menara masjid amr bin ash (foto:masyaqien)

menara masjid amr bin ash (foto:masyaqien)

Negeri Seribu Menara, itulah salah satu julukan negara Mesir. Disebut demikian lantaran Mesir memang mempunyai banyak masjid dengan menaranya. Hal ini terbukti ke manapun kita berpergian di Mesir, kita tak susah menemukan masjid di setiap sudut kota dan jalanan. Kita juga tak usah risau apakah kita sudah memasuki waktu salat atau belum, karena suara azan akan selalu terdengar sayup-sayup merdu di seluruh penjuru negeri ini.

Mesir memang negara Islam yang kaya akan peradaban dan budaya. Baik itu peradaban Islam atau non-Islam. Jika kita ingin mempelajari atau menapaki peradaban Islam di Mesir, kita tak akan pernah bisa luput dari peninggalan berbagai dinasti dan kerajaan Islam yang paling awet dan masih ada hingga saat ini; tak lain dan tak bukan, masjid.

Perkenankan saya mengajak Anda menyisiri 3 masjid tua dan penting di Mesir dalam catatan sejarah Islam.

Masjid Amr bin Ash

(foto:mas yaqien)

bagian dalam masjid amr bin ash (foto:mas yaqien)

Untuk bisa ke masjid tertua di benua Afrika ini, kita harus naik bus yang menuju daerah Fustath atau Gami’ Amr. Masjid Amr bin Ash berada pas di samping terminal Fustath. Bisa pula kita naik metro dengan tujuan stasiun Marigirgis, kemudian jalan sekitar 200 M. Dengan tak lebih dari 5 L.E (Pound Mesir) atau sekitar Rp. 7500, kita sudah bisa menginjakkan kaki di masjid yang dibangun oleh Sahabat Amr bin Ash pada tahun 21 H ini.

Saat berada di depan gerbang masjid, kita akan melihat sebuah masjid dengan arsitektur ala Yunani. Pada mulanya, Amr bin Ash membangun masjid tersebut dengan ukuran sekitar panjang 25 meter dan lebar 15 meter. Berbagai perbaikan dilakukan mulai dari Dinasti Umayyah, Abasiyyah, Fathimiyyah, Ayyubiyyah, hingga Ustmaniyyah. Tercatat pada tahun 53 H/672M, Maslamah bin Mukhallad Al-Anshari memperluas masjid setelah masyarakat mengadu lantaran masjid tak mampu menampung para jamaah. Dan kala itu pula, Muawiyyah bin Abi Sufyan memerintahkan untuk membangun menara di masjid.

Perluasan kedua terjadi pada pemerintahan Gubernur Mesir Abdul Aziz bin Marwan pada tahun 79 H/698 M di bagian barat masjid. Pada pemerintahan dinasti Abasiyyah, Khalifah Harun Ar-Rasyid memerintahkan Musa bin Isa untuk memperluas kembali area masjid. Perluasan dan renovasi masjid kerap kali terulang. Panglima Salahuddin Al-Ayubi juga turut serta dalam perluasan masjid pada tahun 568 H/1172M.

foto:mas yaqien

tempat wudhu di masjid amr bin ash (foto:mas yaqien)

Salah satu hal yang menarik di masjid itu, area tengah masjid yang tak beratap dan terdapat tempat wudhu di tengah-tengah masjid. Lampu-lampu yang menerangi masjid cukup unik dan terkesan kuno. Hamparan karpet merah di setiap sisi masjid menambah kenyamanan kita untuk beribadah dan sekedar melepas letih. Keluar dari masjid, kita juga bisa berbelanja pernak-pernik Mesir untuk oleh-oleh dengan harga yang mudah dijangkau.

Masjid Amr bin Ash termasuk salah satu masjid yang diburu oleh wisatawan asing baik Muslim atau non Muslim. Lebih-lebih saat bulan Ramadan, masjid Amr bin Ash adalah masjid favorit pilihan para jamaah, apalagi tepat pada malam 27 Ramadan masjid Amr bin Ash biasanya menutup akhir bulan Ramadan dengan Khatamil Quran dengan salat dan diimami oleh Syekh Muhammad Jibril yang masyhur dengan lantunan ayat sucinya. Pada malam 27 Ramadan itulah, para jamaah bejibun hingga melebar sampai dalam terminal Fustath.

Masjid Ahmad Ibn Thulun

masjid ahmad ibn tulun by masyaqien

masjid ahmad ibn thulun (foto:masyaqien)

Kini mari kita kunjungi Masjid Ahmad Ibn Thulun. Masjid ini dibangun oleh Ahmad bin Thulun pada 876-879 M, dan merupakan masjid terluas di Kairo yang berukuran sekitar 2,6 Hektar. Masjid Ahmad Ibn Thulun terletak 2 kilometer dari Fustath. Masjid yang bergaya arsitektural Samarra-Irak ini masih terawat sampai saat ini. Namun sudah tidak dipakai pada acara resmi dan kenegaraan seperti masa dinasti Thulun berkuasa di Mesir.

Pelataran tengah masjid terbuka dan setiap sisi masjid dihiasi oleh lampu dan kayu khas. Pada mulanya tempat wudhu di bangun tepat di tengah masjid dengan bangunan pancuran air, kemudian dialihkan di sisi kanan masjid.

Minggu lalu saya berkunjung ke masjid ini. Setelah turun di terminal Sayedah Aisyah, saya jalan dengan jarak yang lumayan jauh untuk bisa menikmati bangunan Islam kuno ini. Atau bisa juga Anda naik bus jurusan Sayedah Zaenab, lalu jalan kaki sebentar, tak sejauh yang saya tempuh.

Saat saya berkunjung ke sana, masjid terlihat sepi dan lengang akan jamaah. Hanya delapan orang yang turut salat berjamaah Asar kala itu. Selepas salat jamaah, masjid makin sepi dan tak berpenghuni. Masjid ini merupakan masjid yang paling awet dan kental bangunan kunonya di antara masjid-masjid bersejarah di Mesir.

Masjid Al-Azhar

pelataran masjid al-azhar (foto:mas yaqien)

pelataran masjid al-azhar (foto:mas yaqien)

Siapa tak pernah dengar nama Al-Azhar? Masjid Al-Azhar adalah masjid idaman seluruh pencari ilmu dari berbagai dunia. Di masjid inilah beragam disiplin ilmu agama dikaji, mulai dari tingkat dasar, menengah, hingga tinggi.

Masjid Al-Azhar dibangun oleh panglima Jauhar As-siqilli atas perintah Khalifah Muiz Lidinillah dari dinasti Fatimiyyah. Nama Al-Azhar dinisbatkan kepada nama putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra. Meski pada awalnya masjid ini digunakan untuk menyebarkan paham Syiah Ismailiyah di Mesir, tapi masyarakat Mesir tidak begitu mudah beralih ke paham Syiah. Pada masa Shalahuddin Al-Ayubi –dinasti Ayubiyah-, Masjid Al-Azhar dijadikan corong dan benteng Ahlusunnah wal Jamaah yang mengikuti pemikiran Imam Abul Hasan Al-Asyary dan Imam Abu Manshur Al-Maturidy. Tak hanya itu, Shalahuddin Al-Ayubi juga menggalakkan ilmu fikih 4 mazhab dengan mendirikan halakah-halakah ilmiyah dalam bidang fikih. Dan pada waktu itulah, Al-Azhar mulai menjadi universitas Islam yang mengkaji berbagai ilmu Islam hingga saat ini.

Dekorasi masjid ini sebagian besarnya meniru masjid Ibnu Thulun. Sedangkan model ornamentasi dan batu batanya mengikuti gaya Mesopotamia yang dibawa oleh Ibnu Thulun. Pelataran masjid terbuka dan luas seperti Masjidil Haram. Di setiap sisi masjid terdapat ruwaq-ruwaq -bilik- untuk majelis ilmu. Tiap harinya masjid ini tak pernah sepi lantaran para pecinta ilmu terus berdatangan dan meramaikan halaqah-halaqah ilmiyah yang ada.

universitas al-azhar (foto:mas yaqien)

universitas al-azhar (foto:mas yaqien)

Bahkan para turis asing sering kita jumpai sedang mengunjungi masjid hingga naik ke menara masjid takjub dengan universitas tertua dan terbesar yang dimiliki Islam ini. Untuk bisa berkunjung ke Masjid Al-Azhar sangatlah mudah. Anda bisa naik bus dengan jurusan terminal Darrasah dengan mengeluarkan uang receh 1 L.E (Rp. 1500), turun di terminal Darrasah kemudian jalan menuju Husein Square. Dari arah manapun kita di kota Kairo, kita tak kesulitan mencari ketiga masjid itu, asalkan kita tahu di terminal mana kita harus turun, sesuai petunjuk saya di atas. Selamat menapaki masjid-masjid bersejarah di Negeri Seribu Menara. (Mas Yaqien/LiputanIslam.com)

*penulis adalah Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo, pemilik blog masyaqien.blogspot.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL