Travelling Malaka, sungai jembatan

Di Malaka, Foto: Farchaan

Jika ke Malaysia, jangan lupa untuk mengunjungi Malaka. Kota ini adalah mahakarya sejarah yang begitu cantik. Dengan sejarah yang begitu panjang, Malaka tumbuh menjadi kota yang multikultur dan kaya budaya, sehingga tak heran gelar World Heritage City disematkan pada Malaka tak lain karena kekayaan budaya dan ragam sejarahnya.

Malaka sudah melewati beberapa fase sejarah, dimulai dari era Kesultanan Malaka yang kemudian tunduk oleh okupansi Portugis. Saat dibawah koloni Portugis, Malaka mulai tumbuh menjadi pelabuhan internasional yang ramai dan mulailah menggeliat menjadi kota modern. Seusai era Portugis dilanjutkan era Belanda dan terakhir berada di bawah kekuasaan Inggris. Beberapa fase inilah yang membuat Malaka kemudian memiliki ragam sejarah yang kaya.

Pusat atraksi wisata sejarah ada di Stadhuis dan Bangunan Merah, dan disana merupakan jalur Malaka Heritage Walk yang rutenya menuju museum-museum dan bangunan bersejarah di Malaka. Di seberang terdapat Jonker Walk yang merupakan area pecinan dan merupakan kawasan belanja populer di Malaka.

Sejarah Kampung Jawa

Satu lagi yang terkenal dari Malaka adalah Sungai Malaka, wisatawan bisa menyusuri Sungai Malaka dari ujung ke ujung, baik dengan menggunakan kapal atau berjalan kaki melewati jalur yang sudah disediakan di sisi kanan-kiri sungai. Kawasan di pinggir Sungai Malaka ini dahulu memang diperuntukkan untuk kawasan residensial, karenanya tempat  ini sekarang menjadi tempat rumah-rumah tua yang masih tertata rapi dan berdiri gagah.

Bangunan Merah, foto: Farchaan

Bangunan Merah, foto: Farchaan

Di tengah-tengah jalur susur Sungai Malaka inilah terletak Kampung Jawa. Sesuai namanya konon di kampung ini bermukim orang-orang Jawa yang datang ke Malaka di waktu yang lampau. Layaknya kawasan residensial, suasana di Kampung Jawa sepi dan lengang. Rumah-rumah berjajar rapi, tidak terlalu besar, sebagian masih menyisakan konstruksi kayu yang berasal dari beberapa dekade yang lalu.

Asalnya masih simpang siur, satu versi sejarah mengatakan orang-orang Kampung Jawa adalah bekas prajurit Pati Unus dan Ratu Kalinyamat dari Demak yang kalah perang saat penyerbuan ke Malaka. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa orang-orang dari Jawa sudah datang sebelum itu, saat masih era Kesultanan Malaka.

Model pengelompokan residensial berdasarkan asal-usul bangsa memang khas sekali warisan kolonial. Adalah Portugis yang pertama kali mengelompokkan orang-orang Jawa di Kampung Jawa, diikuti kemudian oleh Belanda dan Inggris. Orang-orang Portugis menyebut area untuk orang Jawa dengan Campong Jaio, sementara orang Belanda menamakannya Campong Java. Setelah beberapa kali dipindahkan karena kebijakan pengaturan residensial oleh penguasa Malaka, akhirnya Kampung Jawa menetap di lokasinya yang sekarang.

Jelajah Kampung Jawa

Penanda Kampung Jawa jika wisatawan berjalan menyusuri Sungai Melaka adalah Jembatan Kampung Jawa. Dari sini wisatawan bisa kemudian menelusuri Kampung Jawa melalui jalur pedestrian yang ada di kampung. Suasananya tak ubahnya dengan suasana kampung-kampung di Indonesia.

Kampung Jawa

Kampung Jawa, foto: Farchaan

Keturunan orang Jawa yang kemudian beranak-pinak dan menetap di Kampung Jawa mayoritas adalah muslim yang taat dan nuansa Islami memang kental di kampung ini. Di kampung ini terdapat sebuah madrasah tradisional tempat anak-anak belajar agama. Madrasah itu bernama Madrasah Al-Hidayah, terkadang juga disebut saja Madrasah Kampung Jawa. Berlokasi di sebuah surau tua, madrasah ini hingga sekarang masih rutin menyebarkan dakwah Islam untuk umat muslim di Kampung Jawa.

Apabila masuk lebih ke dalam maka akan ditemui kompleks perumahan orang Jawa yang bentuknya lebih tradisional dengan konstruksi kayu, bukan tembok. Kesannya nampak bukan seperti bukan bangunan permanen, namun justru seperti itulah rupa bangunan tradisional Kampung Jawa dari masa lalu. Nuansa tradisional juga terlihat dari beberapa warung atau kios yang ada di seputar Kampung Jawa. Bentuknya masih mempertahankan gaya bangunan lama.

Jelajah Kuliner Di Kampung Jawa

Madrasah Kampung Jawa

Madrasah Kampung Jawa

Uniknya sebagian warisan kuliner di Kampung Jawa berasal dari tanah leluhurnya, Jawa. Ada beberapa kuliner familiar dari Jawa yang juga ada di Kampung Jawa seperti pecel, rujak dan camilan seperti tempe. Rupanya memang anak buyut dan keturunan orang-orang Jawa di sini masih melestarikan tradisi dari Jawa, termasuk tradisi kulinernya.

Ada restoran yang terdapat di ujung jalan masuk menuju Kampung Jawa, lokasinya persis berada di tepi Sungai Malaka. Restoran tersebut menyajikan sajian-sajian khas Melayu dan warisan kuliner Jawa. Restoran ini bernama Restoran Lineclear Kampung Jawa, ini adalah tempat makan paling ramai di Kampung Jawa, biasanya buka dari jam 11 siang sampai jam 5 sore. Tapi jika di akhir pekan sering sebelum ashar sudah tutup karena sajian kulinernya sudah tandas dibeli.

Restoran ini menyajikan menu-menu yang sudah akrab di lidah, menu utama yang paling disukai pembeli adalah sate ayam. Bentuknya sama dengan sate yang ada di Indonesia, hanya bedanya bumbu yang digunakan di sini lebih pekat dan lebih merasuk ke dalam serat dagingnya. Proses pembuatannya pun lebih lama, itu karena proses pelumuran bumbu yang diulang-ulang supaya meresap.

Sate ayam, foto: Farchaan

Sate ayam, foto: Farchaan

Lantas ada juga es cendol sebagai pelengkap, mirip di Indonesia, cendolnya hijau dengan santan yang melimpah ruah. Sajian cendolnya juga dilengkapi dengan kacang merah dan sepertinya juga dilengkapi dengan lelehan gula merah, mirip dengan sajian cendol di Jawa.

Kuliner yang hampir serupa dengan kuliner di Indonesia menandakan bahwa ada benang merah antara keberadaan orang-orang Jawa di Malaka dengan leluhur mereka di Nusantara. Mau merantau sejauh apapun, warisan budaya termasuk kuliner tetap dipertahankan dan dibawa.

Kehidupan Di Kampung Jawa

Kehidupan di Kampung Jawa seperti halnya di Malaka memang sangat multikultur. Para pemukim yang dahulunya dari Jawa ini sekarang kebanyakan sudah berasimilasi dengan budaya lokal. Karenanya tidak terlihat ada yang menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi di Kampung Jawa.

Mungkin karena proses asimilisai budaya, orang-orang Kampung Jawa sudah sepenuhnya menggunakan bahasa Melayu yang menjadi bahasa nasional Malaysia. Yang tertinggal hanyalah identitas bahwa mereka adalah keturunan orang-orang Jawa yang bermigrasi ke Malaka ratusan tahun yang lalu.

Sate ayam siap santap, foto: Farchaan

Sate ayam siap santap, foto: Farchaan

Orang-orangnya pun sudah tidak memakai pakaian khas Jawa, yang perempuan lebih banyak menggunakan baju kurung, layaknya perempuan muslim di Malaysia. Sementara kaum lelakinya tidak menggunakan pakaian dengan ciri khusus, namun beberapa diantaranya masih setia mengenakan peci putih sebagai penutup kepala dan menggunakan baju koko.

Tatanan rumah-rumah dan lingkungannya pun rapi jali, walaupun daerah pemukiman lawas tapi tampaknya keberadaan rumah tua di Malaka memang dijaga dengan baik, tak heran Malaka lantas dikenal karena warisan sejarahnya karena memang benar-benar masih sangat terjaga.

Berkeliling Malaka yang kata orang barat di masa lampau adalah Venezia Dari Timur benar-benar membuka mata. Ada banyak peninggalan sejarah yang saling kait-mengait satu sama lain, selain itu juga bisa menyaksikan bagaimana keturunan bangsa sendiri turut menorehkan sejarah di negeri lain sejak ratusan tahun yang lalu.  (Farchan Noor Rachman/LiputanIslam.com)

*Penulis adalah seorang travel blogger, kisah  perjalanannya melanglang buana bisa dibaca dihttp://efenerr.com/

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL