Bangunan pencakar langit di Shibam. Foto: M Abdul Muhith

Bangunan pencakar langit di Shibam. Foto: M Abdul Muhith

Menjelajahi Hadhramaut, kita tidak akan bisa lepas dari nilai-nilai peradaban Islam. Negeri ini sarat dengan sejarah dan penuh dengan rahasia kebesaran Tuhan yang melingkupinya. Ingatkah, ketika Allah Yang Maha Suci menandaskan kalamnya dalam Surat Asy-Syuara: 128-129 yang berbunyi: Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (didalammnya)? Kisah ini mendeskripsikan atas perbuatan kaum ‘Ad, kaum yang diberi kelebihan keahlian merancang arsitektur bangunan. Selain itu mereka juga diberikan kelebihan jasmani yang kuat nan perkasa.

Disebutkan dalam sejarah, bahwa tidak ada kaum selain ‘Ad yang hidup di antara Oman dan Yaman — yang tempat tersebut dikenal sebagai Hadhramaut. Sebuah negeri yang subur kala itu. Dari beberapa literatur yang saya baca, Hadhramaut adalah penerus kaum ‘Ad. Bukti-buktinya bisa kita lihat hari ini. Ada pertanian wewangian (baca: bukhur),  yang  masih diwarisi sampai sekarang, kepiawaian bangsa Hadhramaut dalam arsitektur terbukti dengan adanya 500 bangunan pencakar langit di kota Shibam (sekarang masih ada). Nah, 500 bangunan itu tak sembarang bangunan, kontruski rancang bangun yang luar biasa. Bahan bakunya dari tanah liat, kayunya dari sidr — sebuah kayu yang tahan rayap menurut keyakinan mereka. Keahlian penduduk Shibam inilah, disinyalir merupakan warisan dari nenek moyangnya kaum ‘Ad. Luar biasa menakjubkan. Semua bangunan pencakar langit itu terabadikan di tengah-tengah kota Shibam.

Penulis di acara Trans TV

Penulis di acara Trans 7

Blusukan ke Shibam, Kuak Keajaiban Tempo Dulu

Saat itu, saya berkesempatan mengelilingi Hadhramaut, terlebih lagi saat kunjungan salah satu televisi swasta tanah air, yaitu Trans 7 ke Yaman dalam rangka penggarapan program Ramadhan. Kota Shibam adalah kota pilihan yang memiliki banyak tabir rahasia disepanjang sejarah. “Menguak Keajaiban dan Warisan Arsitekstur Kaum ‘Ad di Kota Shibam, ” begitu sebuah episode menarik yang hadir di Trans 7.

Sekitar 2,5 jam kami menghabiskan perjalanan dari kota Tarim. Akhirnya, saya dihadapkan pada 500 bangunan pencakar langit yang menyembul gagah. Langit yang membentang luas, serta tiupan angin gurun pasir pagi itu, serasa membawa saya ke alam lain. Rasa lelah menyusuri bukit, terbayar sudah dengan indahnya panorama yang saya saksikan kemudian. Saat itu, suasana pagi masih sepi.

Bangunan pencakar langit di Shibam. Foto: M Abdul Muhith

Bangunan pencakar langit di Shibam. Foto: M Abdul Muhith

Shibam Manhattan Of The Desert, begitu sebutan dari sejarawan Barat pada kota yang sudah berumur 600 tahun ini, kota pencakar langit tertua di dunia di gurun pasir. Dan inilah kota yang pertama kali memperkenalkan the principle of vertical construction theory (pola pengembangan pemukiman secara vertikal). Banguan kota yang telah masuk deretan warisan bergengsi UNESCO pada 1982 ini, mempunyai luas area 14,10 H2 dan 16,40, dengan panjang 47,3 dan 49,18 H2. Di kota ini, hanya terdapat satu pintu masuk dari arah selatan. Bangunan di kota ini menyimpan banyak sejarah. “Tidak hanya masyarakat Yaman yang memiliki aset ini, bahkan orang diseluruh dunia,” begitu ungkap salah satu kementrian Yaman saat seminar yang dihelat oleh Departemen Kebudayaan dan Penerangan.

Kota yang dahulu pernah menjadi jalur perdagangan dan pusat pemerintahan, tercatat sebagai kota yang mempunyai jalur paling strategis. Kota yang pernah menjadi ibukota provinsi Hadhramaut ini, juga menjadi posko pemerintahan dinasti Abasiyyah dibawah kepemimpinan khalifah Harun Ar-Rasyid saat itu. Jejak pemerintahan mereka masih ada, diantaranya mimbar Harun Ar-Rasyid dan Masjid (mimbar dibadikan dalam museum, lokasinya berdampingan dengan masjid Harun Ar-Rasyid Shibam).

Bangunan pencakar langit di Shibam. Foto: M Abdul Muhith

Bangunan pencakar langit di Shibam. Foto: M Abdul Muhith

Menyusul banjir yang menghancurkan yang Shibam kala itu pada tahun 1532-1533, dan akibat   mengalami renovasi sebanyak 9 kali dari masa ke masa, tak lantas menjadikan kota ini kehilangan identitas. Terlepas dari itu semua, beberapa rumah-rumah tua dan bangunan besar masih tetap ‘pure’ dari abad-abad pertama Islam. Seperti masjid yang dibangun pada tahun 904 , dan benteng dibangun tahun 1220.

Bangunan-bangunan rumah disana tingginya bisa mencapai 30-40 meter. Setiap rumah terdiri dari 5 sampai 8 tingkat yang semuanya dibangun dengan tanah liat dan dindingnya diolesi dengan kapur. Tingkat pertama untuk kandang hewan dan penyimpanan biji-bijian. Tingkat kedua untuk menerima tamu,biasanya diukir indah dihiasi dengan kolom kayu mendukung langit-langit, sementara daerah perempuan ditemukan lebih tinggi, biasanya di lantai ketiga atau keempat. Kamar tertinggi adalah untuk penggunaan komunal oleh seluruh keluarga, dan di tingkat atas sering ada jembatan dan pintu yang menghubungkan rumah-rumah.

Bangunan pencakar langit di Shibam. Foto: M Abdul Muhith

Bangunan pencakar langit di Shibam. Foto: M Abdul Muhith

Ini adalah fitur yang defensif , tetapi juga praktis, terutama bagi orang tua yang merasa sulit untuk berjalan naik dan turun tangga. Adapun shutuh (atap atas yang terbuka) digunakan sebagai tempat istirahat di malam hari saat musim kemarau. Rumah-rumah yang telah dibangun selama berabad-abad ini, harus benar-benar mereka rawat dari ancaman konstan hujan dan erosi. Seperti menambah lapisan semen pada pondasi-pondasi dan perbaikan saluran air.

Syeikh Umar bin Abdullah Bamakhramah memberikan pujian untuk Shibam dengan berujar, “Shibam adalah kota yang agung.” Tokoh lainnya saat ditanya mengenai Shibam, Habib Abdurrahman bin Ubaidillah As-Seggaf berkata,“Shibam adalah yaqut (permata).” Kota yang berjarak 7 farsakh dari kota Tarim ini telah banyak menelurkan alim ulama.

Peranan kota ini juga dicatat dengan tinta emas di lembaran sejarah Islam. Berkesempatan berkeliling ditengah-tengah kesibukan kuliah di Yaman merupakan hal yang langka bagi saya, karena ini hanya bisa saya lakukan saat liburan. Untuk Anda para pembaca, jangan lupa mampir di Shibam saat berkunjung ke Yaman. (M Abdul Muhith/LiputanIslam.com)

 

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Al-Ahgaff Yaman.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL