Oleh: Ahmad Muhakam Zein*

toko Halawah (manisan)

toko Halawah (manisan)

Ada pemandangan berbeda, setiap Mesir memasuki bulan Rabi’ul Awal atau bulan Maulid. Di bulan ini, hingga puncak perayaan Maulid 12 Rabi’ul Awal, Mesir tampak lebih manis dan ceria. Sebagian penduduk Mesir yang biasanya mulutnya rajin mengumpat pun kini lebih manis dalam berbicara. Mereka juga kerap saling melontarkan madah (puji-pujian) atas keluarga Nabi. Apalagi di daerah tempat saya tinggal, kawasan masjid al-Azhar yang juga dekat kompleks masjid Sayidina Husein Kairo, nuansa manis Maulidnya terasa begitu kentara.

Tahun 2015 ini, bulan Maulid bertepatan dengan musim dingin dan masa-masa ujian Universitas al-Azhar. Keceriaan saya jadi sedikit berkurang karena harus pula berkutat dengan diktat kuliah dan tidak bisa bebas lagi mengunjungi ragam acara haflah Maulid yang ada. Di setiap bulan Maulid, memang banyak acara yang digelar khusus untuk memeriahkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Mulai dari pertunjukan tarian sufi di museum sekitar Kairo, teater sufi, karnaval sufi, hingga halakah ilmiah bersama para syekh Azhar. Acara-acara tersebut digelar sejak awal Rabi’ul Awal hingga akhir bulan. Sampai-sampai ada selorohan dari seorang kawan, belum sempurna perayaan Maulid seseorang kalau belum pernah menikmati sensasi perayaaan Maulid di bumi Seribu Menara, Mesir.

Kemeriahan di depan masjid Husein

Kemeriahan di depan masjid Husein

Sabtu pagi menjelang siang itu, saya berniat berziarah ke makam Sayidina Husein Kairo. Selepas mengaji kitab Sahih Bukhari dari masjid Sidi Imam Dardiri, saya biasanya memang melanjutkan destinasi ke masjid Husein untuk berziarah. Selain lokasinya yang memang tidak jauh, suasana siang hari bagi saya memang paling ideal untuk berziarah di makam sayidina Husein pada saat puncak musim dingin. Suasananya tidak terlalu ramai dan tidak terlalu dingin. Namun, ternyata kali ini perkiraan saya meleset. Siang itu suasana makam sangat ramai dan berjubel manusia. Untuk bisa masuk masjidnya saja saya mesti berjuang ekstra dulu, berdesak-desakkan di pintu.

Ah, agaknya saya terlupa akan satu hal, yakni hari ini merupakan puncak perayaan Maulid. Saya menduga puncaknya masih sehari-dua hari lagi, tapi ternyata malah hari ini. Pantas saja, di sepanjang jalan menuju makam Sidna Husein tadi, banyak terlihat penjual aneka manisan (halawah) dan lalu-lalang manusia berpakaian ala sufi. Saya lantas membatin, kalaulah hari ini merupakan puncaknya, berarti sore ini pula akan ada karnaval sufi dan haflah Maulid bersama para syekh di auditrium madyafah syekh Ismail Shadiq Darrasah. Dan malamnya, akan ada pula konser musik sufi bersama syekh Yasin Tuhami di pelataran masjid ini. Ketika saya tanyakan kepada seseorang pengunjung, ia membenarkan semua yang saya batin tadi. Saya pun akhirnya memutuskan untuk bertahan di masjid Husein, untuk turut menyaksikan dan larut dalam kegembiraan haflah Maulid.

pawai kaum sufi

pawai kaum sufi

Benar saja, ribuan orang yang kebanyakan berpakaian khas pengikut tarekat sufi mulai tumpah ruah di luar kompleks masjid Husein, ketika waktu kian bergulir ke senjakala. Penduduk pribumi Mesir dari sekitaran Kairo juga tampak berbaur dengan ribuan pengunjung yang mayoritas berafiliasi ke tarekat-tarekat sufi yang ada di Mesir. Mereka datang dari jauh semata untuk melihat pawai dan turut merayakan puncak Maulid nabi pada hari ini.

Pawai sufi bermula dari depan masjid Syekh Shaleh Ja’fari Darasah menuju masjid Imam Husein yang berjarak 500 meter. Para peserta berjalan riang, sambil sesekali menarikan tari-tarian sufi dan mendendangkan salawat salam atas nabi. Acara haflah rutinan ini memang selalu ramai dikunjungi masyarakat pribumi Mesir, baik yang berdomisili di Kairo ataupun yang dari propinsi-propinsi luar Kairo. “Kami datang ke sini setiap tahunnya karena kami mencintai nabi Muhammad SAW. Rumah kami jauh dari sini, tapi insya Allah akan selalu datang. Wallahi, kami bersuka cita mencintai nabi, anak dan cucu-cucu Muhammad. Shallu ‘ala an nabi,” pungkas Ahmad yang mengaku dari Sha’idi menutup pembicaraan dengan penuh semangat.

pembacaan madah oleh tarikat sufi

pembacaan madah oleh tarikat sufi

Seolah tidak mau kalah dengan kaum Sufi, para ulama di Mesir pun merayakan Maulid nabi dengan membuat acara berbeda-beda. Dimulai dari ikatan alumni Yaman di Mesir yang rutin mendatangkan Habib Umar al Hafid untuk merayakan Maulid di loteng Sahah Yamaniah, yang berada di kompeks makam Sidna Husein. Selain itu ada halakah Maulid yang diadakan oleh Syekh Ali Jum’ah di masjidnya, perayaan Maulid oleh beberapa syekh besar Azhar di auditorium Madyafah Syekh Ismail Shadiq al-Adawi, Syekh Hisyam Kamil di Sahah Syekh Sa’id Imran di Darassah, maupun haflah Maulid di auditroum Shalah Kamil bersama Syekh Usama Sayid Azhari dan para syekh al-Azhar lainnya.

Ada hal hal menarik yang disampaikan Syekh Ali Jum’ah. Beliau membahas perbedaan pendapat soal tanggal lahir Nabi Muhammad SAW. Menurut beliau, dari perbedaan itu, seolah-olah Allah SWT menyembunyikan kepastian hari kelahiran Rasulullah. Seperti halnya ketika Allah menyembunyikan kapan pastinya Lailatul Qadar. Ada hikmah tersirat yang bisa diambil terkait menyikapi adanya sebuah perbedaan. Yakni, hendaknya tidak merayakan hari kelahiran beliau pada satu hari saja di bulan Rabi’ul Awal, tapi merayakan selama sebulan penuh, bahkan hingga setahun penuh.

salah satu halakah Maulid

salah satu halakah Maulid

Mestinya, dari situ kita bijak menyikapi perbedaan soal Maulid. Fakta historis membuktikan spirit Maulid mempunyai dampak positif bagi perjuangan Islam. Dalil Quran maupun hadits secara tersirat telah mendukung legalitas perayaan Maulid. Begitu juga dari literatur fikih. Kalaupun Maulid termasuk bid’ah, maka ia akan masuk pada bid’ah yang hasanah, alias hal baru yang positif. Tentang adanya pihak yang setuju atau tidak atas sebuah hal baru, itu adalah sebuah keniscayaan. Bukankah justru kita tak boleh memaksakan ihwal baru yang masih diperdebatkan untuk “wajib” diterima atau ditolak semua pihak. Bahkan di Saudi, yang sejak dahulu paling getol menyuarakan Maulid adalah bid’ah, pun ada kubu syekh yang membolehkan Maulid. Shallu ‘ala nabi Muhammad.

 

*mahasiswa Universitas al-Azhar Kairo, Mesir; simak tulisannya sebelumnya Indahnya Ramadhan di Mesir, Idul Fitri di Mesir, dan Berburu Senja Kesumba di Alexandria 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL