sumber: dayakofborneo.blogspot.com

Jakarta, LiputanIslam.com—Jika berkesempatan jalan-jalan ke Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, ada baiknya bertemu suku Dayak Kenyah dan menikmati budaya unik mereka.

Suku Dayak Kenyah berada di Desa Budaya Pampang, Samarinda.
Tepatnya di Lamin Adat Pemung Tawai. Dahulu Lamin Adat Pemung Tawai adalah rumah adat dan tempat tinggal bersama, tapi sekarang berubah menjadi objek wisata pertunjukan tari kesenian khas Dayak yang dihadiri wisatawan. Acara kesenian tersebut hanya digelar pada Hari Minggu pukul 14.00-15.00.

Di sana, Anda bisa menyaksikan paras orang-orang Dayak yang menawan! Benar kata orang bilang, bahwa orang Dayak mempunyai paras yang cantik dan tampan. Ternyata paras aslinya memang memikat banget.

Sesampainya di Lamin Adat Pemung Tawai, Anda bisa langsung menuju pedagang yang berjualan di area parkir. Mereka menjual aksesoris khas Dayak Kalimantan Timur yang unik dan anti mainstream lho. Aksesoris dibuat berbeda, dengan manik-manik beragam warna khas dayak yang mencolok. Membentuk motif Dayak Kenyah yang tidak ditemukan lagi selain di sini. Dari mulai tas manik-manik, mahkota khas Dayak Kenyah, kalung dari cula babi hutan, hingga obat-obatan herbal khas Dayak.

sumber: wiranurmansyah.com

Setelah puas berbelanja, langsung membeli 2 tiket yaitu tiket pertunjukan kesenian dan tiket untuk berfoto dengan penari Dayak Kenyah. Tidak lupa duduk paling depan agar puas melihat penari yang siap menghibur wisatawan.

Salah satu penampil yang menarik perhatian adalah seorang bapak yang sudah berumur dengan telinga panjangnya. Kalian pasti tahu kan, Suku Dayak sangat terkenal akan telingaan aruu atau tradisi memanjangkan telinga. Sayangnya saat itu hanya ada satu orang Bapak itu saja yang bertelinga panjang.

Pertunjukan yang ditampilkan ada 10 tarian. Penampilan awal dihibur dengan tarian pembuka. Tarian ini dibawakan oleh laki-laki yang sudah dewasa. Sebagai tanda penghormatan pada wisatawan yang sudah datang secara resmi. Selain itu juga sebagai pembersihan ruangan agar suasana menjadi tenang dan semua penonton bisa menyaksikan dengan suka cita. Tarian juga diiringi dengan musik khas Dayak.

Lalu disambung dengan Tarian Datun Julut atau tarian selamat datang untuk para wisatawan yang sudah datang, ditampilkan oleh para remaja wanita masyarakat Pampang yang memesona pastinya. Tarian ini juga untuk memperlihatkan keramahtamahan masyarakat Pampang.

Tarian Dayak Kenyah juga dibawakan oleh wanita dewasa, remaja lelaki dan perempuan, sampai dengan anak-anak kecil yang lucu. Semua tarian sangat menghibur dan memukau penonton. Ciri khas perempuan Dayak yang ramah dan lemah lembut sangat melekat pada para penari, juga penari lelaki yang jantan dan perkasa seakan siap berperang.

Tidak lupa pakaian unik para penari dengan ciri khas motif dan warna dayak yaitu kuning, hitam, putih dan biru muda yang sangat mencolok dan memikat saya dan wisatawan lainnya. Bagi kalian yang ingin mempunyai aksesoris seperti para penari, kalian bisa beli di area parkir tadi ya.

Nggak kalah seru dan menghibur, wisatawan juga bisa ikut menari dengan mereka lho. Pada Tarian Papatai kita diajarkan menari dengan rintangan kayu ulin di kaki kita. Nantinya kayu ulin tersebut akan digebrakan dengan beberapa orang, sehingga saat kaki kita melompat-lompat tidak boleh sampai terjepit oleh kayu tersebut. Seru dan menegangkan banget!

Oh ya, perjalanan yang saya tempuh dari Balikpapan hingga Desa Pampang memakan waktu sekitar 4 jam 30 menit dengan mobil. Jarak yang ditempuh sekitar 150 km dan belum ada jalan toll lho. Jauh memang, belum lagi jalan yang dilalui sangat berkelok-kelok dan tidak semuanya mulus. Bahkan beberapa bagian jalan terkesan sedang off-road, saking rusaknya jalanan itu.

Nah, sesudah pertunjukan bermacam-macam tarian Dayak. Kita juga bisa berfoto bersama para penarinya dengan tiket foto yang sudah di beli di awal tadi ya! Meskipun perjalanan panjang menuju Desa Pampang, tapi nggak menyesal melihat pertunjukan khas Suku Dayak yang unik dan menghibur ini. Bagi kalian yang sedang di Kalimantan Timur jangan lupa mampir juga ya ke Desa Budaya Pampang. (ra/detik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*