Syarief Hiedayat (foto: dok pribadi)

Syarief Hiedayat (foto: dok pribadi)

Oleh: Syarief Hiedayat*

Qal’eh Rudkhan (Persia: قلعه رودخانatau Benteng Pertahanan Rudkhan) berada di barat daya kota Fooman, Provinsi Gilan. Awal musim panas lalu, aku beruntung bisa menngunjunginya dalam sebuah tur yang dikoordinasi pihak Madrasah tempatku menuntut ilmu di Iran. Qal’eh Rudkhan terletak di Provinsi Gilan, Iran Utara. Untuk bisa sampai ke Qal’eh (benteng), kita harus melewati beberapa pedesaan. Bis yang membawa kami melewati pedesaan-pedesaan itu, semakin jauh jalanan semakin menanjak. Akhirnya kami sampai di desa terakhir, yaitu Desa Qal’eh Dane (Dahane). Bis hanya bisa mengantarkan kami sampai di sini.

Perjalanan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki. Setelah melewati jalanan berdebu, akhirnya kami sampai di hutan Rudkhan. Perjalanan masih belum cukup sampai di sini. Karena Qal’eh Rudkhan berada di puncak gunung, kami harus mendaki tangga yang orang sebut dengan Hezar Peleh(Persia: هزار پله ) atau seribu tangga. Yupz, kami harus melewati dulu sekitar seribu tangga untuk sampai di puncak gunung sana. Beberapa kali saya dan teman-teman terpaksa berhenti karena lelah. Ada di antara teman kami yang menghitung tangga tersebut. Katanya, hanya ada 988 tangga. Tapi, mungkin saja dia terlewat menghitung.

Setelah sampai di pintu gerbang benteng ini, rasa lelah langsung sirna, tersihir oleh keindahan bangunan tua ini. Hari itu banyak juga turis lokal yang datang. Pemandangan laut Kaspia pun terlihat dari atas gunung ini.

tangga menuju Rudkhan Castle (foto:Syarief)

tangga menuju Rudkhan Castle (foto:Syarief)

Qal’ehRudkhan merupakan salah satu dari warisan penting berupa benteng-benteng pertahanan pemerintah Iran, terutama untuk Provinsi Gilan. Dan benteng ini merupakan benteng terbesar di Gilan dan bahkan di Iran. Luas benteng ini sekitar 6,2 hektar dan panjang 1500 Meter. Ada sekitar 65 menara pengintai di sini.

Rudkhan atau Rudkhane (Persia :رودخان مخفف رودخانه) adalah bahasa Persia yang berarti sungai. Benteng ini memang dekat dengan sebuah sungai. Adapun nama lain dari benteng ini adalah Qal’eh Hezar Peleh (Benteng Seribu Tangga), Qal’eh Hisami (Benteng Hisami), Qal’eh Sagsardan, Qal’eh Sagsal (Benteng Sagsar atau Sagsal).

Beberapa sejarawan mengatakan bahwa benteng ini dibangun pada masa Kekaisaran Sassania dan berbarengan pada saat pasukan Arab menyerang Iran. Kemudian pada masa Kekaisaran Seljuk benteng ini diperbaharui dan menjadi benteng pertahanan kaum Isma’iliyah.

(foto:Syarief)

(foto:Syarief)

Benteng ini kembali diperbaharui sebagai persembahan untuk Sulthan Hisamuddin Amir Dibaj Bin Amir Alauddin Ishaq pada tahun 918 sampai 921 Hijirah. Oleh karenanya Benteng ini dinamakan pula Qal’eh Hisami. Tujuan memperbaharui benteng ini adalah untuk berlindung dari kerajaan Shafawi yang menguasai Iran pada saat itu. Sulthan Hisamuddin dianggap tidak taat terhadap kerajaan Shafawi sehingga pada akhirnya Sulthan Hisamuddin berhasil terangkap dan dihukum mati di kota Tabriz.

Benteng ini sangat luas, sehingga kami tidak bisa melihat semua detil-detil benteng ini. Namun, benteng ini secara umum terbagi dua, bagian barat dan timur. Bagian timur disebut bagian Arga, yang merupakan tempat tinggal para penguasa danistri-istrinya. Di bagian ini terdapat gerbang masuk, koldan, mata air, tempat penyimpanan danpendingin air, Hamam (kamar mandi khusus pada masa kerajaan), air mancur, ruangankerajaan, dan beberapa ruang lainnya yang dibatasi olehmenara-menara.

Arga atau rumah Raja ini terdiri dari dua lantai dan terbuat dari batu bata. Rumah pengawal pun terdiri dari dua lantai denga npencahayaan yang mampu menerangi setiap ruangan dan terdiri beberapa lubang yang digunakan untuk memantau keadaan kastil.

Rudkhan Castle (3)Sedangkan bagian Timur adalah tempat aktifitas dan tempat tinggal para tentara kerajaan. Bagian timur tidak lebih luas dibanding bagian barat. Di bagian ini lebih bernuansa militer, di dalamnya terdapat penjara, beberapa tempat tinggal, dan pintu darurat.

Aspek lainnya yang sangat menarik adalah arsitektur Qal’ehRudkhanini. Penggunaan lengkungan yang berliku-liku dan dengan menggunakan batu bata yang bermacam jenis serta batu-batu pilihan, membuatnya terlihat eksotis. Mereka membangun bangunan ini tepat di atas gunung, di mana banyak sekali tebing-tebing yang curam. Ini semua menandakan keahlian dan kemahiran para pembangunnya yang sangat luar biasa. Saya tak bisa membayangkan betapa besar upaya dalam membangun benteng ini, membayangkan orang-orang harus mengangkat batu-batu itu ke puncak gunung ini. Benteng ini seolah mengajarkan kepada orang-orang yang mengunjunginya tentang makna dan keabadian karya yang dilakukan melalui kerja keras dan kegigihan.(LiputanIslam.com)

_______

*Penulis adalah Mahasiswa Al-Musthafa International University, Branch Gorgan. Wawancara dengannya tentang kehidupan di Iran bisa dibaca di sini. Baca catatan travelingnya “Bertandang ke Masjid Abu Bakar Shiddiq ra di Iran” di sini )

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL