blanx

Tom Blanx (amonthinpalestine.wordpress.com)

Tom Blanx, seorang warga London, memutuskan untuk tinggal sebulan di Palestina untuk mengetahui langsung seperti apa kehidupan di sana. Ia tinggal di desa Marda, di distrik Salfit, yang merupakan produsen minyak zaitun terbesar di Palestina. Desa ini sesungguhnya sebuah ghetto (daerah terisolir dan melarat), dengan dikelilingi pintu baja dan pagar besi dilengkapi kawat berduri. Berikut ini kutipan catatan pengalaman Blanx di Palestina.

Marda adalah desa konservatif, dan tradisional. Kaum perempuan menggunakan kerudung di depan publik dan bersosialisasi secara terpisah dari laki-laki. Namun, semua orang sangat ramah dan interaktif. Meskipun mereka mengalami penjajahan, pelecehan, dan intimidasi, semua warga terlihat bersemangat. Ada kebersamaan yang hakiki di sini, dan jauh lebih sejuk dibanding yang sering dibayangkan Barat tentang orang Palestina. Ada banyak senda gurau di antara mereka. Teman saya Murad, sering menggoda teman-teman akrabnya.

Orang-orang Palestina sangat mencintai anak-anak mereka, terutama yang masih kecil, seolah-olah mereka ingin melindungi anak-anak kecil itu sepenuhnya. Anak-anak itu terlihat bebas di Marda. Anak usia 6 tahun berjalan kaki ke sekolah, mereka pergi berbelanja ke toko, dan bermain di area terbuka tanpa diawasi. Sekilas seolah mereka tidak diurusi. Namun, warga Marda punya kebijakan sendiri. Di sini, setiap orang saling mengenal dan menjaga. Jika ada anak kecil yang bermain keluar batas aman, orang dewasa terdekat akan segera mengingatkan.

halte bus khusus Israel (amonthinpalestine.wordpress.com)

halte bus khusus Israel (amonthinpalestine.wordpress.com)

Sikap Politik Warga

Saya bertanya kepada teman saya, Murad, tentang pandangannya terhadap Israel. Di desa Marda, ada relawan-relawan “aktivis perdamaian” Israel. Murad bekerja sama dengan orang-orang Israel itu.

“Apakah banyak dari orang Israel datang ke sini untuk membantu?” tanya saya.

“Ya, tapi saya tidak suka. Ini membuat saya tampak buruk,” jawab Murad.

Aktivis perdamaian Israel datang dan bertanya, apa yang bisa dilakukan untuk membantu warga Palestina. Murad memberikan jawaban singkat, “Pergilah.” Ini seolah jawaban yang kasar, namun Murad adalah lelaki yang pernah ditembak, dipenjara, dan melihat rumah dan tanah keluarganya direbut oleh imigran Israel.

“Orang-orang itu berkata mereka aktivisi perdamaian, namun jika benar mereka menginginkan perdamaian, mereka harusnya meninggalkan Israel. Siapa yang membangun rumah Anda? Orang yang membangun rumah Anda kini sedang hidup di tenda dan Anda bicara tentang perdamaian?” kata Murad.

Kami lalu bicara tentan gerakan ‘Breaking the silence’ (sekelompok veteran Israel bersuara menentang penjajahan atas Pakestina). “Breaking the Silence itu bajingan! Mereka telah membunuh laki-laki, wanita, dan anak-anak tak berdosa, dan kemudian mereka merasa buruk dan meminta maaf? Persetan dengan kata-kata maaf itu!”

Murad mengucapkan kalimat-kalimat itu dengan datar, bukan dengan kemarahan.Murad sama seperti banyak warga Palestina lainnya, mereka merasa sudah “dijual” oleh Israel, oleh Amerika, oleh Inggris, oleh negara-negara Arab, dan oleh pemimpin mereka sendiri.

“Dunia tidak peduli. Jika mereka peduli,warga Palestina akan mendapatkan keadilan,” kata Murad.

Babi di Marda

Murad di kebunnya (amonthinpalestine.wordpress.com)

Murad di kebunnya (amonthinpalestine.wordpress.com)

Suatu hari, saya merokok di bagian atas rumah yang saya tempati, tiba-tiba terdengar suara kerikil berisik dari bukit di belakang rumah. Cahaya saat itu remang sehingga pemandangan tidak terlihat jelas. Saya melihat empat makhluk besar, turun dari bukit! Saya ketakutan!

Esok paginya, saya ceritakan kepada Murad. Dia menjawab, “Itu babi. Mereka datang dan menghancurkan semuanya dalam beberapa menit!”

Ternyata, ini bukan hanya di desa Marda. Tampaknya, di seluruh kawasan Tepi Barat, babi-babi telah menghancurkan panen, pohon-pohon, dan terkadang menyerang manusia. Semua terjadi sejak 2004. Orang-orang mengklaim babi-babi itu didatangkan pasca Intifada. Seorang laki-laki bahkan menyatakan pernah melihat babi-babi itu sengaja dilepas di beberapa kawasan. Memang ini terdengar bagai tuduhan liar; namun, di kawasan dimana polusi sengaja diarahkan pada komunitas tertentu, kotoran sengaja dibuang di saluran air warga, dan anak-anak para imigran sengaja berbaris melewati desa untuk mengganggu warga lokal, tuduhan seperti itu bisa dipercaya. Saya hanya bisa mengira-ngira, mengapa harus babi? Agitasi? Pelecehan?

“Sebelum tahun 2004 tidak ada babi di Palestina! Sekarang ada banyak babi! Mereka kan tidak terbang?!” kata seseorang.

Murad memperlihatkan kepada saya, kerusakan yang dibuat babi-babi itu pada ladang jagungnya. Bahkan ada undang-undang yang dikeluarkan Israel, bahwa petani tidak boleh membunuh babi-babi itu! (dw/LiputanIslam.com)

sumber: amonthinpalestine.wordpress.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL