdiri di atas gagasan bahwa kita harus melakukan sesuatu dengan cara-cara manusiawi, dialog, negosiasi, sangsi atau apapun sebelum kita mengambil tindakan militer. Tiga negara itu melancarkan perang ke Suriah bahkan sebelum mereka memiliki bukti dan tentu saja tidak ada yang membuktikan tuduhan itu (Suriah menggunakan senjata kimia-red). Tidak ada bukti yang bisa membenarkan serangan atas Suriah. Sebagai masyarakat yang memiliki hukum, ada proses hukum yang harus diikuti dan hasil hukum itulah yang menjadi keyakinan. Setelah pelakunya jelas, barulah hukum dijatuhkan. Namun saat ini, kita benar-benar merasakan Perang Dingin dalam bentuk baru. Inilah hal yang paling menyedihkan tentang Eropa serta hubungan antara Timur-Barat. Di satu sisi ada NATO, sementara di sisi lain ada Rusia. Seharusnya, kita semua tidak perlu tau apa itu Perang Dingin, apalagi kembali mengalaminya.

A: Bagaimana pendapat Anda tentang kasus Salisbury dan kasus Douma yang tengah berlangsung saat ini?

Dr. Jan Oberg: Keadaan di Suriah saat ini benar-benar sangat kompleks dan saya harus katakan bahwa orang-orang berotak kerdil yang telah menciptakan narasi di Suriah seharusnya malu pada diri mereka sendiri. Mereka menyebut bahwa semua masalah ini adalah karena kesalahan Bashar al-Assad. Di dunia ini, tidak ada konflik yang disebabkan oleh satu orang, baik itu Saddam Husein, Slobodan Milosevic, Putin, Goerge Bush, atau Bashar al-Assad. Seluruh konflik ini merupakan peristiwa rumit yang berkaitan dengan sejarah, trauma konstitusi, krisis ekonomi, dan krisis politik. Kita tidak bisa memecahkan masalah ini, kecuali jika kita fokus pada masalah yang paling mendasar.

A: Serangan (koalisi AS-red) ini terjadi setahun pasca serangan serupa yang terjadi di Pangkalan Udara Shayrat. Bisa Anda menjelaskan perbedaan situasi dulu dan sekarang?

Dr. Jan Oberg: Ada hal menarik di sini. Maksud saya, hal serupa yang telah diterapkan dulu, kini kembali dilakukan. Administrasi AS sama sekali tidak belajar dari hal yang saya harap tidak dilakukan lagi. Anda semestinya tidak akan mengambil tindakan apapun sebelum Anda mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Peristiwa Khan Shaykhun juga belum diketahui, bahkan ketika pengeboman itu dilakukan. Dua peristiwa ini terlihat seperti bagian dari bisnis. Tolong jangan salah pahami kata-kata saya. Maksud saya, melakukan serangan bukanlah hal yang sulit. Seperti ketika saya menampar wajah Anda, hanya karena saya sadar siapa saya dan saya bisa melakukan itu lagi. (fd/Sputnik)

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*