Bertepatan dengan serangan brutal Israel ke Gaza, LI menerjemahkan sebagian catatan perjalanan seorang wartawan kulit hitam AS Ferrari Sheppard, ke Israel. Agaknya, karena berkulit hitam dan pernah mengalami diskriminasi, Ferrari peka menangkap fenomena penindasan Israel terhadap warga Palestina.

ben gurion Berminggu-minggu sebelum keberangkatan saya, saya menerima peringatan dari The Carter Center, organisasi yang mensponsori perjalanan saya. Delegasi kami, yang terdiri dari wartawan Afrika-Amerika dan seniman terkemuka, diberikan saran tentang bagaimana agar bisa diizinkan masuk ke Palestina-Israel. Wisatawan bisa ditolak masuk ke negara itu karena alasan tak masuk akal, seperti nama belakang ayah mereka terdengar Arab, atau mereka pernah mengkritik kebijakan Israel di sebuah situs jejaring sosial. Jika ditolak masuk, wisatawan dapat ditahan berjam-jam, diinterogasi dan dipaksa untuk naik pesawat kembali ke tempat asal mereka.

Teman lain menyarankan saya untuk menghindari pengucapan kata-kata seperti “Palestina,” “Palestina”, “solidaritas”, dan “Tepi Barat” di dalam bandara Israel. Saya juga disarankan untuk membersihkan email saya karena bisa saja pejabat Israel akan meminta password saya lalu membongkar inbox saya.

Di Bandara Ben Gurion

Saya tiba di Ben Gurion Airport, Tel Aviv dan berjalan di koridor yang panjang, lebar, berjendela, penuh dengan wisatawan yang melangkah cepat. Di sebelah kiri, saya melihat dari jendela pohon-pohon palem dan matahari, seolah membisikkan sebuah kisah mencekam.

tembok israel

Tembok Israel, memisahkan wilayah Israel dan Tepi Barat

Saya pun sampai ke bagian imigrasi. Ini mirip area taruhan trek balap dengan lima belas bilik dan lampu-lampu neon, ada tulisan ‘warga Israel’ dan ‘asing’. Saya masuk ke bagian ‘asing’. Di dalam bilik itu duduk seorang wanita Israel, mungkin berusia 20 tahun. Dia tampak sedih dan cantik.

“Paspor,” katanya dengan nada kering.

Saya memberikan paspor saya.

“Apa alasan kunjungan Anda?”

Saya tersenyum dan menjawab, “Tur ke Tanah Suci.”

Dia memeriksa paspor saya, kemudian dia memeriksa wajah saya, “Apakah Anda akan mengunjungi Tepi Barat atau Gaza?”

Saya berkata, “Tidak,” tanpa berpikir.

“Kemana kau akan pergi?” tanyanya.

“Yerusalem, Betlehem dan Nazareth,” jawab saya.

Dia memeriksa paspor saya lagi, “Apakah kenal orang Palestina?” tanyanya.

Saya menyeringai dan berbohong, “Tidak.”

Saya pun secara resmi diizinkan masuk ke negara Israel. Saya naik taksi ke Yerusalem. Hal pertama yang saya perhatikan, selain lanskap Palestina yang menawan hati dengan pohon-pohon palem, pohon-pohon zaitun dan bukit-bukit dan lembah yang sangat besar, adalah Tembok Besar berkawat. Ada ratusan mil tembok yang terbuat dari beton bagaikan dinding penjara.

Saya kemudian menemukan bahwa sebagian dari 90 menit perjalanan dari bandara ke Yerusalem disebut “Area-C.” Sedangkan Tepi Barat dibagi menjadi tiga bagian:. “Area-A,” “Area-B” dan “Area-C” “Area-C” dikendalikan oleh pemerintah Israel, sementara “Area-A” seharusnya di bawah kendali Otoritas Palestina (PA), sebuah badan pemerintahan yang mengatur Tepi Barat dan Jalur Gaza. Sedangkan “Area-B” adalah Yerusalem, di bawah kontrol bersama Palestina dan Israel). Saya katakan ‘seharusnya’, karena setelah menghabiskan satu minggu di negeri ini, saya mulai bertanya-tanya apakah klasifikasi daerah itu hanya kampanye public relations yang luas untuk meyakinkan dunia bahwa Palestina memiliki militer, kekuatan politik, dan ekonomi; padahal tidak demikian kenyataannya. Ini tidak mengada-ada. Sejak Persetujuan Oslo kedua pada tahun 1995, pemerintah Israel telah menegaskan, dan masyarakat internasional telah menerima gagasan bahwa “Area-A” adalah di bawah kontrol PA. Tapi realitasnya, PA bertindak sebagai sub-kontraktor penjajah Israel belaka.

Realitas

Di Yerusalem, saya menyaksikan keragaman agama dan etnis. Saya melihat orang-orang Arab, Asia, Eropa, Afrika, Yahudi Ortodoks, Muslim, Kristen, semua melangkah cepat ke berbagai arah. Pemandangan ini indah untuk foto di kartu pos.

wanita palestina diintimidasi warga Israel

wanita palestina diintimidasi warga Israel

Beragamnya budaya di Yerusalem luar biasa. Mirip dengan masyarakat di tempat-tempat lain. Namun Palestina-Israel menyajikan versi polesan di hadapan turis, di mana hotel bintang 5 di Tel Aviv dan tempat-tempat wisata di Yerusalem menutupi realitas yang brutal. Faktanya, delegasi kami mengalami sikap rasisme yang hanya didapati di negara-negara bagian selatan Amerika Serikat. Tentu saja, bagi seorang Yahudi atau Palestina kelas menengah di Yerusalem atau Nazareth, pengamatan saya ini mungkin seolah membesar-besarkan. Tapi untuk imigran Afrika yang menggelandang di selatan Tel Aviv, atau untuk warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza, pengamatan saya tepat.

Sikap merendahkan orang Arab terlihat sangat terang-terangan dan sistemik. Pemandu wisata kami, seorang wanita Palestina kelas menengah, dipaksa oleh tentara IDF untuk keluar mobil van rombongan kami dan melewati pos pemeriksaan dengan berjalan kaki. Seperti yang harus dialami semua orang Palestina, dia pun disuruh menempatkan ibu jari pada pemindai di pos pemeriksaan. Anggota delegasi kami pun diperiksa oleh IDF tanpa terkecuali. Orang kulit hitam dalam delegasi kami diinterogasi dan ditanyai blak-blakan, apakah mereka Arab dan disuruh menyebutkan nama terakhir dari ayah mereka.

Warga Palestina dan Israel yang progresif menceritakan kepada delegasi kami kisah-kisah pelanggaran dan perendahan yang dilakukan pemukim Israel atau tentara. Dan kami menyaksikannya pula secara langsung. Seiring perampasan tanah dan rumah di Tepi Barat oleh para pemukim Israel (yang menerima subsidi negara), kekerasan di lahan pertanian pun terus meningkat. Para pemukim mencabut dan menghancurkan pohon-pohon zaitun Palestina, sumber pendapatan dan makanan orang Palestina. Pemukulan di depan publik, penangkapan, dan penembakan sering terjadi, khususnya di Tepi Barat. Tanpa tuduhan apapun, seorang warga Palestina bisa dipenjara dan ditahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Hukum yang sama tidak berlaku untuk Yahudi Israel. Bahkan, warga negara Israel bisa melakukan berbagai kejahatan terhadap warga Palestina dengan kekebalan hukum. Selain itu, warga Israel akan diadili oleh pengadilan sipil, sementara warga Palestina akan diadili oleh pengadilan militer. Human Rights Watch telah mendokumentasikan situasi hukum “berbeda dan tidak merata” yang dialami oleh rakyat Palestina ini.

wanita palestina di kebun zaitun

wanita palestina di kebun zaitun

Zionisme telah meyakinkan publik bahwa mereka melakukan kekerasan untuk melindungi diri mereka. Pemikiran umum yang tersebar adalah bahwa jika warga Palestina yang ‘buas’ itu berhenti melawan, berhenti menembak roket, berhenti berjuang menentang dominasi Israel, akan ada perdamaian. Saya menemukan bahwa pemikiran seperti ini aneh karena selama kunjungan saya, saya merasa tidak ada bahaya dari Palestina. Justru, bahaya itu datang dari tentara Israel. Tidak ada konflik Palestina-Israel; yang ada adalah penindasan Israel terhadap Palestina.

Saya tidak akan pernah mengabaikan Holocaust yang membuat jutaan orang Yahudi Eropa mati atau berebut untuk bertahan hidup. Tidak ada yang akan membenarkan kesalahan yang dilakukan oleh rezim brutal Jerman itu. Tapi, saya juga akan mengingat genosida Jerman yang pertama kali (dan hanya sedikit diketahui publik) terhadap Herero dan Namaqua di Afrika, atau pemerintahan berdarah Raja Leopold di benua itu. Tragedi adalah tragedi, seseorang tidak boleh ditempatkan di atas yang lain; tragedi di masa lalu tidak bisa dipakai untuk membenarkan tragedi berikutnya.

Tulisan asli bisa dibaca di sini: www.huffingtonpost.com/ferrari-sheppard/i-traveled-to-palestine_b_4761896.html

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL