paris6Oleh: Windy Ayuni

Jalan-jalan ke Paris, sendirian? Wow, dulu rasanya tak terbayangkan. Namun, saya sudah berada di Amsterdam, masa tak menyempatkan diri ke Paris? Rugi sekali rasanya. Saya pun nekad bersolo traveling dari Amsterdam ke Paris. Rasa takut dan khawatir saya abaikan kuat-kuat. Berbekal doa dan informasi yang cukup dari mbah Google, saya berangkat di tengah malam buta menuju kota romantis itu.

Alhamdulillah jam setengah tujuh pagi sampai juga saya di Paris. Bonjour, Welcome to Paris! Suasana masih agak gelap saat itu. Saya langsung menuju stasiun kereta bawah tanah Metro dan membeli tiket mobilis seharga 9.05 Euro buat perjalanan saya selama sehari penuh di kota ini. Selain buat menaiki Metro, tiket ini ternyata juga bisa dipergunakan untuk menaiki bus dan RER.

paris5Karena hari masih pagi, saya memutuskan untuk mengunjungi menara Eiffel terlebih dahulu. Saat itu posisi saya berada di stasiun metro line 1 dan hendak mencari line menuju stasiun Bir Hakeim, stasiun terdekat ke menara Eiffel. Karena saya tidak menemukan line tersebut akhirnya saya bertanya ke salah seorang penumpang. Ternyata tidak seperti stasiun kereta api di Belanda dimana line 1 sampai line 8 berada di satu stasiun, di stasiun ini jika kita hendak menaiki metro line 6 kita harus naik terlebih dahulu dan turun di line yang kita kehendaki. Jangan lupa selalu sortie (exit) kemudian cari line yg akan kita tuju.

Akhirnya sampai juga saya di stasiun Bir Hakeim. Ada tanda panah tour Eiffel di sana dan saya mengikutinya. Sekitar 5 menit berjalan kaki, saya menemukan menara yang terkenal sejagad raya itu. Syukron Lillah, akhirnya saya bisa melihat langsung menara setinggi 324m maha karya Gustave Eiffel yang cukup fenomenal ini. Keindahan dan kekokohannya membuat nafas saya sejenak tertahan.

Saya langsung menuju ke pinggiran sungai Seine di seberang jalan menara agar dapat mengambil foto Menara Eiffel secara penuh. Sepasang wisatawan baik hati yang menawarkan diri untuk mengambil foto saya dengan latar belakang menara.

Puas berfoto-foto, saya memutuskan untuk sarapan wafel di pinggir sungai seine. Langit sudah mulai terang saat itu dan wisatawan mulai terlihat ramai mengantri untuk membeli tiket naik ke menara. Saya benar-benar menikmati suasananya sambil sesekali teringat pesan-pesan yang saya dapat, hati-hati copet. Ada cukup banyak anak-anak dan dan ibu-ibu yang menyuruh saya mengisi kuisioner, tapi saya menolaknya, karena menurut yang saya baca itu salah satu modus pemerasan kepada wisatawan.

paris4Setelah cukup lama menikmati keindahan Eiffel, saya memutuskan untuk mengunjungi salah satu museum terbesar di dunia, Musee du Louvre, yang menyimpan lukisan Monalisa yang legendaris itu. Saya berfoto di depan Piramida kaca yang spektakuler itu, sambil mengenang adegan di film Da Vinci Code. Tempat ini memang menjadi salah satu lokasi film itu.

Sayang sekali, saya tidak dapat masuk ke museum ini karena tutup. Mengecewakan sekali. Apakah memang hari itu museum memang tutup atau ada ada sesuatu hal? Entahlah.

Saya lalu melangkah ke monumen terkenal, yang letaknya tepat di seberang Musee du Louvre yaitu Arc de Triomphe du Carrousel. Sambil berfoto-foto, saya menyusuri jalan di sekitar museum. Sangat menarik, selain toko-toko barang bermerk, ada banyak toko yang menjual souvenir dan restoran di sini. Saya pun menyempatkan diri untuk makan siang.

Rasanya kaki sudah lelah melangkah. Tapi, saya tak mau rugi. Setelah makan siang, saya melanjutkan perjalanan ke Le Grande Mosquee de Paris. Selain hendak melaksanakan sholat, saya juga pengen merasakan ruh dan nikmatnya ibadah di salah satu mesjid di Eropa.

paris2Turun di stasiun Place Monge saya langsung bertanya ke seorang bapak tua, di mana mesjid raya Paris berada. Ternyata hanya lima menit dari posisi saya saat itu. Dari luar mesjid ini terkesan biasa-biasa saja, tapi begitu masuk mata saya dimanjakan dengan pemandangan taman bernuansa hijau yang sangat indah. Tembok bangunan di dekat taman dihiasi mozaik-mozaik indah seperti mesjid-masjid yang ada di Iran. Menurut informasi yang pernah saya baca, masjid ini didirikan setelah Perang Dunia I sebagai tanda terima kasih Perancis kepada rakyat Muslim yang turut berperang melawan pasukan Jerman.

Setelah melihat-lihat sejenak, saya langsung menuju ke tempat sholat. Ternyata tempat sholat wanita ada di sebuah bangunan tua yang tersembunyi. Setelah melaksanakan sholat, saya istirahat dan sempat tertidur pulas di mesjid ini. Ketika terbangun, jam di tangan saya menunjukkan pukul 4 sore. Saya langsung bergegas melanjutkan jalan-jalan. Di daerah sekitar mesjid saya menemukan beberapa toko yang menjual buku-buku Islam, sekolah taman kanak-kanak Islam, dan toko makanan halal. Saya sempatkan membeli croissant di salah satu toko tersebut. Senang sekali, selain mendapat sapaan salam dari sesama muslim, saya juga mendapat potongan harga karena hari sudah sore.

paris1Dari Masjid, tujuan saya selanjutnya adalah monumen kemenangan Arc de Triomphe de l’Etoile. Untuk mencapai Monumen ini saya turun di stasiun Charles de Gaule Etoile. Ramai sekali wisatawan di sini. Informasi yang saya dapat, Arc de Triomphe yang berarti Gerbang Kemenangan ini dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte untuk merayakan kemenangan tentara Perancis yang dipimpinnya dalam perang di Austria.

Hari semakin senja. Rasanya masih ingin mengunjungi situs wisata lainnya, misalnya Gereja St.Mitchel Notre Dame. Tapi saya sudah benar-benar kelelahan.

Akhirnya saya duduk-duduk saja ke kedai kopi di stasiun, sambil menunggu jam kepulangan saya ke Amsterdam. Sambil menghirup aroma kopi yang wangi, saya berbisik dalam hati, Paris, tunggu aku lain waktu. (LiputanIslam.com)

Baca tulisan Windi Ayuni sebelumnya: Menikmati Indahnya Belanda, Negeri Seribu Kincir Angin

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL