Souvenir dari Pantai Gading. Foto: Qonie

Souvenir dari Pantai Gading. Foto: Qonie

Oleh: Qonita Ilyas*

Aku kembali menjejakkan kaki di Pantai Gading, dan kali ini adalah perjalananku yang ketiga. Negara ini  juga dikenal dengan Cote d’Ivoire atau Ivory Coast, dan terletak di Benua Hitam Afrika bagian barat.

Di sini, sudah seperti negara keduaku. For your info, Indonesia tidak memiliki kedutaan, sehingga untuk berkunjung kesini, mau tak mau kamu mesti buat visa dari negeri terdekatnya. Kebetulan aku memiliki kerabat di sini, sehingga visaku diurus oleh mereka. Namun untuk kamu yang baru pertama kali berkunjung ke Pantai Gading, visa bisa dibuat di Kedubes Perancis, atau di Dakkar.

Selama di Pantai Gading, aku tinggal di apartemen kerabatku, yang berada di lingkungan pabrik di kota terbesar, Abidjan, jaraknya sekitar 30 menit dari bandara Felix Houphouet-Boigny. Kerabatku berdarah Arab-Afrika sehingga budaya Afrika di dalam keluarga tidak begitu terasa. Kehidupannya sangat Islami. Dan tentu saja, mereka ramah dan hangat sebagaimana penduduk Afrika pada umumnya.

Penduduk Pantai Gading, foto: Qonie

Penduduk Pantai Gading, foto: Qonie

Negara ini memiliki luas 322.463 km2, berbatasan dengan Liberia, Guinea, Mali, Burkina Faso dan Ghana di sebelah barat, utara dan timur serta Teluk Guinea di sebelah selatan. Pantai Gading meraih kemerdekaannya dari Prancis tahun 1960. Mayoritas penduduknya adalah Ivorian (pribumi) dan 4% populasinya adalah non-Afrika, diantaranya Prancis, Lebanon, Vietnam, dan Spanyol serta missionaris Protestan dari Amerika Serikat dan Kanada. Agama yang dianut terbagi menjadi tiga besar; Islam, Kristen (terutama Katolik Roma) dan animisme. Jumlah penganut Islam dan Kristen hampir sama banyaknya.

Oh ya, aku berkunjung tepat pada bulan Ramadhan. Aku penasaran bagaimana rasanya melewati bulan suci di sana. Ternyata, bulan puasa di Pantai Gading tidak sesemarak Indonesia, karena di negeri ini tidak ada suara adzan berkumandang meski terdapat banyak masjid. Aku kurang tahu alasan tepatnya, padahal jumlah penduduk yang beragama Islam di negeri ini termasuk yang terbesar, sehingga Pantai Gading pun menjadi anggota organisasi Islam Internasional, yaitu Organisation of Islamic Cooperation. Meski begitu, shalat taraweh tetap berlangsung seperti layaknya di masjid-masjid Indonesia.

Masjid

Masjid Ghadir, foto: Qonie

Di supermarket-supermarket banyak dijual cemilan-cemilan bulan puasa seperti kurma dan kismis. Hidangan hidangan khas berbuka puasa disini serupa dengan bubur nasi yang setengah jadi dan diberi susu kental manis atau gula pasir sebagai pemanis. Pantai Gading terletak di jalur khatulistiwa, sehingga, panjangnya waktu puasa juga hampir sama dengan Indonesia.

Di suatu siang, saat aku sedang berada di toko tanaman. Tiba-tiba ada pedagang asongan yang datang ke toko. Aku perhatikan mereka baik-baik. Ternyata mereka masuk ke toko untuk numpang shalat. Pemilik toko sama sekali tidak keberatan. Aku juga sering melihat para pria yang shalat di pingggir jalan. Rasanya, hal seperti itu sangat jarang terjadi di Indonesia.

Aku melaksanakan ibadah shalat Ied di sebuah masjid terbesar di Afrika Barat, namanya Masjid Ghadir. Masjid ini dibangun oleh komunitas orang Lebanon yang ada di Pantai Gading beberapa tahun silam. Masjid ini terdiri dari tiga lantai, memiliki perpustakaan, aula, kelas, ruang teater, ruang sekretariat, dan taman yang cukup luas. Hampir lupa, bahasa yang digunakan adalah bahasa Perancis. Dan karena kemampuan bahasa Perancisku masih terbatas, maka kemana pun pergi selalu didampingi kerabat.

penulis pohon natal

Penulis di samping patung malaikat Natal, foto: Qonie

Umat Muslim Turut Bergembira Saat Natal

Melihat bagaimana kehidupan masyarakat, aku merasa nyaman. Setiap pemeluk agama bebas memeluk agama dan beribadah sesuai dengan keyakinannya, tanpa ada intimidasi. Bahkan, pada saat Natal, kaum Muslimin pun ikut bergembira.

Pro-kontra terhadap ucapan “Selamat Natal” yang lazim terjadi di Indonesia, tidak kujumpai di Pantai Gading. Hal itu aku rasakan saat melewatkan hari-hari menjelang Natal di sini. Kerabatku yang taat, justru ikut bergembira saat Natal. Mereka membeli pernak-pernik Natal untuk menghias rumahnya. Tak hanya itu, mereka bahkan memberiku hadiah boneka beruang besar yang sangat lucu.

“Ini hadiah Natal,” ucapnya padaku.

Amazing, ini adalah kali pertama aku mendapatkan hadiah Natal, padahal aku adalah seorang Muslimah.

Tank PBB Lalu Lalang

Tank PBB, foto: Qonie

Tank PBB, foto: Qonie

Kebanyakan penduduk Pantai Gading memakai pakaian tradisional mereka dalam kehidupan sehari-hari, miskin maupun kaya. Cara bicaranya, sangat blak-blakan. Bila marah, mereka bicara dengan nada tinggi, tapi hanya sebatas itu saja, tidak sampai pukul-pukulan.

Pemandangan tak lazim yang kulihat sejak pertama kali berada di Pantai Gading, adalah tank-tank atau pun mobil PBB berlalu-lalang. Rupanya pada tahun 2011 silam terjadi perang sipil sehingga PBB harus turun tangan. Tapi  selama aku berada disana, tidak ada hal buruk terjadi. Jadi kurasa keamanan di negeri ini sudah pulih.

Menikmati Kuliner yang Mirip Indonesia

Di Abidjan, hampir semua supermarket bahkan minimarket selalu menyediakan bir dan wine, juga produk-produk yang diimpor dari Perancis.

Aku sempat berkunjung ke pasar tradisionalnya, sama persis seperti pasar tradisional yang ada di Indonesia; murah, padat, berisik, kotor dan becek. Mata uang yang digunakan adalah CFA, untuk 500 CFA hampir setara dengan 1 USD. Harga-harga kebutuhan pokok di negeri ini jauh lebih mahal dari Indonesia.

Pasar tradisional di Pantai Gading. Foto: Qonie

Pasar tradisional di Pantai Gading. Foto: Qonie

Di Pantai Gading, kita juga bisa jumpai pedagang-pedagang kaki lima dan warung-warung kecil menjual berbagai masakan yang sering dikunjungi para pekerja di jam istirahat mereka. Hidangan warung-warung tersebut antara lain nasi, pisang goreng, ikan goreng, kacang sangrai, dan ayam bakar. Rasa masakan Afrika nyaris sama dengan Indonesia, kuat akan rasa gurih garam dan penyedap. Selain nasi, makanan utama mereka salah satunya adalah pisang goreng.

Kamu suka ngemil? Jangan khawatir. Camilan kacang tanah rebus, singkong rebus yang hidangkan bersama sambal ikan adalah makanan yang bisa kamu nikmati disini. Dijamin, kamu tidak akan terlalu rindu pada Indonesia. 😀 (LiputanIslam.com)

*Penulis adalah seorang traveller, sering melakukan perjalanan ke berbagai negara di Timur Tengah dan Afrika.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL