Aqueduct of Segovia (foto: wikipedia)

Aqueduct of Segovia (foto: wikipedia)

Oleh: Ema Rachman*

Ketika sedang merapihkan rumah, tiba-tiba mata saya tertuju pada tumpukan album foto. Saya perlahan membukanya, dan menemukan beberapa foto dari kota Segovia, Spanyol. Saya datang ke kota itu untuk menghadiri upacara pernikahan teman seorang Perancis yang mendapatkan istri yang berasal dari Segovia. Tak ayal, kenangan tentang kota yang cantik dan penduduk kotanya yang ramah itu kembali muncul.

Untuk menuju Segovia, saya harus ke kota besar terdekatnya dulu yaitu Madrid. Dari sana, saya naik kereta sekitar dua jam untuk sampai ke Segovia. Arsitektur kota yang kuno dan kokoh menyambut saya. Simbol kota Segovia adalah Aqueduct of Segovia (saluran air Segovia). Dalam bahasa Spanyol disebut El Puente. Aqueduct ini dibangun pada masa Kaisar Romawi Trajan (memerintah tahun 98-117 M). Saluran ini menyalurkan air 10 sepanjang mil (16 km) dari Sungai Frío ke kota Segovia.

 

foto: Ema Rachman

foto: Ema Rachman

Aqueduct merupakan salah satu mahakarya era Romawi, terbuat dari sekitar 24.000 blok granit berwarna gelap bernama Guadarrama. Bagian yang muncul di atas tanah adalah setinggi 28,5 meter dan terdiri dari beberapa 165 lengkungan selebar 9 meter. Saluran air ini dimasukkan dalam daftar ‘Warisan Dunia’ pada 1985.

Warga kota Segovia hangat dan ramah. Ketika berpapasan dengan mereka, kalimat sapaan selalu terlontar, seperti selamat pagi. Mereka juga sangat religius. Pada dasarnya memang orang-orang Spanyol sama seperti orang Italia, masih religius dan terus menjalankan ritual keagamaan Katolik secara rutin dalam keseharian kehidupan mereka.

spain5

foto: ema rachman

Saat tiba disana , saya berpapasan dengan sekelompok warga sana yang sedang berjalan berbaris dan ada dua anak lelaki yang memakai kostum gereja membawa dupa. Mereka semua berjalan menuju katedral yang sangat terkenal di kota itu. Cuaca bulan September yang segar dan cerah, membuat suasana kota terasa lebih indah.

Terlihat juga banyak café dan restoran, dengan kursi-kursi yang ditaruh di luar sehingga kita bisa di tengah cahaya cerah matahari. Jalanannya bukan dari aspal, melainkan dari bebatuan, menambah eksotisme kota ini. Di tengah kota ada kolam dengan patung dan air mancur. Patung-patung juga bisa kita temui di sisi-sisi jalan yang tertata rapih. Gang-gang kecil diantara bangunan dan perumahan juga terlihat bersih dan rapi. Sungguh saya jatuh cinta pada kota yang indah dan hangat ini.

Saya menginap di hotel kecil yang nyaman. Interior sangat cantik, tipikal Mediterania dengan dominasi kayu-kayu jati tua yang kokoh. Di pagi hari, hotel menyediakan sarapan berupa roti yang agak keras, terbuat dari gandum dan biji-bijian. Kopi yang disajikan adalah kopi khas daerah Mediterania, kopi hitam pekat yang dituang di cangkir kecil dengan gula yang disajikan terpisah.

spain2

foto: ema rachman

Esoknya, saya pun menghadiri acara pernikahan teman saya itu. Upacara dilakukan di Gereja Katedral pada pagi hari. Lalu, para undangan pergi ke restoran dan menyantap makanan yang sudah disediakan. Ada kambing panggang, namanya Segovia’s Lechazo. Dimakan dengan kentang rebus yang telah dibumbui. Ada sayur seperti brokoli, buncis dan tomat, plus salad.

Setelah selesai makan, pengantin dan tamu-tamu keluar restoran, dan mengitari semacam panggung. Sambil berdiri, kamidisuguhi tarian khas Spanyol. Sang penari menggunakan kipas dan baju khas Spanyol. Pengantin pun ikut menari.

Alcazar (foto: www.exploring-castles.com)

Alcazar (foto: www.exploring-castles.com)

Sore harinya, para undangan kembali berkumpul di sebuah café untuk minum kopi dengan kue-kue khas Spanyol juga, seperti cake buah dan coklat. Malam harinya, kami disuguhi makan malam dengan menu yang mirip dengan makan siang. Usai makan malam, ada lagi hiburan. Dan keesokan paginya, kami juga dijamu sarapan. Rupanya, ini kebiasaan khas orang Mediterania, yaitu sangat senang menjamu tamu, apalagi dalam perayaan-perayaan khusus seperti pernikahan.

Saya sempat mengunjungi situs-situs wisata di kota ini, antara lain Kastil Alcazar. Dari namanya, sudah terasa ada pengaruh Islam. Dan memang, asal kata Alcazar adalah bahasa Arab, al qasr (istana). Gaya bangunan kastil ini, sebagaimana juga umumnya bangunan pada awal masa modern Spanyol banyak dipengaruhi oleh Islam (dalam hal ini bangsa muslim Moor yang pernah menguasai Spanyol).

Ah, Segovia. Saya pun menutup album lama itu, lalu melanjutkan merapihkan rumah. (LiputanIslam.com)

—–

Ema Rachman adalah penulis blog emarachman.blogspot.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL