foto: farchan nr

foto: farchan nr

Oleh: Farchan Noor Rachman

Tak seperti Tokyo yang begitu modern, Kamakura adalah kota yang seolah terperangkap masa lalu, dengan banyak bangunan tua. Suasananya pun begitu sepi dan tenang. Kota kecil ini ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dengan kereta listrik dari Tokyo. Kamakura tersohor dengan hawanya yang sejuk. Terletak di pinggir samudera dengan ombak yang bergulung-gulung dan deru angin menghembus, di sisi lainnya Kamakura juga dibatasi dengan jajaran bukit-bukit nan hijau. Jadilah Kamakura seperti di tengah-tengah, menyerap sepoi-sepoi laut dan mendapat kesejukan gunung.

daibutsu

Daibutsu (foto: farchan nr)

Umumnya, Kamakura tenang dan sepi. Namun, pada hari-hari tertentu kota ini akan ramai dikunjungi orang yang ingin berziarah. Di kota ini ada patung Budha raksasa, Daibutsu. Patung ini salah satu patung Budha yang diagungkan di Jepang, tak heran jika lantas kemudian patung ini menjadi salah satu objek ziarah terpenting bagi umat Budha di seantero Jepang.

Islam di Kamakura

Bila di Tokyo atau Osaka pemeluk agama Islam cukup banyak, di Kamakura, Islam bisa dikatakan agama yang asing. Tidak ada satupun masjid di kota ini sebagai penanda Islam hadir di Kamakura. Namun tanpa disangka-sangka, saya justru mendapat kejutan dengan bertemu sesama muslim di Kamakura. Buat saya pertemuan ini adalah berkah. Rasanya seperti berjumpa dengan seseorang yang sudah kita kenal dekat.

Pertemuan itu berawal ketika saya sedang berjalan-jalan di kawasan kota tua Kamakura. Tiba-tiba mata saya menangkap tanda halal di sebuah kios kebab. Tanpa berpikir dua kali, saya segera masuk ke kios kebab itu. Menemukan kios makanan dengan tanda halal di Jepang adalah berkah, saya tak harus repot-repot bolak-balik bertanya pada penjaga toko jika ingin membeli makanan.

Penjual kebab itu bernama Muhammad. Tubuhnya tinggi besar, jenggotnya putih panjang, mukanya teduh dan senyum lebar yang tak pernah putus. Mengetahui bahwa saya juga seorang muslim, Muhammad langsung mengajak berjabat tangan. Kami seolah saudara yang sudah lama tidak berjumpa.

Kisah Muhammad

Muhammad

Muhammad (foto: farchan nr)

Muhammad sudah puluhan tahun menetap di Jepang. Dengan bersemangat, dia menceritakan bagaimana kisah perjalanannya hingga sampai menetap di Jepang. Muhammad pergi dari tanah kelahirannya di Maroko saat masih muda. Menanggalkan hidup di ranah Afrika yang panas dan bergurun-gurun, Muhammad memulai hidup baru di Perancis.

Di Perancis inilah Muhammad kemudian bertemu wanita Jepang yang lantas menjadi istrinya. Setelah berkeluarga kemudian Muhammad mengikuti istrinya pindah ke Jepang, istrinya sendiri sejak menikah dengan Muhammad sudah mendapat hidayah Allah dan menjadi muallaf. Allah menganugerahi Muhammad 3 putera, putera sulungnya berada di Kanada, seorang profesor. Putera keduanya seorang ahli IT, sementara si putera bungsu mengikuti jejak Muhammad, turut membuka kios kebab. Mereka sekeluarga tinggal berbeda negara namun secara berkala saling mengunjungi satu sama lain. Ketika bercerita tentang keluarganya, Muhammad tampak berbinar-binar. Sesekali ia menunjukkan foto cucu kesayangannya yang katanya akan ia kunjungi sebentar lagi.

Menegakkan Islam di Kamakura

kamakura3

foto: farchan nr

Sedikitnya penduduk di Kamakura adalah tantangan dalam syiar Islam di kota ini, menurut Muhammad. Walaupun sering ada pertemuan sesama muslim di Kamakura, sangat sedikit muslim yang bermukim di kota ini. Tapi bagi Muhammad, syiar Islam perlu terus dilakukan. Syiar yang dipilih Muhammad adalah dengan bersikap baik, ramah, dan terbuka kepada orang-orang Jepang lainnya. Menurut Muhammad di Kamakura sendiri penerimaan terhadap muslim begitu baik dan diterima oleh masyarakat.

Saya mengaminkan apa yang diutarakan oleh Muhammad. Walaupun minoritas, kaum muslim di Jepang bisa hidup dengan tenteram dan bisa menjalankan keyakinannya dengan tenang. Umat muslim dijamin hak-haknya sama dengan warga Jepang lainnya.

kamakura2

foto: farchan nr

Salah satu masalah pelik yang dihadapi oleh Muhammad terkait dengan sholat Jumat. Baginya, jika hanya enam orang maka tidak bisa menegakkan shalat Jumat di Kamakura. Untuk sholat Jumat di ke Tokyo pun butuh waktu enam jam pulang pergi. Akibatnya, Muhammad hanya bisa sholat Jumat di Tokyo pada saat-saat tertentu saja. Tapi sambil tersenyum Pak Muhammad kembali mengajarkan sesuatu yang membuat saya merenung“Alloh knows our difficulties. Don’t worry, Alloh knows. That’s okay.”

Pesan-Pesan Muhammad

Dalam pertemuan yang singkat itu, ada banyak pesan indah yang diberikan Muhammad kepada saya. Muhammad mengajarkan bahwa bagaimanapun kondisinya, setiap muslim harus tetap teguh dalam ajaran Islam.

foto: farchan nr

foto: farchan nr

Ada sebuah fragmen nasehat yang akan selalu saya ingat dari Muhammad. Saat itu, tiba-tiba Muhammad mengacungkan telunjuknya ke atas sambil berkata “My brother, do you know what is this? this is the symbol of Laa Ilaaha Illallah“

“Alloh is Ahad. Alloh. Ahad. So just believe in Alloh and He will protect you during your journey, Alloh will guide you always. Just believe Alloh, my brother.”

Sungguh nasehat yang berkesan buat saya. Saya pun melanjutkan perjalanan, dengan hati yang terasa hangat. Allah akan melindungi saya selama perjalanan, Insya Allah. (LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL