Foto; Windi Ayuni

Foto; Windi Ayuni

Oleh: Windy Ayuni

Alhamdulillah, perjalanan panjang Jakarta-Amsterdam di akhir bulan September yang cukup melelahkan, terbayar dengan cuaca yang cukup bersahabat, 16 derajat Celcius dan pujian dari seorang wanita Belanda ketika saya membenahi jilbab.

Dia berkata, “Your scarf (hijab) is beautiful.”

Jujur, terkait pemakaian hijab, sebenarnya ada rasa khawatir, takut akan mendapat perlakuan diskriminatif dari penganut garis keras di negeri ini. Tapi pujian si ibu, membuat kekhawatiran saya langsung hilang. Syukron Madame. 🙂

Dari bandara Schiphol Amsterdam saya langsung menuju tempat penginapan, Hotel Inntel di daerah Zaandam. Sebuah hotel yang sangat unik dengan penampakan rumah khas Belanda dengan beragam bentuk yang ditumpuk-tumpuk. Saya menghabiskan waktu semalaman untuk beristirahat.

Kali yang bersih di Belanda, foto: Windy Ayuni

Kali yang bersih di Belanda, foto: Windy Ayuni

Keesokan harinya, saya langsung keliling di sekitar hotel. Daerah ini dikenal sebagai pusat perbelanjaan Zaanstad. Yang menarik bukan acara belanjanya akan tetapi banyaknya jembatan di sepanjang pusat perbelanjaan dengan kali yang cukup bersih. Saya berkhayal, andai saja kali Ciliwung di pusat Kota Jakarta ditata seperti ini, pasti ibukota akan terlihat lebih indah.

Transportasi yang Menakjubkan

Setelah puas berkeliling, saya menuju stasiun kereta api di dekat hotel untuk mengunjungi Amsterdam Central. Sarana transportasi yang cukup teratur dan mudah, membuat saya terpukau dan takjub. Ada banyak mesin pembelian tiket yang bertebaran di sekitar stasiun. Namun jika kita tidak memiliki koin, maka tiket bisa didapatkan di loket. Penumpang juga tidak usah khawatir ketinggalan kereta, karena tidak lama akan ada kereta lain yang datang.

catatan eropa 2Sekitar 15 menit perjalanan dari stasiun Zaandam saya sampai ke stasiun Amsterdam Central, sebuah stasiun tua dengan arsitek yg indah. Keluar dari stasiun saya langsung berjalan kaki menuju pusat kota Amsterdam yang terkenal dengan Dam Square dan museum-museumnya. Di sepanjang jalan mata saya disuguhi pemandangan indah gedung-gedung tua dan masyarakat yang berseliweran dengan sepeda.

Sekedar informasi, mayoritas rakyat belanda menggunakan sepeda sebagai transportasi, termasuk menteri-menterinya. (So amazing, andai para menteri di Indonesia seperti ini pasti akan dianugerahi Piala Citra  😀 ). Kesan positif yang saya tangkap, tidak terlihat kesenjangan antara si kaya dan si miskin di negeri ini.

Foto: Windy Ayuni

Foto: Windy Ayuni

Bagi saya mencapai jantung kota Amsterdam sangatlah mudah. Yang sangat sulit adalah mencari tempat untuk sholat. Padahal tidak sedikit wisatawan muslim yang berkunjung kesana. Saya banyak melihat wanita-wanita berjilbab, yang menurut informasi dari teman, mereka adalah wisatawan dari Turki. Akhirnya saya putuskan untuk makan siang terlebih dahulu, sholat akan saya jamak qashar di hotel. Pesan saya, hati-hati makan di negeri ini, hampir semua restoran menyediakan menu babi. Demi kehati-hatian, saya makan di restoran ayam goreng halal terkenal, Kentucky Fried Chicken (KFC).

Kenyang, saya memilih bersantai sejenak di centrum kota Amsterdam, Dam Square. Ada banyak museum yang bisa kita kunjungi di sini, diantaranya Museum Anne Frank, Museum Rijks, Museum Van Gogh, Museum Madame Tussauds, Royal Palace dll. Kita juga bisa menyaksikan atraksi seni secara gratis.

Foto: Windy Ayuni

Foto: Windy Ayuni

Selain menikmati pemandangan bangunan-bangunan tua yang sangat indah dan terpelihara, saya juga berkeliling dan sempat melintasi daerah Red Light District, tempat dipajangnya wanita-wanita penghibur di etalase kaca dengan pakaian minim. Di daerah ini juga saya mencium bau ganja.

Astagfirullah…betapa maksiatnya kota ini. Prostitusi terang-terangan, pasangan sesama jenis dan ganja dilegalkan. Sampai di sini, saya memutuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat.

Esok harinya, perjalanan saya lanjutkan ke daerah Volendam, daerah wisata yang terletak di pinggir laut. Di sini terkenal dengan banyaknya jasa pembuatan foto ala Belanda dan terdapat banyak toko souvenir khas Belanda dengan harga yang cukup miring di banding di kota Amsterdam.Saya sangat terkesan dengan keindahan dan kebersihan lautnya. Benar-benar bersih. Saya menikmati pemandangan laut sambil menyantap wafel yang sangat lezat dengan aneka buah segarnya.

catatan eropa oke

Menjelajah Daerah Kincir Angin

Saya lantas melanjutkan perjalanan menuju Zaanse Schanz. Daerah yang terkenal dengan kincir angin, pembuatan keju, dan pembuatan sepatu kayu klompen ala Belanda. Alhamdulillah, kalau biasanya saya melihat kincir angin di toko roti Holland Bakery, di sini saya melihat kincir angin yang asli. Pemandangan di sini benar-benar indah. Sayang sekali saya tidak bisa mengunjungi taman bunga Tulip (Keukenhof) karena saat itu sudah mulai memasuki musim gugur.

Tidak terasa sudah enam hari saya berada di negeri Kompeni ini. Baru kali ini saya merasakan Lebaran Haji di negeri orang. Jangan bayangkan bisa mendengar suara takbir, sedikitpun tidak ada tanda-tanda perayaan Idul Adha di sini. Saya juga tidak melaksanakan Sholat Ied karena tidak ada mesjid di sekitar hotel tempat saya menginap.

Suasana Timur Tengah di Bazaar Oosterse Kunts in een Holland

Tapi kekecewaan saya terbayar. Teman saya, seorang warga Belanda mengajak saya “berlebaran” ke bazaar Oosterse Kunts in een Holland di daerah Beverwijk. Bazaar ini hanya buka di hari Sabtu dan Minggu. Di sini berkumpul banyak pedagang dari Turki, Iran, Arab dan beberapa negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Disini kami mencicipi makanan Afganistan-Iran. Alhamdulillah suasana-nya Islami sekali. Para pedagang selalu menyapa kami dengan ucapan, ”Assalamu’alaikum… “

catatan eropa oke 4Sambil menikmati makanan, teman saya bercerita. Di Belanda, warga yang memeluk agama Islam membentuk sebuah pengajian, dan dari tempat inilah mereka mendapatkan berbagai macam pengetahuan, termasuk memandikan mayit. Pelajaran memandikan mayit ini diberikan bukan tanpa sebab. Tidak ada jasa pengurusan mayit secara Islami di sini.

Sudah berapa kali kejadian, muslimah Indonesia ketika meninggal, terpaksa dikremasi oleh suaminya. Tidak sedikit pula yang meninggal dikuburkan dengan cara Nasrani. Hal ini terjadi karena mereka tidak meninggalkan pesan kepada suami-suami mereka agar nanti ketika meninggal jenazah mereka diurus secara Islam oleh perkumpulan pengajian mereka. Tapi wasiat kadang juga tinggal wasiat. Ada juga keluarga yang menolak ketika para ibu pengajian ini hendak mengurusi jenazah istri mereka. Dengan alasan keluarga-nya takut melihat istri mereka dibungkus kain putih seperti pocong. Mereka lebih suka melihat istrinya dirias dan dipakaikan pakaian pengantin mereka dahulu. Kalau sudah begini percuma mendebat mereka, karena pasti ibu-ibu pengajian ini akan diusir.

Foto: Windy Ayuni

Foto: Windy Ayuni

Teman saya itu juga bercerita, salah seorang yang berjasa membimbing dan menyebarkan Islam di Eropa adalah almarhum Gusdur dan kawan-kawan (semoga Allah swt merahmati beliau) dan dilanjutkan oleh beberapa keluarganya yang masih tinggal di sana. Mungkin banyak yang tidak tahu, almarhum Gusdur dulu sempat tinggal, sekolah dan bekerja di Belanda. Beliau pernah berkata, “Suatu saat saya akan menjadi presiden dan akan datang kesini.” Tidak disangka ternyata kata-katanya menjadi kenyataan, Subhanallah.

Perjalanan saya di Eropa masih panjang. Insya Allah, petualangan menyusuri kota romantis Paris, akan saya tuturkan di tulisan mendatang. (LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL