1Garin Nugroho pernah memuji film-film Iran, lantaran sederhana tapi mampu tampil beda di tengah arus perfilman dunia yang berkiblat pada Hollywood. Kesuksesan film-film Iran memang bukan cerita baru. Tidak sedikit bahkan yang berhasil menyabet penghargaan Internasional, mulai dari festival film Cannes, Berlin, hingga Oscar. Tapi, lebih dari sekedar piala dan penghargaan, yang menarik justru bagaimana film itu dibuat dengan memadukan jalan cerita, pesan, dan batas-batas norma agama.

Setelah revolusi Islam, dunia perfilman di Iran mengalami perubahan krusial. Produksi film harus melewati sensor dan pengawasan yang cukup ketat. Tapi menariknya, pertumbuhan film di Iran 2justru semakin marak. Even-even festival film digelar rutin setiap tahun dalam berbagai katagori; anak, mahasiswa, dan yang terbesar adalah festival film Internasional Fajr. Di Iran, dibangun juga shahrak-e sinama, semacam kota film seperti Hollywood atau Bollywood. Selain itu, ada juga museum film yang menyimpan berbagai dokumentasi perfilman.

Terletak di ujung utara Vali-e Asr, museum film Teheran menempati bangunan yang dikenal dengan Bagh-e Ferdows. Berdiri megah di samping perpustakaan Bahonar, dikelilingi halaman yang luas. Saat itu kami datang di musim gugur. Pohon-pohon cenar sedang meranggas ditinggalkan daun-daunnya yang berserakan. Tapi, suasananya tetap terasa indah dengan lampu-lampu klasik di sepanjang taman.

Tid3ak jauh dari tangga menuju gedung utama, berdiri sebuah patung manusia. Kepalanya dililit sorban sebagai ciri khas ilmuwan klasik Persia. Patung yang sedang menggenggam bola kristal bening itu ternyata Abu Ali Hasan ibn al-Haitham. Di dunia Barat dikenal dengan Alhazen. Ia seorang saintis muslim abad ke 11 yang menyumbangkan ilmunya di bidang matematika, astronomi, dan optis. Bukunya yang cukup monumental adalah al-Manazer (Book of Optics), mengulas dasar-dasar optis.

Ibnu Haitam sendiri pernah menciptakan pinhole camera. Yaitu, sebuah dasar pengoperasian kamera yang terdiri dari bilik gelap dan lubang cahaya di salah satu sisinya. Penemuan ini mengilhami perjalanan kamera-kamera modern selanjutnya. Bagi mereka yang menggemari dunia fotografi, tampaknya perlu berterima kasih pada temuan berharga ini. Barangkali, keberadaan patung ini juga untuk membangkitkan optimisme di kalangan sinematografi muslim bahwa seni perfilman ternyata pernah berhutang budi pada dunia Islam.

Kita tinggalkan sejenak Alhazen yang masih termangu menatap bola kristalnya untuk memasuki ruangan museum. The blue exhibition, adalah ruang pembuka yang menyajikan sejarah pendirian museum. Menariknya, museum film ini ternyata digagas setelah Revolusi Islam, sekitar tahun 1994 dan dipindahkan ke Bagh-e Ferdows sejak tahun 2002. Foto para pionir perfilma8n Iran seperti Ebrahim Khan Akkas Bashi dan berbagai equipment pembuatan film sejak dinasti Qajar dipajang dalam ruangan ini. Menurut keterangan petugas, sampai saat ini ada sekitar 350 koleksi perlengkapan film yang dipajang di museum ini.

Di ruang berikutnya, kita akan disambut oleh dua patung sinaes kawakan Iran. Ali Hatami, patung berkaca mata, seorang produser sekaligus penulis skenario yang paling terkemuka di jamannya. Patung lainnya adalah replika Ezzatollah Entezami, aktor senior Iran. Di bagian ini juga dipajang berbagai foto para sutradara, actor, poster film, transkip, dan berbagai koleksi pribadi para insan perfilman. Koleksi para pekerja film perempuan juga dapat dilihat di salah satu sudut ruangan, termasuk  milik Rakhsan Bani Etemad, sutradara kenamaan yang menggarap film-film bertema perempuan seperti Narges, The May Lady, dan The Blue-Veiled yang berhasil meraih penghargaan di festival film Locarno.

Keberhasilan produksi film di Iran sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Peran negara cukup kuat dalam 9mendukung industri perfilman nasional. Penerapan aturan ketat untuk film-film asing di biskop, memberikan peluang lebih banyak kepada produksi film lokal. Diselenggarakannya festival film Fajr setiap tahun juga menghadiahkan iklim persaingan positif. Namun di luar itu semua, yang lebih penting lagi sebenarnya peran langsung negara dalam memrakarsai dan mendanai film-film bertema relegius yang diangkat dari sejarah, seperti Nabi Sulaeman, Nabi Yusuf, Siti Maryam, Mukhtarnameh, Imam Ridha, dan film-film Islami lainnya.

Saya pun melanjutkan langkah menuju ruangan anak, ruang penyimpanan piagam, dan ruang difa mukaddas (dokumentasi film perang). Letaknya di lantai pertama. Kami harus menuruni anak-anak tangga, karena ketika memasuki pintu utama secara otomatis langsung berada di lantai kedua. Di ruangan anak, pengunjung bisa melihat berbagai dokumentasi pembuatan film anak dari mulai kostum, dekorasi, tokoh-tokoh cerita, dan poster berbagai film. Kami cukup lama berada di ruangan ini, karena anak saya sangat antusias melihat puluhan poster film anak.

Ruangan terakh10ir yang kami kunjungi mirip sebuah bioskup kuno. Bangku-bangku tua, layar putih, lukisan klasik, dan equipmen perfilman lainnya menghiasi ruangan ini. Biasanya, di hari-hari lain, pengunjung bisa menonton film tertentu dengan memilih sendiri subtitle. Sayangnya, kami datang hari Jum’at sehingga tidak bisa merasakan nonton di bioskop klasik ini. Tapi kami cukup puas duduk-duduk di bangku tua sambil menerawang masa depan film-film Indonesia. Belakangan, satu dua film bernafas religi memang mulai meramaikan perfilman nasional seperti Hafalan Shalat Delisha, Emak Ingin Naik Haji, dan lain-lain. Tapi jumlahnya masih sangat kecil dibanding film-film umum lainnya.

Dari bangku tua ini, kami m11asih menaruh harapan sekaligus doa untuk geliat dan kebangkitan film-film Islami di Indonesia. Tentu saja, bukan film yang hanya menampilkan simbol-simbol Islam, seperti artis berjilbab dan kehadiran pak Haji, tapi cerita dan pesannya tidak berbeda dari film-film mainstream Indonesia. Film Islami harus mengajak creator dan penikmat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki kondisi masyarakat. Sebagaimana yang disebutkan oleh Nasr, seni Islam merupakan karya-karya yang mengekspresikan dimensi-dimensi spiritual, merefleksikan prinsip-prinsip tauhid, sehingga ia mampu menuntun manusia untuk kembali kepada Tuhan. (AfifahAhmad/LiputanIslam.com)

 

*Penulis adalah travel-writer, pernah menerbitkan buku berjudul “The Road to Persia”, tinggal di Teheran

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*