brunei darussalamOleh: Selamet Nur Anom

Sebelum saya menceritakan kisah pribadi yang saya alami di Brunei, terlebih dahulu saya membawa pembaca sekalian untuk sedikit tahu tentang negara Brunei Darussalam. Luas  negara Brunei Darussalam 5.765 km persegi, dengan penduduk sekitar 300.000 Angka ini, sebanding dengan jumlah warga Kecamatan Bengkong di Batam, atau jumlah penduduk Kabupaten Pandeglang. Maka dengan pendapatan perkapita 57 ribu dolar Amerika Serikat, tak heran jika Brunei menduduki peringkat  ketujuh di dunia dalam pendapatan perkapita.

Kerajaan Brunei yang dipimpin Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izaddin Waddaulah, yang memperhatikan semua sisi kehidupan rakyatnya, terutama dalam sisi kehidupan beragama. Di Brunei, papan-papan petunjuk menggunakan tulisan Arab Melayu, disamping huruf Latin.

Penggunaan Arab Melayu dan bacaan Basmalah di jalan raya bukan hanya sebagai simbol belaka. Ternyata, kerajaan mengawal ketat apa-apa yang berlaku bagi kehidupan beragama rakyat Brunei. Hal-hal yang dianggap merusak aqidah mendapat tindakan tegas dari Kerajaan. Hal-hal tentang mistik dan syirik pun tidak diperbolehkan, dan simbol-simbol agama selain Islam pun tidak boleh dipertontonkan secara umum. Benda-benda yang dianggap menggambarkan sirik kepada Allah, misalnya gambar setan, dilarang keras beredar.

Foto: UPI

Foto: UPI

Masyarakat Brunei juga sangat tertib dan taat aturan, sehingga, jangan berharap bisa menemukan polisi/ aparat keamanan di jalan raya, karena pelanggaran nyaris tidak pernah terjadi di sini.

Kerajaan juga berfungsi sebagai welfare state. Artinya, kesejahteraan rakyat ditanggung oleh negara. Jadi bidang kesehatan dan pendidikan ditanggung sepenuhnya oleh kerajaan. Jika sakit, bahkan hingga transplantasi organ di Australia pun ditanggung oleh kerajaan.

Untuk bersekolah pun ditanggung pemerintah. Bahkan sampai ke tingkat doktor atau Ph.D sekalipun. Bukan hanya itu, pelajar pun diberi uang saku 350 dolar setiap bulannya atau sebesar Rp 2.327.500 (dengan nilai kurs Rp 6.650).

Karena semua ditanggung kerajaan, maka tiket masuk tempat rekreasi tidak berlaku saat kerajaan membuka taman hiburan semacam Ancol atau Dunia Fantasi di Jakarta. Toh semua telah terbiasa ditanggung pemerintah. Di Brunei, hanya tempat parkir yang harus dibayar masyarakat.

Inilah kisahku di Brunei Darussalam

Pesawat Royal Brunei Airlines dari Bandara Soekarno Hatta akhirnya mendarat mulus di Bandara Internasional Brunei Darussalam. Perjalanan malam hari selama satu setengah jam ini begitu cepat berlalu. Bandara Internasional Brunei Darussalam tidaklah begitu besar, namun rasa nyaman sudah dapat saya rasakan ketika keluar dari pesawat. Bandara cukup bersih dan pelayanan pengambilan barang begitu cepat. Terlebih lagi urusan imigrasi juga tidak berbelit-belit.

Dua orang panitia acara PEDAPIS (Pertandingan Pidato Pendidikan Islam Serantau) menjemput saya di bandara dengan membawa spanduk bertuliskan PEDAPIS. “Selamat datang di Brunei, mari kita pergi ke parkiran” katanya. Pandangan mata saya langsung tertuju di parkiran ketika melihat mobil-mobil  mewah di depan saya.

Foto: UPI

Foto: UPI

“Di sini mobil mewah sudah biasa,” kata salah seorang panitia yang bernama Bang Razak yang sepertinya tahu membaca pikiran saya. Masyarakat Brunei suka dengan mobil besar dan mewah. Harga mobil di sini relatif murah bagi orang Brunei karena mereka tidak perlu membayar pajak. Tidaklah mengherankan bahwa negara dengan penduduk kurang lebih 300 ribu orang ini merupakan salah satu negara paling kaya di dunia.

Kira-kira perlu waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke tempat penginapan yaitu di asrama putra KUPU SB (Kolej Universiti Perguruan Ugama Seri Begawan). Jalanan begitu besar dan sangat bagus. Rasanya, semua jalan raya di Brunei terasa bagai jalan tol karena nyaris tidak ditemukan macet, dan gratis. Pohon-pohon rindang ada di antara jalan tersebut.  Oleh karena itu, suhu udara musim panas tidak begitu saya rasakan.

Akhirnya saya tiba di asrama putera. Saya menginap di salah satu kamar yang memang disediakan untuk tamu.

Malam harinya saya diajak jalan-jalan keliling sekalian mampir ke sebuah tempat perbelanjaan untuk membeli kue. Kota Brunei begitu tenang di malam hari. Tidak nampak kesibukan berarti di kota Bandar Seri Begawan. Namun demikian lampu-lampu yang menerangi kota tersebut khususnya masjid yang berkubah emas membuat suasana begitu berbeda. Ada rasa kedamaian di hati ini.

Pada hari berikutnya saya sempatkan untuk berkunjung ke UBD (Universitas Brunei Darussalam), sebuah universitas terbesar di Brunei. Saya juga berkunjung ke ITB (Institut Teknologi Brunei). Setelah selesai mengunjungi universitas, saya menyempatkan diri berfoto di Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien. Masjid ini merupakan ikon terbesar dari negara Brunei. Melihat masjid dengan arstikek yang sangat indah, saya merasakan betapa tinggi nilai seni yang terkandung dalam bangunan tersebut.

Foto: UPI

Foto: UPI

Suasana keislaman di sana sangat terasa. Di Brunei ada peraturan bahwa bangunan gedung tidak boleh lebih tinggi dari masjid. Brunei juga menerapkan hukum syariah dalam hal penindakan pidana (hudud, jinayah, qishas, dan sebagainya).

Saya sebagai seorang Muslim tentu bangga melihat pencapaian Brunei. Melihat kondisi ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Brunei telah menunjukkan kepada dunia, bahwa sebuah negara yang berlandaskan pada hukum Islam konservatif, ternyata mampu menjadikan negara itu sebagai salah satu negara maju yang rakyatnya hidup sejahtera.

Memang, penerapan hukum syariah ini tentu tidaklah semudah mengesahkan Undang-Undang, yang setelah disahkan bisa langsung dijadikan sebagai landasan hukum. Dalam menerapkan hukum syariah ini, banyak kendala dan pertentangan yang harus dihadapi oleh pemerintah Brunei. (LiputanIslam.com)

Tulisan ini disunting dari halaman resmi Universitas Pendidikan Indonesia

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL