kandovan-1“Seperti di negeri dongeng,” komentar seorang teman ketika melihat foto desa Kandovan yang dimuat di beberapa situs wisata. “Suatu saat saya harus singgah di sana, meski hanya menumpang di rumah penduduk,” kata teman lainnya dengan penuh harap. Dan aku menahan debar halus saat melihat papan nama yang menunjukkan bahwa desa Kandovan hanya berjarak 15 km lagi. “Wow..! Benarkah sekarang aku sedang memasuki pintu gerbang desa itu?” bisikku setengah tak percaya. Belaian angin pegunungan juga lambaian daun-daun pohon walnut di sepanjang kiri kanan jalan, seolah meyakinkanku tidak lama lagi ‘negeri dongeng’ Kandovan akan segera tersuguh.

Perjalanan ke barat laut Iran ini memang sudah lama kunantikan. Desa kecil Kandovan ada di lereng gunung Sahand yang berjarak 62 km dari kota Tabriz. Perjalanan ke Tabriz sendiri sangat panjang. Untungnya, kondisi jalan cukup baik, lebar, dan mulus. Jarak Teheran-Tabriz sekitar 620 km, bisa ditempuh hanya dalam waktu 8 jam. Inilah di antara yang membuatku kagum, infrastruktur jalanan di Iran sangat baik hingga ke daerah-daerah. Seperti yang juga kusaksikan sepanjang perjalanan dari Tabriz menuju desa Kandovan.

Pagi baru saja menyingsing saat mobil yang kami tumpangi tiba di tepi desa. Dari kejauhan, batu-batu berbentuk kerucut mulai tampak menawan. Semakin mendekat, potret keseharian masyarakat kian terlihat memikat. Lanskap desa yang tertangkap oleh mataku memang tak seindah yang tertuang dalam foto-foto. Gambar dua dimensi itu seringkali hanya bercerita tentang sebuah kampung sunyi di lereng gunung. Namun sesungguhnya, ada banyak sudut-sudut menarik di Kandovan yang kerap terabaikan oleh kamera. Kandovan yang kulihat hari itu lebih eksotis dari hanya sekedar sebutan negeri dongeng. Denyut nadi kehidupan desa adalah keindahan sebenarnya yang menghubungkan kita ke pusaran masa lalu. Konon, rumah dengan tipe gua seperti ini hanya ada tiga tempat di dunia, yaitu Amerika, Turki, dan Iran. Namun, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Kandovan adalah sampai saat ini desa itu masih dihuni oleh warga setempat. Maka, Kandovan ibarat sebuah museum antropologi yang hidup, ajaib, dan mengesankan.

Setelah menaiki tangga-tangga curam, akhirnya bisa kusaksikan dari dekat bongkahan batu-batu kerucut yang digali menjadi rumah-rumah. Kata kandovan sendiri artinya tempat yang digali. Batu-batu ini merupakan tumpukan debu yang memadat selama ribuan tahun akibat letupan gunung berapi Sahand. Pergulatan angin kencang dan hujan lebat menyisakkan dinding-dinding tebal yang sampai saat ini menjadi ruang pelindung efektif dari hantaman angin dingin maupun panas matahari. Di Kandovan, biasanya musim dingin jauh lebih panjang daripada hari-hari hangat. Suhu dingin di bulan-bulan tertentu pun bisa sangat ekstrim. Hari itu pun, meski kami datang pada akhir musim panas, namun tetap harus mengenakan baju hangat.

Hotel dan Warga

kandovan-2Dari sebuah bangku di halaman rumah penduduk, kusaksikan langsung keseharian warga Kandovan. Seorang kakek menggiring ternaknya ke padang sabana, pemilik kedai-kedai di pasar bersiap membuka kiosnya, juga dua anak yang tampak bersahabat dengan keledai mereka. Kegiatan warga itu sama sekali tak terganggu oleh hilir mudik para turis yang datang membawa mobil-mobil keluaran terbaru. Inilah titik paling menarik yang kucatat dalam perjalanan kali ini. Kehadiran unsur-unsur modernitas, tidak banyak merubah tatanan dan pola interaksi masyarakat.

Tidak jauh dari desa itu, terdapat hotel bintang lima “Laleh Kandovan” yang mengambil inspirasi dari kehidupan desa setempat. Awalnya, bangunan ini berupa bongkahan batu kerucut seperti yang ditinggali penduduk, lalu dipahat dan didesain menjadi ruang-ruang eksklusif, namun tetap mempertahankan konsep gua. Pintu-pintu kamar dirancang menghadap langsung ke arah perbukitan. Hotel ini juga dilengkapi restoran dan kafe dengan arsitek yang menawan. Namun, lebih dari itu, yang sangat menarik adalah kehadiran hotel itu sendiri di tengah kehidupan desa yang mampu menjaga keseimbangan sosial. Masyarakat tetap menikmati kehidupan mereka secara alamiah. Di sisi lain mereka merasa menjadi bagian keluarga besar pengelola hotel. Barangkali, karena sejak awal masyarakat setempat memang dilibatkan dalam proses pembangunannya. Konon, untuk memahat bongkahan batu-batu itu, pihak pembangun tidak mendatangkan peralatan canggih dari luar daerah, tapi dilakukan oleh tangan-tangan penduduk lokal. Bisa jadi, faktor inilah yang akhirnya menjadi perekat sosial.

Museum Antropologi

kandovan-3Kami kemudian pergi ke museum antropologi desa Kandovan. Setiap kunjungan ke berbagai tempat bersejarah di Iran, hampir selalu ada museum antropologi yang merekam jejak sejarah dan aktivitas masyarakat setempat. Biasanya, digambarkan dalam patung boneka yang mengenakan baju adat dengan beragam aktivitasnya. Selain itu, terdapat juga berbagai dokumen dan benda-benda peninggalan nenek moyang warga setempat.

Tentang sejarah awal penduduk Kandovan, ada banyak versi cerita. Di antara yang masyhur, 700 tahun lalu, saat terjadi serangan tentara Mongol, warga mengungsi ke gua-gua di Kandovan. Setelah peperangan usai, masyarakat memutuskan untuk menetap dan melanjutkan kehidupan di tempat ini. Sebagian berpendapat, Kandovan telah menjadi tempat hunian sejak masa Zoroastrian. Mereka berhijrah dari tepi danau Urmieh untuk menyelamatkan anak-anak dan keluarga mereka dari serangan ular berbisa.

Namun, catatan yang menarik adalah terbentuknya masyarakat Kandovan sendiri tidak lepas dari hubungan kuat antara manusia dan alam. Lereng gunung Sahand menyimpan padang sabana yang luas dan hijau. Dahulu, para penggembala datang dari berbagai tempat untuk menggiring ternak-ternak mereka. Kondisi cuaca yang ekstrim mengharuskan mereka mencari tempat berlindung hingga terbentuklah sebuah koloni.

Kandovan hari ini pun, tetap menyimpan heroisme dan kerja keras. Lihatlah! Lelaki senja yang masih bersemangat menggiring ternak-ternaknya. Bahkan, di saat rumah-rumah mereka telah terhubung dengan pipa-pipa gas dan aneka jenis mobil terlihat parkir di tepi desa. Ritme hidup di sini tetap terasa tenang namun pasti. Sungguh, Kandovan telah membuatku jatuh cinta. (Afifah Ahmad/Liputan Islam.com)

*penulis adalah travel writer, pernah menulis buku The Road to Persia, tinggal di Teheran

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*