pelataran masjid Sayidina Husein

Pelataran masjid Sayidina Husein

Menjelajahi Mesir, negeri yang memiliki peradaban tinggi dan kuno— yang terkenal dengan julukan ‘Negeri Seribu Menara’, dan ‘Negeri Para Nabi’, nyaris tidak ada habisnya. Tentunya telah banyak diketahui bahwa Nabi Musa dan Nabi Harun berjuang melawan Firaun di negeri Mesir. Juga Nabi Yusuf yang melewati hitam-putih, pahit-manis kehidupan yang akhirnya menjadi pejabat tertinggi di pemerintahan Mesir. Makam Nabi Saleh berada di perbukitan Sinai. Nabi Yaqub, Nabi Ibrahim, Nabi Isa juga pernah menjejakkan kaki pula di negeri ini. Oleh karenanya tak ayal, negeri ini dijuluki ‘Negeri Para Nabi’. Dalam kesempatan ini, saya akan membawa Anda bersafari (berziarah) ke makam dua cucu Nabi Saw yang ada di negeri para Nabi ini.

makam Sayidina Husen 1

Makam Sayidina Husein

Dari asrama Mahasiswa Asing Al-Azhar, tak butuh waktu lama untuk sampai di makam Sayidina Husein bin Ali bin Abi Thalib. Saya bisa naik bus atau angkutan umum lainnya semacam bemo dan turun di Rumah Sakit Husein atau di terminal Darrasah. Kebetulan asrama dan makam Sayidina Husein tidak jauh, tak sampai 10 menit saya sudah sampai di pelataran atau bundaran Husein, masyarakat Mesir menyebutnya Maedan Husein/Husein Square. Di pelataran masjid dan makam Husein ini, banyak kita temukan pedagang kaki lima yang menjual segala macam makanan, dan pernak-pernik Mesir. Di samping masjid juga ada barisan kafe yang biasanya dijadikan tongkrongan para turis asing. Kawasan Husein Square tak pernah sepi lantaran dalam kawasan ini ada daerah yang benama Khan Khalili, tempat penjualan berbagai cindera mata Mesir, dan pastinya saat itu saya melihat bermacam turis dari belahan dunia.

Masjid Sayidna Husein

Masjid Sayidna Husein

Masjid Husein berbentuk lebar dan tak seberapa panjang. Di samping mihrab dan mimbar terdapat makam kepala Sayidina Husein. Masjid ini merupakan masjid pemerintah dan dipakai untuk acara resmi kenegaraan hingga saat ini. Tepat di samping makam Sayidina Husein, terdapat museum yang menyimpan rambut, pedang, sandal, dan jubah Nabi Muhammad Saw. Namun sayang hanya orang khusus yang mendapatkan izin dari pemerintah yang bisa masuk dan melihat peninggalan kakek Sayidina Husein tersebut. Makam Sayidina Husein tak pernah kosong dari peziarah, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah. Prof. Dr. Syekh Ali Jumah, mantan Mufti Mesir menfatwakan boleh hukumnya salat di masjid yang terdapat sebuah makam di dalamnya, malah beliau berpendapat disunnahkan. Ulama Al-Azhar banyak yang rutin berziarah ke makam Sayidina Husein, apalagi setiap hari Kamis. Seorang da’i fenomenal dan kharismatik asal Yaman, Habib Umar bin Hafiz dan Habib Ali Jufri juga pernah meluangkan waktu menyambangi makam cucu Nabi tatkala beliau berdua berada di Mesir.

Kafe Shisha

Kafe Shisha

Sayidina Husein dilahirkan pada bulan Syaban tahun 4 H, mulanya Sayidina Ali bin Abi Thalib menamainya “Harb”, namun Rasulullah Saw menolak nama itu dan menggantinya dengan “Husein”. Terlahir dari Rahim putri Rasulullah, Sayidah Fatimah Al-Battul, Sayidina Husein tumbuh dalam didikan sang kakek dan menjadi seorang yang tak jauh dari sifat-sifat arif yang dimiliki Rasulullah Saw. Saat terjadi peristiwa Karbala pada tahun 60 H dimana rombongan Sayidina Husein dibantai oleh pasukan Yazid bin Muawiyah, Sayidina Husein pun gugur di medan perang dan kepala beliau dipenggal dan dibawa ke Damaskus yang kala itu menjadi ibu kota khilafah Islam. Sebuah riwayat menyebutkan jasad beliau dikubur di Karbala oleh Sahabat Jabir bin Abdillah. Adapun kepala beliau, menurut Al-Harawi dan Al-Maqrizi, dimakamkan di Kairo, daerah yang sekarang dikenal Husein Square, setelah dibawa dari Asqalan-Palestina yang mana saat itu ditakutkan makam kepala beliau di sana dihancurkan oleh pasukan Salib.

Makam Sayidah Zaenab

Makam Sayidah Zaenab

Dari arah mana saja dari Kairo, kita cukup naik bus jurusan Darrasah dan turun terminal, lalu berjalan kaki menuju Husein Square yang berjarak kurang dari 1 km dari terminal. Masjid Imam Husein terletak tepat di depan Masjid Al-Azhar. Usai berziarah di Maedan Husein, saya melanjutkan perjalanan untuk berziarah ke makam Sayidah Zaenab binti Ali bin Abi Thalib, yang juga merupakan adik dari Sayidina Husein. Dari makam Sayidina Husein kita naik angkutan umum ke arah Attaba, dari Attaba kita naik bus menuju ke alun-alun Sayidah Zaenab. Lantaran saya ingin blusukan dan melihat kehidupan masyarakat Mesir secara langsung, saya memilih arah berlawanan dengan menuju ke arah  daerah Sayidah Aisyah, lalu berjalan kaki  cukup lama lantaran jarak yang panjang untuk sampai di makam Sayidah Zaenab. Sepanjang perjalanan, saya melewati beberapa warung makanan yang menyediakan roti, dan kacang yang diolah menjadi semacam saus supaya bisa dimakan bersama roti. Di Mesir, jarang saya temukan rumah makan seperti di Indonesia yang siap menyajikan nasi sebagai menu inti. Kebanyakan orang Arab, khususnya Mesir, lebih memilih roti yang terbuat dari gandum ketimbang nasi, karena menurut mereka roti itu lebih awet mengeyangkan dan asupan karbohidratnya lebih banyak. Ada juga warung yang menawarkan aneka jus buah, mulai dari pisang, jeruk, semangka, mangga, dan aneka buah lainnya, tapi saya tidak merasakan haus dahaga sehingga hati saya tidak tergerak untuk membelinya. Sebuah kafe yang lengkap dengan Shisha juga kerap saya temukan selama perjalanan menuju makam Sayidah Zaenab. Shisha adalah sejenis alat yang digunakan untuk menghisap tembakau, dengan bentuk seperti selang.

Masjid Sayidah Zaenab

Masjid Sayidah Zaenab

Sesampai di alun-alun Sayidah Zaenab, dengan jelas saya lihat bangunan masjid yang besar. Memasuki masjid, saya menemukan tujuh serambi depan yang sejajar dengan mihrab dengan bangunan persegi empat yang dinaungi kubah tepat di tengah masjid. Masjid ini kerap direnovasi oleh pemerintahan Mesir karena masyarakat Mesir sangat mencintai ahlu bait Nabi. Makam Sayidah Zaenab terletak di sisi kiri masjid. Sayidah Zaenab lahir dari rahim Sayidah Fatimah dua tahun setelah kelahiran Sayidina Husein, yaitu pada tahun 6 H. Sayidah Zaenab juga tumbuh dalam didikan Rasulullah. Dan setelah peristiwa Karbala, Sayidah Zaenab memutuskan untuk menghabiskan waktunya di kota kakeknya, Madinah. Namun karena ditakutkan menggerakkan massa untuk menggulingkan pemerintahan dinasti Bani Umayyah saat itu, akhirnya Sayidah Zaenab dipaksa keluar dari Madinah dan memutuskan tinggal di Mesir. Kedatangan Sayidah Zaenab di Mesir disambut riuh gembira oleh penduduk Mesir. Maslamah bin Makhlad Al-Anshari, gubernur Mesir kala itu, menjamunya dan memberinya tempat tinggal. Dan setahun kemudian pada tahun 62 H, Sayidah Zaenab menghembuskan nafas terakhirnya.

Waktu berjalan begitu cepat, dan saya harus kembali ke asrama. Semoga Anda para pembaca, bisa berziarah ke makam keluarga Nabi di negeri ini, suatu hari nanti. (Mas Yaqien/LiputanIslam.com)

*penulis adalah Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo, pemilik blog masyaqien.blogspot.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL