Foto: Afifah Ahmad

Foto: Afifah Ahmad

Ordibehehesht, bulan surga. Begitulah orang Iran menyebut bulan kedua di musim semi. Angin semilir dan matahari hangat membuat orang betah berlama-lama di luar rumah. Tapi, kepadatan manusia siang itu membuat angin seolah tak berhembus dan sinar matahari terasa lebih garang. Mereka berdesakan mencari surga lain, surga buku. Ya, pameran buku internasional Teheran memang selalu digelar di bulan kedua musim semi, atau bulan Mei seperti sekarang ini.

Kepadatan mulai terlihat sejak di pintu keluar metro Mushalla Imam. Lautan manusia kian terlihat membludak di pintu masuk, siap memadati lorong-lorong stand. Ada lebih dari 2000 penerbit luar dan dan dalam negeri di ajang pameran buku ke 27 kali ini. Beberapa petugas terlihat membagikan peta lokasi. Namun, area yang sangat luas dengan ribuan penerbit, membuat pengunjung harus pintar-pintar mengatur prioritas. Untungnya, di halaman utama gedung pameran, dibangun ruangan besar bertenda. Dari kejauhan terlihat tulisan, Salan (Aula) Yas. Aula Yas ini, semacam ruang katalog yang memuat buku-buku terpopuler dan terpilih tahun ini.

Foto: Afifah Ahmad

Foto: Afifah Ahmad

Pengaturan tempatnya pun sudah berdasarkan tema, dari filsafat, agama, sosial, politik, sastra, juga anak. Bila tahun-tahun sebelumnya, saya sering merasa kelelahan sebelum sempat mendapat buku yang dicari. Sekarang, dengan adanya ruangan katalog seperti ini, pengunjung sangat terbantu. Karena buku yang saya cari genre anak-anak, saya langsung melangkah ke bagian anak.

Rasanya seperti gayung bersambut. Buku-buku yang kebetulan saya cari, hampir tersaji semua di depan mata. Buku-buku mengenal Tuhan untuk anak-anak dengan ilustrasi yang sangat menarik.

Foto: Afifah Ahmad

Foto: Afifah Ahmad

Akhir-akhir ini, putra saya sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan filosofis. Mulai dari “Kenapa Tuhan menciptakan manusia cacat?” “Kok Allah membuatku laki-laki, bukan perempuan?” “Mengapa harus ada gunung meletus dan gempa? Kan kasian banyak orang mati” “Kemana kita kalau sudah mati?” Dan pertanyaan lainnya. Semua itu, membuat saya kembali berpikir mencari jawaban alternatif yang pas dan bisa diterima anak-anak. Dan buku dengan ilustrasi bagus, akan lebih cepat membantu memberikan pemahaman pada anak.

Tidak hanya saya yang langsung jatuh cinta, putra saya pun semangat sekali minta dibelikan. Petugas dengan ramah menghampiri kami. Ia menjelaskan, stand ini tidak melayani pembelian. Kami harus mengunjungi stand penerbitnya langsung, di bagian anak-anak. Stand buku anak sendiri tidak kecil. Ada puluhan penerbit yang khusus menerbitkan buku-buku anak. Berkelililing satu putaran saja, kaki sudah terasa pegal. Sambil melihat-lihat stand buku lainnya, saya terus mengingat judul buku dan nama penerbitnya.

Foto: Afifah Ahmad

Foto: Afifah Ahmad

Begitu tiba di depan stand yang dimaksud, saya langsung dibuat terpana oleh tulisan besar-besar yang terpampang di bagian atas. “Khane-e Khoda Shenashi Kudakan.” Kira-kira terjemahnya, rumah tempat anak-anak mengenal Tuhan. Dari penamaannya saja sudah menarik minat pengunjung. Benar saja, di dalam ruangan pengunjung tak henti terus berdatangan. Saya sendiri cukup terpana melihat ada hampir 100 buku anak yang bertema khusus ketuhanan. Lini penerbit anak ini memang sangat fokus.

Foto: Afifah Ahmad

Foto: Afifah Ahmad

Sebelum kalap melihat buku-buku bagus itu, saya segera menyeleksi beberapa yang memang saya perlukan. Ada buku seri mengenal Tuhan bilingual (Farsi dan Inggris) yang cukup menarik. Bukunya tipis tapi full color dengan gaya penuturan yang menyenangkan. Asyiknya lagi, buku-buku ini juga mengajarkan anak untuk memahami agama secara inklusif. Misalnya pada seri Speak with God, anak-anak diajak untuk safar imajiner ke berbagai negara. “Kalau kamu pergi ke Jerman. Di sana, kamu juga akan melihat anak kecil yang berdoa dan memanggil Tuhan dengan bahasa Jerman” Dengan begitu, anak-anak bisa belajar, bahwa Tuhan itu juga milik semua orang di seluruh dunia.

Ada buku lain juga yang sangat menarik minat saya, judulnya: Khoda Ci, Kie, Ku? (Tuhan itu, Apa, Siapa, Dimana?). Ternyata, saat mengantri di kasir, saya perhatikan rata-rata pengunjung membeli buku ini. Ukuran bukunya memang besar dengan sampul mewah. Tapi, daya tarik buku sebenarnya ada pada isi. Buku ini memuat 20 pertanyaan menarik tentang Tuhan dalam bahasa syair yang berirama, sehingga lebih melekat di hati anak. Di halaman samping juga diberikan penjelasan dengan perumpamaan yang mudah dimengerti anak.

Foto: Afifah Ahmad

Foto: Afifah Ahmad

Misalnya, untuk menjelaskan bahwa Tuhan itu ada di semua tempat, penulis berilustrasi: “Seandainya oksigen itu hanya ada di rumah, kita harus selalu di rumah dong. Kalau kita keluar rumah, sudah barang tentu kita gak bisa bernafas. Untunglah, oksigen itu ada di rumah dan ada di semua tempat. Begitu juga Tuhan itu ada di semua tempat”

Rasanya saya tidak ingin beranjak keluar berada diantara buku-buku anak yang bagus dengan harga yang masih terjangkau. Benar-benar surga buku anak. Di sini, beberapa buku genre khusus memang masih disubsidi oleh pemerintah, seperti harga buku pelajaran dan buku anak Islam. Sehingga penerbit bisa membayar tinggi penulis tapi harga jual buku tetap terjangkau. Semoga ini menginspirasi dunia penerbitan di tanah air. Mengingat betapa pentingnya menanamkan nilai-nilai ketauhidan sedini mungkin. Terlebih sekarang ini, ketika kerusakan morak dan akhlak kian merajalela di depan mata kita. (Afifah Ahmad/LiputanIslam.com)

*Penulis adalah travel-writer, pernah menerbitkan buku berjudul “The Road to Persia”, tinggal di Teheran

 

—–

Redaksi menerima tulisan traveling dari luar Indonesia, silahkan kontak redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL