Jalan-jalan sore

Jalan-jalan sore, foto: Animalscientist

Oleh: Muchamad Muchlas

Australia Utara atau Northern Territory adalah salah satu gerbang masuknya Islam di kawasan Australia. Dan peduduk Indonesia, memiliki peran yang sangat besar dalam penyebaran Islam di Australia, terbukti dari hubungan penduduk Makassar dengan penduduk suku Aborigin sebelum datangnya kaum Eropa. Para pelaut dari Makasar dan Bugis mengunjungi pantai Utara setiap tahunnya sejak tahun 1720-an sampai 1906. Artinya, sejak abad 17 M, Islam telah masuk ke Autralia yang berasal dari aktivitas pedagang-pedagang Makasar asal Indonesia di pantai utara Australia.

Menurut informasi dari pihak kedutaan Indonesia di Darwin, kita masih bisa menemukan nama jalan di Darwin yang menggunakan bahasa Makasar. Selain itu, di Australia Utara terdapat lukisan gua Aborigin yang menggambarkan kapal tradisional Makasar atau ‘Prau’. Sejumlah artefak Makassar juga ditemukan di pemukiman Aborigin di pantai barat dan utara Australia.

Pesta rakyat di Katherine, foto: Animalscientist

Pesta rakyat di Katherine, foto: Animalscientist

Australia utara memiliki kota-kota sebagai pusat pemerintahannya, dan saya pernah mengunjungi Darwin, Kethrine dan Alice Spring. Darwin merupakan salah satu kota yang masih memiliki komunitas Muslim yang besar, yang disebut Islamic Society of Darwin ( ISD) yaitu sebuah organisasi non-profit yang aktifitasnya untuk mewadahi para muslim di Darwin untuk kegiatan-kegiatan ibadah seperti sholat jumat, tempat belajar mengaji (TPQ), perayaan hari besar Islam dll. Pada sensus tahun 2006 terdapat lebih dari 340.000 Muslim di Australia, 128.904 di antaranya lahir di Australia dan sisanya lahir di luar negeri. Selain imigran dari Lebanon dan Turki, negara-negara asal imigran lainnya adalah Afghanistan, Pakistan, Bangladesh, Irak, dan Indonesia.

Meskipun minoritas, kaum Muslimin tidak mengalami diskriminasi di Australia Utara, karena penduduk setempat sudah mengenal dan menerima Muslim sebagai budaya baru di Australia Utara. Salah satu pengalaman saya mengenal muslim di Australia lebih dekat, yaitu pada saat saya mendapat pengalaman mengikuti workshop pengendalian hama peternakan di Katherine, Australia yang diadakan oleh pemerintah dan Charles Darwin University. Saya sangat beruntung karena diikutsertakan dalam program tersebut.

Silahturahiim ke rumah Mr Ali, foto: Animalscientist

Silahturahiim ke rumah Mr Ali, foto: Animalscientist

Malam hari sebelum keberangakatan, saya diinformasikan akan bertemy dengan Ms Margaret, seorang mantan bidan yang saat ini sudah pensiun. Mrs. Margaret adalah seorang wanita yang sangat-sangat baik, namun sayangnya beliau tidak mempunyai keluarga atau anak. Keadaan Mrs Margaret adalah sebuah efek dari budaya masyarakat Australia dan negara-negara maju lainnya yang memilih untuk hidup tanpa sebuah pernikahan, No Husband and No Kids. Mrs Margaret menawarkan menginap di rumahnya selama 3 hari untuk mengajak jalan-jalan dan mengenal kebudayaan Australia dari dekat. Saya dan rekan saya, Teh Sofi, dianggap seperti saudaranya sendiri.

Kami diajak untuk membeli pakaian dan alat-alat mandi serta jalan-jalan keliling kota Katherine. Ketika kami berbelanja secara tidak sengaja saya melihat ada keluarga Muslim sepasang suami istri dan 1 anak laki-lakinya juga ikut belanja. Mrs. Margaret mengajak kami menghampiri dan menyapa mereka, dan Mr. Ali, demikian nama sang Ayah. Ia mengundang kami untuk berkunjung ke rumahnya.

Silahturahiim ke rumah Mr Ali, foto: Animalscientist

Silahturahiim ke rumah Mr Ali, foto: Animalscientist

Keesokan harinya, kami berangkat kerumah Mr. Ali bersama Colege, sahabat karib dari Mrs Margaret. College adalah wanita asli Malaysia yang menikah dengan penduduk Australia yang sekarang sudah menjadi permanet resident di Australia. College ini adalah orang yang bertipe pekerja keras, setiap pagi sampai sore dia bekerja di kantin sekolah, dan setiap sabtu dan minggu dia bekerja di Gereja katherine tanpa hari libur. Dari kecil College dididik sebagai pribadi pekerja keras. Saya sangat cocok mengobrol dengan College, selain karena masih serumpun, Bahasa Inggris yang ia gunakan juga mudah dipahami.

Di rumah Mr. Ali, meraka sangat bersemangat menyambut kami, karena jarang sekali terdapat tamu bersilahturahmi datang ke rumahnya. Sayang, Mrs. Ali tidak dapat berbahasa Inggris, ia hanya bisa berbahasa Arab sehingga lebih banyak diam dan mendengarkan. Ia adalah seorang wanita asal Maroko, mereka berkenalan via internet. Dulunya, ia bekerja sebagai perias dan memiliki salon. Mr. Ali menuturkan, ia juga ingin membuka salon untuk istrinya. Mendengar hal itu, College tertarik menjadi pelanggan pertama serta mau mepromosikan ke teman-temannya.

Air Terjun di Katherine

Air Terjun di Katherine

Mr. Ali dulunya adalah seorang dosen di Suriah, namun karena terjadi perang, ia mencari suaka di Australia. Karena Bahasa Inggrisnya masih kurang, Mr. Ali saat ini hanya diperbolehkan bekerja sebagai sopir taksi di Katherine. Ia bercerita tentang perjuangannya menuju Australia, ditahan pihak imigrasi untuk diinterograsi. Pertemuan yang singkat itu membawa saya menikmati kehangatan hubungan Muslim Australia terhadap penduduk asli Australia.

Islam adalah ajaran yang mengajarkan kepada kebaikan, sebagai Muslim yang baik kita wajib menunjukkan kelembutan dari Islam. Islam bukan teroris seperti yang tergambarkan selama ini, Islam tidak akan ditakuti jika menunjukkan akhlak dari seorang muslim sejati seperti ajaran Rasulullah. ISIS dan organisasi yang mengatasnamakan Islam lainnya yang menggunakan kekerasan atasnama jihad, bukanlah wajah islam sesungguhnya.

Sebuah ayat yang di turunkan Allah, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Sesungguhnya orang mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al-Hujuraat [49]:13).

Dari ayat tersebut ajaran Islam tentang kasih sayang telah lama di kumandangkannya dengan sempurna dan indah. Layaknya yang ditunjukkan Ali merantau dari negerinya yang jauh, datang ke sebuah negara non-Muslim, menunjukan akhlak Muslim yang baik dan dapat hidup harmonis di Australia meskipun menjadi minoritas disana. Selama 3 jam kami mengobrol tertawa dan menceritakan pengalaman masing-masing. Ia menyuguhi kami dengan sebuah hidangan makanan asli Maroko yang lezat, dengan tambahan hidangan cemilan kue dan kurma menambah manisnya perjalanan saya di Australia. (LiputanIslam.com)

Tulisan ini disunting dari blog pribadi penulis, Animalscientist.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL