pantai Maroko (foto: tourismoroc.blogspot.com)

pantai Maroko (foto: tourismoroc.blogspot.com)

Oleh: Alvian Iqbal Zahasfan*

Maroko terletak di utara Afrika yang berhadapan dengan dua samudera, Samudera Atlantik dan Mediterrania. Negara ini memiliki pemandangan menakjubkan, baik pegunungan maupun sahara. Beragam warna alam akan berubah selama empat musim.

Tahun ini, saya melewati bulan Ramadan di Maroko. Banyak pengalaman menarik yang saya alami. Orang-orang Maroko umumnya bermadzhab Maliki. Mereka meyakini Lailatul Qodar jatuh pada setiap tanggal 27 Ramadan. Karena itulah pada malam 27 Ramadan, suasana semarak terasa di negeri ini. Orang-orang berbondong-bondong ke masjid untuk beribadah, berusaha mencari pahala yang nilainya lebih besar dari ibadah 1000 bulan.

Suasana dalam masjid (foto: Alvian)

Suasana dalam masjid (foto: Alvian)

Ibadah sholat Jumat di Maroko juga terbilang unik. Pada Jumatan ketiga di bulan suci Ramadan, saya melaksanakannya di masjid Muhsinin di bilangan Al-Manal, Rabat (ibu kota Maroko). Jumatan ala Maroko berbeda dengan di Indonesia. Setengah jam sebelum khutbah, para jamaah membaca Al Quran bersama-sama, seperti tradisi mereka setiap ba’da Subuh dan Maghrib (atau Ashar, jika Ramadan). Namun sayang, bacaan Quran mereka seringkali tidak mengindahkan aturan tajwid. Gunnahnya hilang, ikhfa’nya lenyap, panjang pendeknya amburadul.

Selesai tadarus, adzan dikumandangkan tiga kali. Dulu, kalau di Indonesia kita rebut,adzan satu kali atau dua kali.Tapi di Maroko malah adzannya 3 kali. Meskipun, sebagian ulama Maroko ada yang mengatakan itu bid’ah.

penulis bersama rekan2

penulis bersama rekan2

Perbedaan lain, khutbah mereka juga tidak wajib berisi wasiat takwa. Padahal, khatib di Indonesia harus berbicara soal takwa dalam khutbah Jumat. Di antara dua khutbah, para jamaah serentak menengadahkan tangannya karena meyakini saat itu adalah waktu mustajab (dikabulkannya doa). Lalu, di akhir khutbah, khotib pasti mendoakan Raja dan keluarganya agar diberi taufiq dan inayah oleh Allah Ta’ala dalam mengatur Kerajaan Maroko.

Adapun pakaian khotib, Anda akan terkesima melihatnya. Mereka memakai dua setelan: pakaian dalam berupa baju dan celana putih tulang khas Maroko, di luarnya menggunakan jubah kebesaran yang berwarna putih tulang. Terlihat “mewah”. Tampaknya, para khotib itu meneladani Imam Malik yang diriwayatkan sangat memperhatikan pakaiannya. Tujuan Imam Malik adalah untuk mengagungkan ilmu. Beliau berkata “Sejatinya muruah (kewibawaan) ulama harus dijaga dengan memilih pakaian, peci dan surban yang bagus sehingga setiap mata yang memandangnya memandangnya dengan ketakjuban dan kesempurnaan.”

suasana tarawih di Maroko (foto:Alvian)

suasana tarawih di Maroko (foto:Alvian)

Transportasi di Maroko

Suatu malam Rifqi, teman saya, mengajak sholat tarawih ke Masjid Lalla Soukaina. Lalla adalah bahasa Darija yang berarti “Putri” atau Princess. Lalla Soukaina merupakan putrinya Lalla Meryem. Sedangkan Lalla Meryem anak tertua mendiang Raja Hassan II dengan istri keduanya Lalla Latifa Hammou.

Masjid Lalla Soukaina terletak di kawasan elit Hay Riyad, Rabat. Kami memakai taksi karena bus kota sudah tidak beroperasi karena larut malam dan memang tidak ada jalur yang langsung ke sana. Taksi di kota Rabat berwarna biru, sedang di kota-kota lain punya warna khas masing-masing. Uniknya, di tengah jalan orang lain bisa naik bersama kita selama masih satu arah. Bayarnya masing-masing sesuai argo.

bis kota (foto:Alvian)

bus kota (foto:Alvian)

Di Maroko ada beberapa jenis transportasi, yaitu bus dalam kota, taksi grand (baca: Grong), taksi biasa, khottof (omprengan), dan Honda (untuk angkut barang). Taksi Grong (grand taxi) adalah sedan Mercedes Benzberwarna putih, di atasnya ada tulisan “Taxi” berwarna kuning. Taksi ini bisa dijumpai di setiap kota di Maroko. Kata orang bule “Grand taxis won’t take off until they are full” (taksi grongnggak bakal berangkat sampai penumpang penuh). Ya, di situlah uniknya. Taksi ini hanya akan berangkat kalau penumpangnya 6 (dua orang di samping sopir, 4 orang di kursi belakang), tentu yang tujuannya sama. Jelas kita bakal empet-empetan duduknya. Tak nyaman. Jika sopirnya agamis, dia akan mengatur posisi duduk antara penumpang laki-laki dan perempuan (supaya tidak berdempetan di antara non-muhrim).

hidangan Maroko (foto:Alvian)

hidangan Maroko (foto:Alvian)

Makanan Khas

Di bulan Ramadan, saat matahari terbenam akan terdengar suara meriam atau sirene untuk mengumumkan waktu berbuka. Orang-orang pun bergegas untuk menyantap hidangan iftar. Di masjid-masjid, banyak disediakan makanan gratis untuk buka puasa.

Makanan khas buka puasa di Maroko adalah harira atau sup tomat, biasanya dibumbui lada hitam, kayu manis, jintan, atau jahe. Di dalamnya juga ada kacang-kacangan dan daging domba. Selain sup, makanan khas Maroko adalah berbagai jenis roti, ada yang bundar, ada yang pipih. Bisa disantap dengan selai dan keju, sayuran, atau telur rebus, ikan atau daging. Minuman khas iftar, antara lain jus campuran mentimun, jus jeruk, dan oregano. Atau, teh rasa mint. Tentu tak lupa, kurma dan berbagai kue manis juga dihidangkan. (LiputanIslam.com)

*penulis adalah mahasiswa S3 di Maroko

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL